Karhutla Kalimantan: Lansia, ibu menyusui, dan bayi bertahan di tengah asap karhutla saat udara Kalimantan Tengah berstatus ‘bahaya’


Salasiah (kiri), Ilma dan Idham (digendong) harus berjuang bersama di tengah asap karhutla yang makin memburuk di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Sumber gambar, Adan

Keterangan gambar, Salasiah (kiri), Ilma dan Idham (digendong) harus berjuang bersama di tengah asap karhutla yang makin memburuk di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Telah diterbitkan

Waktu membaca: 17 menit

Tiga individu rentan, yang terdiri dari lansia, ibu menyusui dan bayi, di satu rumah, sedang berjuang di tengah bekapan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang sudah mengelilingi kediaman mereka di Kalimantan Tengah. Bagaimana mereka bertahan dan saling menjaga satu sama lain?

Beberapa pekan terakhir, kabut asap karhutla di Kalimantan makin mencekik warganya. Kualitas udara di sebagian wilayah ini telah melampaui ambang “bahaya”, dan mendekati kondisi udara yang dapat dikategorikan beracun.

Kondisi sebagian besar wilayah Kalimantan dalam sepekan terakhir diliputi asap pekat, hingga langit nampak berwarna jingga—meski hari belum sore. Jarak pandang hanya sekitar 100 meter.

Ribuan orang dilaporkan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Hampir sebulan, anak-anak bersekolah dengan mode pembelajaran jarak jauh sampai waktu yang tidak ditentukan.

Pemadaman karhutla pun mendapat tantangan karena operasi bom air dari udara dihentikan sementara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kondisi asap tebal mengganggu jarak pandang bagi operasi penerbangan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *