Ekonomi: Polemik pembukaan rekening massal habiskan Rp11 triliun APBN – ‘Sangat tidak mendesak saat kondisi fiskal sulit’


Siswa sekolah dasar mengantri untuk melakukan deposit di layanan mobile bank BTN di halaman Sekolah Dasar Merjosari 5 di Malang, Jawa Timur, Indonesia, pada tanggal 3 Maret 2026.

Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Siswa sekolah dasar mengantri untuk melakukan deposit di layanan mobile bank BTN di halaman Sekolah Dasar Merjosari 5 di Malang, Jawa Timur, Indonesia, pada tanggal 3 Maret 2026.

Telah diterbitkan

Waktu membaca: 8 menit

Pembukaan rekening massal bagi masyarakat yang ditaksir menghabiskan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) hingga Rp11 triliun dinilai tidak mendesak, menurut para pengamat.

Alih-alih membuka rekening massal, perbaikan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) lebih penting jika tujuannya ingin penyaluran bantuan sosial lebih efisien dan tepat sasaran.

Di sisi lain, alasan memperluas inklusi keuangan dan literasi keuangan juga tak sejalan dengan data terbaru yang memperlihatkan indeks keduanya telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

“Ini sangat tidak mendesak saat kondisi fiskal sulit,” kata pengamat ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.

Berbagai spekulasi pun muncul karena kebijakan ini ditetapkan seakan secara tergesa-gesa dengan informasi yang serba terbatas. Para pengamat pun menekankan pentingnya transparansi menyeluruh terkait kebijakan ini.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *