Sumber gambar, Getty Images
Seorang penasihat senior Gianni Infantino mengundurkan diri beberapa jam setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menentang rencana presiden FIFA tersebut untuk menjual sebagian kepemilikan hak komersial turnamen-turnamen FIFA kepada investor swasta.
Carlos Cordeiro mengatakan bahwa proposal Infantino adalah “kesepakatan buruk bagi sepak bola” dan akan “menggadaikan masa depan sepak bola”.
Pengunduran diri Cordeiro terjadi setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menerbitkan pernyataan yang mengatakan bahwa mereka “berdiri dalam solidaritas” dengan UEFA dan Concacaf.
AFC menambahkan bahwa rencana Infantino tidak dapat “secara realistis mencapai konsensus dan persatuan luas yang diperlukan untuk melangkah maju”.
“Piala Dunia FIFA adalah puncak sepak bola global dan kekuatannya berasal dari partisipasi semua konfederasi dan negara-negara sepak bola terkemuka di dunia,” demikian pernyataan tersebut.
“Setiap usulan yang berisiko merusak kesatuan dan karakter universal kompetisi harus dipertimbangkan kembali.”
Pernyataan AFC tersebut berarti rencana Infantino kemungkinan besar tidak akan disetujui oleh anggota-anggota FIFA jika diputuskan melalui pemungutan suara.
Infantino mengindikasikan bahwa usulan tersebut membutuhkan suara mayoritas mutlak untuk disahkan.
Artinya 106 dari 211 anggota FIFA perlu memberikan suara mendukung usulan tersebut.
UEFA—badan yang mengelola sepak bola Eropa—memiliki 55 suara. Concacaf, yang mengelola sepak bola di Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia, memiliki 35 suara. Adapun AFC memiliki 46 suara.
Jika semua asosiasi mendukung pendirian konfederasi mereka, itu berarti 136 negara menentang rencana Infantino.
Akan tetapi, Ketua PSSI, Erick Thohir, justru mendukung Infantino.
Menurut Erick Thohir, rencana yang digagas Infantino merupakan peluang bagi negara-negara berkembang untuk memperoleh pendanaan tambahan.
Apa kata AFC?
Dalam pernyataannya, AFC menuduh FIFA lagi-lagi menetapkan “arah tujuan” sebelum berkonsultasi dengan para pemangku kepentingan.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa kegagalan FIFA untuk berkonsultasi dengan anggota-anggotanya mengenai usulan tersebut telah “mengungkap kelemahan mendasar dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan FIFA yang sekarang harus diatasi”.
AFC juga mengkritik FIFA karena membuat “konfederasi, asosiasi anggota, dan bahkan badan pengatur FIFA sendiri, termasuk Dewan FIFA, merasa terpinggirkan.”
Ditambahkan pula: “Piala Dunia FIFA, dan permainan itu sendiri, adalah milik seluruh keluarga sepak bola global.”
“Masa depan mereka harus selalu dibentuk secara kolektif, melalui lembaga-lembaga yang mencerminkan suara semua Konfederasi dan asosiasi anggotanya.”
“AFC menyerukan kepada FIFA untuk segera melakukan peninjauan terhadap kerangka tata kelola dan pengambilan keputusannya guna memastikan bahwa usulan-usulan yang memiliki signifikansi global dikembangkan melalui konsultasi yang tepat, keterlibatan yang bermakna, dan pengawasan yang sesuai oleh badan-badan hukum FIFA.”
Apa yang dikatakan Cordeiro?
Cordeiro telah menjadi penasihat senior FIFA selama empat tahun dan 11 bulan.
Dia mewakili FIFA dalam gugus tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia 2026 dan merupakan mantan bankir investasi di Goldman Sachs.
Cordeiro ditunjuk sebagai penasihat senior untuk strategi dan tata kelola global pada September 2021. Dia merupakan tokoh senior pertama di FIFA yang mengundurkan diri karena rencana tersebut.
Dalam pernyataan panjangnya, Cordeiro mengatakan bahwa ia “dengan tegas” menentang rencana Infantino dan mengatakan bahwa ia “tidak menerima usulan” bahwa FIFA membutuhkan investor luar untuk “membuka nilai yang lebih besar”.
“Usulan tersebut telah menjadi pertanyaan penting bagi masa depan FIFA,” tulisnya.
“Tanggung jawab FIFA bukanlah untuk memaksimalkan keuntungan komersial dengan segala cara. Tanggung jawabnya adalah untuk melindungi dan memperkuat sepak bola untuk generasi mendatang.”
“Ketika prinsip-prinsip itu berkonflik, sepak bola harus diutamakan.”
Sumber gambar, Getty Images
Cordeiro mengatakan bahwa dia tidak terlibat dalam proposal ini.
“Yang paling mengkhawatirkan adalah tidak adanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar,” tambahnya. “Mengapa kesepakatan ini? Mengapa sekarang? Pengawasan apa yang ada? Siapa yang diuntungkan?” tulisnya.
“Pertanyaan-pertanyaan ini sebagian besar masih belum terjawab, namun asosiasi anggota diminta untuk membuat keputusan yang sangat penting dalam waktu kurang dari 50 hari atau berisiko tertinggal.”
“Itu bukanlah cara yang bertanggung jawab untuk menentukan masa depan olahraga dunia.”
Apa rencana Infantino?
FIFA dan Infantino ingin menciptakan anak perusahaan komersial untuk menjalankan acara-acara utamanya, termasuk Piala Dunia. Adapun investor eksternal akan dapat membeli saham di dalamnya.
FIFA akan “mengundang pihak ketiga untuk melakukan investasi minoritas dan tidak mengendalikan” di anak perusahaan baru – Fifa Forward Enterprise (FFE).
Infantino telah menulis kepada anggota FIFA dan mengatakan mereka akan menerima US$40 juta (Rp722,92 miliar) jika mendukung proposal kontroversial tersebut.
Ia menetapkan tenggat waktu 19 September bagi federasi untuk menerima rencananya jika ingin memperoleh pencairan awal sebesar US$20 juta (Rp361,46 miliar).
Dalam dokumen setebal 25 halaman yang dibuat bank investasi JP Morgan, disebutkan “inisiatif bisnis baru” dan “menarik talenta terbaik dengan kompensasi berbasis insentif”.
Piala Dunia digambarkan sebagai acara olahraga yang “paling banyak ditonton”, tetapi FIFA, sebaliknya, dikatakan “kurang dimonetisasi”.
Tidak ada penyebutan tentang pertandingan putri dalam dokumen tersebut.
Jika persetujuan diberikan, FIFA mengatakan Thrive Eternal diharapkan memimpin kelompok investor yang diusulkan untuk FFE.
Thrive adalah perusahaan modal ventura Amerika yang didirikan oleh Joshua Kushner – saudara dari menantu Presiden AS Donald Trump, Jared.
Bagaimana reaksi UEFA?
Pada Kamis (20/07), UEFA menegaskan akan memboikot Piala Dunia jika rencana FIFA dilanjutkan.
Beberapa jam kemudian, Concacaf, yang menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun ini, mengeluarkan pernyataan yang juga menolak usulan yang diajukan oleh Infantino.
UEFA menuduh FIFA menggunakan sepak bola “untuk memperkaya diri mereka sendiri dan teman-teman mereka”, sementara Concacaf dan AFC sama-sama menyatakan keprihatinan tentang konsultasi terkait rencana tersebut.
“Piala Dunia tidak dapat diperlakukan sebagai produk investasi,” demikian bunyi pernyataan UEFA pada Kamis (30/07).
“Ini adalah salah satu warisan olahraga sepak bola terbesar. Warisan ini telah dibangun selama beberapa generasi oleh para pemain, tim nasional, dan pendukung di setiap benua.”
“Tidak satu bagian pun darinya yang boleh diserahkan kepada investor swasta. Piala Dunia tidak untuk dijual.”
FIFA mengeluarkan pernyataan pada Jumat (31/07) pagi yang berjanji untuk melanjutkan rencana tersebut seraya menambahkan “tidak ada yang menjual sepak bola”.
FIFA mengklaim bahwa proses konsultasi telah “terganggu oleh pemberitaan media yang tidak akurat”.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa hal tersebut “tidak akan mengorbankan semangat, tata kelola FIFA, atau sepak bola itu sendiri”.
Badan pengatur sepak bola di Amerika Selatan, Conmebol, belum memberikan komentar publik mengenai proposal tersebut. Badan pengatur di Afrika (CAF) dan Oseania (OFC) telah menyatakan akan membahas rencana FIFA pada bulan Agustus.
Mengapa Erick Thohir mendukung rencana Infantino?
Meskipun AFC menentang rencana Infantino, AFC tidak mengancam untuk memboikot kompetisi FIFA. Anggota AFC tidak diwajibkan untuk memberikan suara menentang proposal tersebut.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, justru menyatakan dukungan kepada rencana Infantino.
Dalam wawancara dengan Sky News, Erick mengatakan dana yang dihasilkan dari proyek itu dapat membantu negara-negara berkembang meningkatkan kualitas sepak bola mereka.
“Sepak bola Indonesia telah bertransformasi dalam tiga tahun terakhir. Kami telah melakukan pembenahan,” kata Erick, seperti dikutip dari Sky News pada Jumat (31/07).
“Peringkat tim nasional naik dari 174 ke 118. Untuk melanjutkan transformasi ini, kami membutuhkan pendanaan.”
Rogers Byamukama, dari Federasi Sepak Bola Uganda, berpendapat bahwa setiap jalan yang dapat mengarah pada lebih banyak sumber daya bagi negaranya harus dieksplorasi.
“Pertama dan terpenting, Anda perlu memahami bahwa sepak bola adalah usaha yang sangat mahal, terutama di benua Afrika di mana sumber daya tidak mudah didapatkan,” katanya kepada BBC World Service.
“Sebagai contoh di Uganda, jumlah proyek infrastruktur yang telah didanai oleh FIFA dari sumber daya yang dihasilkan oleh FIFA, terutama di Piala Dunia, baik dari penjualan tiket maupun sponsor.”
“Selain itu, ada banyak program akar rumput yang telah didanai oleh FIFA, termasuk sekolah-sekolah untuk sepak bola.”
“Dari sudut pandang saya, setiap cara yang mendatangkan lebih banyak sumber daya adalah baik karena sumber daya tersebut akan didistribusikan dan diberikan kepada federasi, terutama di benua Afrika, dan itu akan mendorong pertumbuhan.”
Byamukama mengakui hak UEFA untuk bersuara, tetapi menyatakan bahwa anggotanya tidak bergantung pada pendanaan FIFA seperti banyak asosiasi di seluruh dunia tempat Infantino tetap populer.
Dalam dua siklus pertama program pengembangan FIFA Forward, hingga tahun 2022, US$2,8 miliar (Rp50,5 triliun) telah dialokasikan untuk investasi di 211 asosiasi anggota.
Fifa Forward 3.0 – yang mencakup tahun 2023 hingga 2026 – telah menghasilkan peningkatan pendanaan sebesar 30%.
FIFA telah menyediakan tambahan US$5 juta (Rp90 miliar) untuk setiap asosiasi anggota, dengan tambahan US$60 juta (Rp1,1 triliun) dibayarkan kepada setiap konfederasi untuk proyek mereka sendiri.