Sumber gambar, Getty Images
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 5 menit
Dari serangan mematikan pada 1995 hingga norma sosial yang telah mengakar kuat, kisah di balik tempat sampah yang langka di Jepang ternyata jauh lebih rumit daripada yang terlihat.
Habiskan sehari berkeliling Tokyo, dan Anda mungkin akan mendapati diri membawa gelas kopi kosong, bungkus roti lapis telur dari 7-Eleven, serta rasa bingung yang kian bertambah.
Jepang dikenal luas karena menjunjung tinggi kebersihan. Jadi, mengapa hampir tidak ada tempat untuk membuang sampah?
Keluhan ini sudah tidak asing lagi bagi para turis. Fenomena tersebut bahkan melahirkan banyak video di media sosial yang memperlihatkan turis kebingungan menyusuri jalanan yang bersih tanpa menemukan satu pun tempat sampah umum.
Namun, jawabannya jauh lebih kompleks daripada yang tampak pada pandangan pertama.
“Ini merupakan perpaduan yang rumit antara perkembangan sejarah, fenomena ekonomi, peristiwa politik, dan berbagai dampaknya terhadap cara orang memutuskan untuk bertindak,” ujar Eiko Maruko Siniawer, profesor sejarah di Williams College sekaligus penulis buku Waste: Consuming Postwar Japan.
Menurut Siniawer, kelangkaan tempat sampah umum di Jepang tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor.
Fenomena ini merupakan hasil dari perubahan sosial dan budaya yang berlangsung selama puluhan tahun, serta kebiasaan masyarakat yang telah terbentuk dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Jepang tidak selalu menjadi negara yang minim tempat sampah.
Menurut Siniawer, Maret 1995 menjadi titik balik penting dalam budaya pengelolaan sampah di negara tersebut.
Saat itu, anggota sekte Aum Shinrikyō melepaskan gas sarin di tiga jalur Metro Tokyo pada jam sibuk pagi, menewaskan 14 orang dan melukai ribuan lainnya.
Setelah serangan tersebut, pihak berwenang menutup atau menyingkirkan banyak tempat sampah sebagai langkah pencegahan terhadap aksi terorisme.
Serangkaian serangan teroris berikutnya di berbagai belahan dunia, termasuk serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, turut memperkuat kebijakan tersebut dan membuatnya bertahan lebih lama.
Namun, tiga dekade kemudian, alasan keamanan saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa begitu sedikit tempat sampah umum yang kembali dipasang.
Faktor itu juga tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa Jepang tetap menjadi salah satu negara dengan tingkat sampah berserakan yang sangat rendah, meskipun tempat sampah umum sulit ditemukan.
Sumber gambar, Getty Images
Biaya dan pertimbangan praktis juga menjadi bagian dari jawabannya.
Sejak awal 2000-an, sejumlah pemerintah daerah di Jepang secara sengaja mengurangi jumlah tempat sampah di jalanan, kata Aya Yoshida dari National Institute for Environmental Studies (NIES) Jepang.
Kebijakan ini diterapkan untuk mendorong warga membawa pulang sampah mereka sendiri.
“Di Kyoto, misalnya, jumlah tempat sampah di jalanan dikurangi lebih dari separuh sejak 2011. Keputusan itu diambil setelah muncul berbagai persoalan, seperti warga membuang sampah rumah tangga ke dalam tempat sampah umum serta menumpuknya sampah di sekitar lokasi tersebut, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pemeliharaan dan pengelolaannya,” ujar Yoshida.
Dengan kata lain, berkurangnya tempat sampah umum bukan semata-mata terkait keamanan, tetapi juga didorong oleh pertimbangan efisiensi biaya dan pengelolaan.
Banyak pemerintah daerah menilai bahwa mengurangi jumlah tempat sampah di ruang publik dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.
Lalu mengapa tidak lebih banyak sampah berserakan di jalanan?
Yoshida mengingatkan agar tidak serta-merta mengaitkan kebersihan Jepang dengan anggapan bahwa masyarakatnya memiliki rasa kerapian yang unik dibandingkan bangsa lain.
Menurutnya, jalanan yang bersih juga merupakan hasil dari kebijakan yang diterapkan secara konsisten selama bertahun-tahun.
“Selama beberapa dekade, pemerintah daerah telah berinvestasi dalam kampanye antisampah, pendidikan publik, pembersihan jalan, serta berbagai langkah desain lingkungan yang dirancang untuk mencegah orang membuang sampah sembarangan,” ujarnya.
Namun, menurut Yoshida, norma sosial juga memainkan peran penting. Salah satunya adalah konsep meiwaku o kakenai, yaitu gagasan untuk tidak menimbulkan ketidaknyamanan atau merepotkan orang lain.
Kebiasaan sehari-hari masyarakat Jepang turut berpengaruh. Makan sambil berjalan relatif jarang dilakukan, sehingga orang cenderung menghasilkan lebih sedikit sampah ketika berada di luar rumah.
“Kalau memikirkan pola hidup saya sendiri sehari-hari, saya tidak yakin berapa banyak sampah yang sebenarnya dihasilkan selama perjalanan dari rumah ke tempat kerja dan sebaliknya,” kata Siniawer.
“Ada lebih sedikit kesempatan untuk menghasilkan sampah selama bepergian karena makan sambil berjalan atau saat naik kereta bukanlah hal yang lazim di Jepang.”
Namun, pengalaman para turis tentu berbeda. Mereka sering menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling, membeli minuman dan camilan dari toko serba ada, sehingga lebih mungkin mendapati diri mereka membawa tumpukan sampah tanpa mengetahui tempat yang tepat untuk membuangnya.
Akibatnya, pengunjung asing kerap merasa kebingungan ketika mencari tempat sampah umum di jalanan Jepang, sesuatu yang bagi warga setempat sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Sumber gambar, Getty Images
Kurangnya tempat sampah yang mudah ditemukan kerap membuat turis bingung dan frustrasi saat pertama kali berkunjung ke Jepang, kata pemandu wisata yang berbasis di Jepang, Junko Yokoo.
Namun banyak turis akhirnya dapat beradaptasi.
“Pada awalnya, tamu-tamu saya sering mengeluhkan sulitnya menemukan tempat sampah yang tersedia. Tetapi mereka juga menikmati melihat jalanan yang bebas sampah dan kemudian belajar menerima prinsip ‘saat berada di Tokyo, lakukan seperti orang Tokyo’,” ujarnya.
Meski demikian, tempat sampah umum sebenarnya tidak sepenuhnya hilang dari Jepang. Menurut Siniawer, Anda hanya perlu tahu di mana mencarinya.
“Di stasiun kereta masih terdapat tempat sampah, sering kali berupa wadah transparan yang ditempatkan di dekat gerbang tiket sehingga dapat dipantau oleh petugas atau kamera keamanan.”
Bahkan, bulan ini Stasiun Shinjuku di Tokyo mulai menguji coba solusi yang mungkin sangat khas Jepang: robot tempat sampah bergerak yang berkeliling untuk mengumpulkan sampah.
Namun, hingga inovasi semacam itu menjadi hal yang umum, para pengunjung tampaknya harus melakukan apa yang sudah lama dilakukan warga Tokyo, yakni menyimpan sampah mereka terlebih dahulu sampai menemukan tempat yang tepat untuk membuangnya.
Dengan kata lain, jalan-jalan Jepang yang bersih bukan semata-mata hasil dari banyaknya tempat sampah umum, melainkan kombinasi antara kebijakan pemerintah, pertimbangan keamanan dan biaya, serta budaya masyarakat yang menekankan tanggung jawab pribadi dan penghormatan terhadap ruang publik.