Sumber gambar, ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Kementerian Kesehatan mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza A di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Namun demikian, berdasarkan hasil surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026, kondisinya masih berada pada kategori sedang dan belum menunjukkan situasi mengkhawatirkan.
Meski begitu, epidemiolog Masdalina Pane, menilai pemerintah terkesan santai dan tidak memberikan peringatan seperti ketika pandemi Covid-19 kepada masyarakat tentang apa yang harus dilakukan untuk mencegah tertular virus tersebut.
Sebab, virus influenza A ini bisa mengakibatkan kematian pada orang lansia dan yang memiliki penyakit komorbid.
“Yang dibutuhkan masyarakat kan, ‘Kami harus ngapain?’. Berbeda dengan saat Covid-19, masyarakat diminta menjaga jarak, memakai masker, dan menerapkan berbagai protokol kesehatan,” tutur Masdalina Pane kepada BBC News Indonesia, Jumat (02/10).
Pengalaman didera rasa sakit saat terkena influenza A dirasakan Beni Permana, warga Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Sakit kepala hebat membuatnya merasa oleng, ditambah pegal yang menyerang persendian.
Apa itu influenza A dan apakah gejalanya lebih berat dari flu pada umumnya?
‘Sakit kepala hebat dan pegal persendian’
Beni Permana, salah seorang warga Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengaku mengalami gejala influenza A sejak Senin, (19/09). Dia merasakan sakit kepala hebat yang membuatnya merasa oleng, selain itu ada rasa pegal yang menyerang persendiannya.
“Awalnya anak saya yang flu di hari Minggu, mungkin tertular di sekolahnya, terus istri yang kena besoknya, baru saya nyusul,” kata Beni, Kamis, (01/10).
Keyakinan akan dirinya terkena influenza A didasari Beni dari hasil diagnosa dokter pada istrinya. “Saya dan anak saya ndak periksa, hanya istri, tapi gejalanya sama,” sambungnya.
Pria 37 tahun ini mengatakan istrinya mendapat obat flu dan antibiotik dari dokter. Menurut dia, istrinya harus istirahat total di rumahnya selama tiga hari.
“Hari keempat, sudah berkurang demam dan pusing, dia mulai masuk kantor.”
Meskipun mengalami gejala yang sama dengan anak dan istrinya, Beni tak memeriksakan diri ke dokter.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abdan Syakura
Dia memilih membeli obat flu yang bebas diperjualbelikan, lalu minum vitamin D3 dan suplemen tambahan. Beni lebih cepat pulih dari istrinya.
Dia hanya beristirahat total selama dua hari. “Meskipun rasanya enggak enak tapi saya paksa banyak makan,” tuturnya
Ia mengaku merasakan gejala flu yang parah selama dua hari, dia praktis beristirahat total di rumahnya. Di hari ketiga dia mencoba beraktifitas kembali setelah merasa badannya berangsur pulih.
“Mungkin karena saya banyak makan,” katanya.
Lebih dari sepekan berlalu, Beni mengaku masih batuk-batuk.
Penyebaran influenza A terbilang cepat. Wahyu, rekan kerja Beni mengaku tertular usai berkontak fisik empat hari setelahnya.
Malam harinya Wahyu langsung merasakan, “tenggorokan panas, kepala pusing, besoknya baru demam, flu dan batuk, semua sendi pegal.”
Wahyu hanya bisa rebahan empat hari di rumah.
“Saya paksa makan banyak, olahraga dan beli vitamin D yang disarankan Pak Beni.”
Ia mengaku kondisi tubuhnya saat ini sudah membaik, hanya batuk dan sedikit pegal dipersendiannya yang masih tersisa.
Akan tetapi di rumahnya, saat ini ada kakak dan keponakannya yang masih sakit. Dan, satu keluarga di rumah itu mulai tertular.
“Keponakan saya yang masih SD sudah tiga hari tidak sekolah,” imbuhnya.
Dinas Kesehatan Kota Mataram mencatat kasus ISPA yang dikategorikan sebagai influenza sebesar 2.244 pada minggu ke 36 tahun 2026.
Sementara dalam sepekan berikutnya, atau di minggu ke 37, angkanya bertambah menjadi 2.639 kasus.
Adapun jumlah kasus influenza A, dinkes setempat tidak memiliki lantaran tidak ada pemeriksaan khusus untuk memastikan angka paparan virus tersebut. Pasalnya untuk memastikan perlu ada tes usap dan pemeriksaan di laboratorium.
‘Batuk yang menekan hingga meriang’
Serangan virus influenza A juga dialami Nia Kurniati dan keluarga pada awal September lalu. Gejala yang dirasakannya mulai dari nyeri sendi, batuk yang terasa menekan, hingga keluhan sesak napas yang berlangsung beberapa bulan.
Rantai penularannya bermula dari suaminya yang mengalami gejala serupa. Tiga hari berselang, sang cucu tertular, sebelum akhirnya Nia sendiri terjangkit pada Minggu (06/09).
“Gejalanya meriang, enggak demam tinggi pada suami dan saya sebatas 37,8 derajat Celcius. Kalau cucu saya sampai 38,9 derajat Celcius,” imbuhnya.
Nia bilang gejala flu kali ini terasa lebih berat dari biasanya. Selain meriang, dia merasakan sakit persendian terutama kaki, badan lemas, mual, batuk, muntah, dan sakit kepala.
“Batuk yang lama sekali, sakit kepala hilang setelah dua minggu.”
Ia lantas mencoba mengobati penyakitnya secara mandiri dengan membeli obat yang dijual bebas seperti Paracetamol dan Delcosin, tapi tak kunjung sembuh.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Akhirnya dia memutuskan memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis anak, dan diagnosisnya Nia sekeluarga terjangkit influenza A, meski tanpa tes usap.
Kendati gejalanya mereda, namun Nia masih mengalami batuk setelah beberapa pekan berlalu. Untuk mencegah penularan, ia memakai masker dan membatasi diri keluar rumah. Termasuk memperbanyak istirahat dan makan buah-buahan.
Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat terjadi peningkatan kasus Influenza Like Illness (ILI). Hanya saja, khusus influenza A, baru ditemukan 40 kasus berdasarkan hasil pemeriksaan sentinel ILI Puskesmas Padasuka.
Meski terpantau ada peningkatan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, menyatakan temuan kasus ILI maupun Influenza A belum mengkhawatirkan.
Bahkan, klaimnya, belum masuk ke kategori alert, peningkatan kasus 1,5 kali dari periode sebelumnya, ataupun Kejadian Luar Biasa (KLB) yang kasusnya meningkat dua kali dari periode sebelumnya.
Dadan mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap enteng influenza A. Jika sudah mengalami gejala kegawatdaruratan seperti demam tinggi hingga 40 derajat Celcius, demam disertai kejang pada anak, sesak napas berat hingga ada tanda kebiruan di sekitar mulut serta di ujung jari, terlihat tanda dehidrasi.
“Apabila terjadi tanda-tanda kegawatdaruratan tersebut segera bawa ke IGD,” kata Dadan seraya menambahkan untuk yang tidak mengalami tanda kegawatdaruratan bisa berobat ke puskesmas atau poliklinik.
“Sayangnya untuk vaksin influenza ini tidak ada dalam program pemerintah. Jadi diharapkan masyarakat bisa mengakses vaksin ini secara mandiri. Dan memang sangat signifikan pengaruhnya vaksin ini sehingga sangat disarankan masyarakat untuk bisa vaksin mandiri,” ujarnya.
Berapa jumlah kasus influenza A di Indonesia?
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Namun, berdasarkan hasil surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026, kondisi tersebut masih berada dalam rentang medium dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.
Menurut data Kemenkes, peningkatan aktivitas influenza pada periode Agustus–September juga masih sesuai dengan pola musiman yang selama ini terlihat di Indonesia.
Pada minggu ke-38 tahun 2026, dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen positif influenza. Virus yang dominan adalah influenza A H1N1 PMD09.
Kemenkes juga memantau perkembangan influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan banyak diperbincangkan di masyarakat dengan sebutan ‘super flu’.
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Data surveilans menunjukkan jumlah temuan subclade K pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Untuk yang disebut sebagai ‘superflu’ atau H3N2 subclade K, data yang kita pantau justru menunjukkan jumlah temuannya pada tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Jadi, kita perlu membedakan antara informasi yang beredar dengan kondisi berdasarkan data surveilans,” kata Menkes Budi Gunadi.
Berdasarkan surveilans sentinel ILI-SARI, sepanjang 2025 hingga minggu ke-38 tahun 2026 tercatat 188 hasil pemeriksaan subclade K, dengan 166 temuan pada 2025 dan 22 temuan pada 2026.
Kemenkes tetap melakukan pemantauan terhadap subclade K melalui surveilans sentinel yang melibatkan puskesmas, rumah sakit, serta laboratorium/balai kekarantinaan kesehatan.
Dalam hal pengobatan, sebagian besar kasus influenza dapat pulih dengan perawatan suportif dan tidak memerlukan rawat inap. Penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir tidak ditujukan untuk semua pasien influenza.
“Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus,” ujar Menkes.
Apa itu Influenza A dan mengapa kasusnya meningkat?
Influenza A adalah jenis virus menular yang menyerang saluran pernapasan manusia dan paling sering memicu gelombang penyakit musiman hingga pandemi global karena kemampuannya bermutasi dengan cepat.
Di Indonesia, influenza A sebetulnya telah bersirkulasi dan yang paling dominan sejak dua bulan lalu adalah jenis influenza A subtipe H1N1 PDM09 dibandingkan influenza A H3N2 subclade K yang sering disebut ‘super flu’.
“Dulu Influenza A H1N1 PDM09 disebutnya swine flu asalnya dari Hong Kong, yang pada 2009 memicu pandemi. Jadi ini virus lama dan bukanlah sesuatu yang harus kita cemaskan,” jelas epidemiologi Masdalina Pane kepada BBC News Indonesia, Jumat (02/10).
Sumber gambar, ANTARA FOTO/Abdan Syakura
Namun begitu, varian influenza A tidak bisa dianggap remeh. Peningkatan kasus dapat terjadi akibat beberapa faktor.
Pertama, karena virus ini memiliki pola musiman atau seasonal.
Dunia, katanya, dibagi menjadi dua wilayah yakni belahan bumi utara (Northern Hemisphere) dan belahan bumi selatan (Southern Hemisphere).
Indonesia berada di wilayah tropis yang dipengaruhi oleh pola musim di belahan bumi utara.
Dan, biasanya kasus influenza A meningkat pada September hingga Januari atau Februari. Pola ini terjadi setiap tahun dan dipengaruhi oleh perubahan suhu serta kelembaban.
“Jadi, peningkatan kasus influenza A bukan hanya terjadi tahun ini. Ini merupakan pola musiman yang berulang dari tahun ke tahun,” paparnya.
“Yang menjadi persoalan adalah bagaimana pemerintah mengantisipasinya. Kan kita selalu ‘kebakaran jenggot’ ya kalau kasusnya tiba-tiba naik. Padahal, peningkatan kasus sebenarnya bisa diperkirakan dari pola tahun-tahun sebelumnya,” dia menambahkan.
“Padahal sejak April hingga Juli seharusnya sudah ada langkah pencegahan menghadapi musim influenza. Jadi menurut saya upaya pencegahan masih kurang.”
Tapi selain dipengaruhi pola musiman, perubahan suhu dan kelembaban juga memengaruhi penyebaran influenza A.
Ketika suhu dan kelembaban berubah, sambungnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan virus untuk bertahan dan menyebar.
Kedua, adalah faktor manusia atau host, terutama yang terkait dengan imunitas.
Kekebalan tubuh manusia, ucapnya, bisa naik dan turun. Ia mencontohkan, seseorang yang pernah terinfeksi influenza A H1N1 PDM09 beberapa tahun lalu, imunitas terhadap virus tersebut bisa meningkat.
Namun, seiring waktu, kekebalan itu bisa menurun.
Ketika imunitas menurun, seseorang dapat kembali terinfeksi. Sehingga, kondisi imunitas manusia juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi meningkatnya kasus influenza A.
“Selain itu, interaksi antarmanusia juga berperan dalam penyebaran virus. Misalnya, saat seseorang terinfeksi dan melakukan kontak dengan banyak orang, virus bisa menyebar ke lebih banyak orang.”
“Tapi bukan berarti orang tersebut adalah super spreader, tetapi karena banyaknya kontak yang terjadi, penularan menjadi lebih luas.”
Sumber gambar, Getty Images
Masalahnya, dia menekankan, ketika kasus influenza A mulai meningkat, masyarakat tidak melakukan pengetatan protokol kesehatan seperti kala pandemi Covid-19.
“Masyarakat hanya diberi tahu bahwa kasus sedang meningkat, tetapi tidak banyak arahan mengenai apa yang harus dilakukan untuk mencegah penularan,” ujar Masdalina Pane.
“Berbeda dengan saat Covid-19, masyarakat diminta menjaga jarak, memakai masker, dan menerapkan berbagai protokol kesehatan. Sekarang, bagaimana masyarakat bisa menjaga jarak di kereta api kalau jumlah penumpangnya tetap banyak?”
“Akibatnya penularan terus terjadi secara alami karena interaksi dan mobilitas masyarakat tetap tinggi,” cetusnya.
Ketiga, adalah perubahan genetik dan antigenik pada virus. Meskipun untuk faktor ini, Masdalina Pane menilai pada kasus influenza A tidak terlalu signifikan.
Keempat, dinamika populasi dan kebijakan kesehatan masyarakat termasuk vaksinasi.
Di Indonesia, vaksinasi influenza belum diwajibkan bagi masyarakat. Sementara, di negara-negara empat musim, kelompok lanjut usia biasanya direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin influenza jelang musim dingin.
Bahkan, beberapa negara menyediakan vaksin gratis atau mewajibkan vaksinasi bagi lansia dan orang dengan penyakit penyerta.
Seperti apa gejalanya dan apakah lebih berat?
Masdalina Pane menjelaskan cara penularan influenza A sebetulnya sama seperti Covid-19 dan penyakit pernapasan lainnya, yaitu melalui droplet atau percikan dari saluran pernapasan.
Dalam kondisi normal, orang yang sedang sakit sebaiknya menggunakan masker. Namun, sayangnya, saat ini belum ada kebijakan pemerintah untuk mewajibkan masyarakat memakai masker.
Influenza A, sambungnya, memiliki masa inkubasi sekitar 2-14 hari. Masa inkubasi adalah waktu sejak virus masuk ke dalam tubuh hingga munculnya gejala.
Gejala yang biasa timbul antara lain bersin, batuk, kemudian berkembang menjadi demam dan gejala lainnya. Karenanya seseorang bisa mulai mengalami gejala beberapa hari setelah terinfeksi.
Sumber gambar, Getty Images
Masdalina Pane menyebut ada tiga gambaran masa inkubasi.
Pertama, masa inkubasi pendek yakni sekitar dua hari. Orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah, seperti bayi, anak-anak, dan lansia, serta orang dengan penyakit penyerta, bisa lebih cepat mengalami gejala setelah terinfeksi.
Kedua, masa inkubasi panjang. Pada orang dengan daya tahan tubuh yang lebih kuat, gejala bisa muncul lebih lama setelah terinfeksi.
Ketiga, masa inkubasi rata-rata. Kebanyakan orang di Indonesia, gejala muncul sekitar hari kelima hingga ketujuh setelah terinfeksi.
“Jadi wajar kalau ada orang yang mulai sakit dua atau tiga hari setelah kontak dengan orang yang terinfeksi. Pada kelompok rentan, gejalanya juga bisa lebih berat. Misalnya, pada bayi, infeksi virus bisa menyebabkan demam yang cukup tinggi bahkan di atas 39 derajat Celcius,” paparnya.
Apakah bisa mengakibatkan kematian?
Influenza juga bisa menyebabkan kematian, ujar Masdalina Pane. Utamanya pada kelompok rentan seperti lansia dan orang yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).
“Kondisinya kurang lebih sama seperti Covid-19, ketika risiko kematian lebih tinggi pada kelompok tersebut.”
Sebagai gambaran, tambahnya, angka case fatality rate (CFR) Covid-19 di Indonesia pernah sekitar 3%, sementara di beberapa negara lain hanya sekitar 0,5%.
Jika CFR 0,5%, artinya sekitar 1 dari 200 orang yang terdiagnosis meninggal. Sementara jika CFR 3% berarti sekitar 3 dari setiap 100 orang yang terdiagnosis meninggal.
“Namun, apakah angka tersebut sudah bisa disebut tinggi atau parah? Dalam penilaian yang digunakan, angka di atas 5% dapat dikategorikan sebagai tingkat fatalitas yang tinggi.”
“Sejauh ini, angka fatalitas influenza di banyak negara masih berada di bawah 5%.”
Apa yang harus dilakukan masyarakat?
Sumber gambar, Getty Images
Masdalina Pane bilang pencegahannya hampir sama seperti Covid-19 karena pola penularannya juga mirip. Bedanya, virusnya berbeda.
Covid-19 disebabkan oleh virus corona, sedangkan influenza disebabkan oleh virus influenza.
Karena itu, langkah pencegahannya juga mirip, seperti menjaga jarak, menggunakan masker, dan menjaga daya tahan tubuh. Orang yang sedang sakit sebaiknya menggunakan masker agar tidak menularkan virus kepada orang lain.
Tapi, ketika kasus influenza meningkat cukup signifikan seperti sekarang, orang yang sehat juga sebaiknya menggunakan masker untuk mengurangi risiko penularan.
Kapan harus ke rumah sakit?
Pertama, ketika seseorang sudah tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari, jelas Masdalina Pane.
“Misalnya, tubuh terasa sangat lemas sampai sulit untuk bangun atau melakukan kegiatan seperti biasanya.”
Kedua, jika mengalami sesak napas atau kadar oksigen dalam tubuh sangat rendah. Kondisi seperti ini membutuhkan penanganan di rumah sakit, termasuk kemungkinan pemberian oksigen.
Ketiga, mulai muncul tanda-tanda komplikasi, terutama pada orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
“Misalnya, muncul keluhan pada jantung atau kondisi penyakit penyerta menjadi lebih buruk.”
Jadi, ia menekankan, apabila muncul gejala yang terasa berat, seperti sesak napas, pusing yang sangat berat, tekanan darah meningkat sangat tinggi, aktivitas sehari-hari terganggu, atau demam sangat tinggi yang tidak turun meskipun sudah minum obat, sebaiknya segera pergi ke rumah sakit.
Apakah pemerintah sudah maksimal?
Masdalina Pane menilai belum malah terkesan “santai”.
Bukan berarti, katanya, pemerintah harus membuat masyarakat panik. Tetapi, pemerintah seharusnya memberikan peringatan dan informasi yang jelas kepada masyarakat.
“Kan Kemenkes ada juru bicara yang menyampaikan bahwa kasus influenza sedang meningkat. Masyarakat juga perlu diberi tahu apa yang harus dilakukan, terutama karena peningkatan kasus terjadi pada bayi, balita, dan anak usia 6–9 tahun yang termasuk kelompok dengan kasus tertinggi,” jelasnya.
“Kalau anak sakit, sebaiknya tidak masuk sekolah. Orang tua bisa meminta izin kepada sekolah dan anak beristirahat di rumah sampai sembuh. Itu kan langkah yang sederhana dan sebenarnya sudah umum dilakukan.”
Meskipun begitu, dia menilai jangan sampai pemerintah menyampaikan informasi dengan bahasa yang rumit. Yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya sederhana: mereka harus melakukan apa.
Jurnalis Yuli Saputra (Bandung) dan Abdul Latif (Mataram) berkontribusi untuk artikel ini.