Angka kemiskinan Bank Dunia beda dengan BPS, mengapa polemik ini selalu berulang?


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan Indonesia turun menjadi 8,07 persen atau sebanyak 22,93 juta orang pada Maret 2026, berkurang sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025 dengan penurunan tingkat kemiskinan terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan

Keterangan gambar, Seorang ibu menggendong anaknya di dalam rumah di Kampung Pemulung Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (6/8/2026).

Telah diterbitkan

Waktu membaca: 10 menit

Ibarat memutar lagu lama, polemik angka kemiskinan mencuat lagi setelah Bank Dunia mengestimasi tahun ini, 64,2% warga Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan internasional. Angkanya lebih tinggi dari versi Badan Pusat Statistik (BPS). Mengapa perdebatan ini selalu berulang?

Baru-baru ini, BPS buka suara soal beda angka kemiskinan dengan Bank Dunia. Menurut badan statistik, keduanya tak dapat dibandingkan secara langsung. Musababnya, angka tersebut disusun dengan standar dan tujuan yang berbeda.

Bank Dunia menggunakan standar garis kemiskinan internasional US$8,30 per orang/hari (PPP 2021). BPS memakai standar garis kemiskinan BPS atas pengeluaran seseorang dari makanan dan nonmakanan yang dipertahankan sejak 1998. Nilainya terakhir Rp22.308 per orang/hari.

Tapi standar BPS ini sudah usang, kata analis kebijakan. Tak mampu membaca faktor-faktor lain yang membuat orang menjadi miskin, sehingga disebut kurang memberi gambaran utuh tentang kemiskinan di lapangan.

Oleh karena itu, setiap kali Bank Dunia merilis data terbaru tentang kemiskinan selalu ramai di media sosial. Menerbitkan keraguan publik terhadap data BPS yang disebut “jangan sampai kemudian kemiskinan justru menjadi alat politik” untuk klaim keberhasilan pemerintah.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *