Sumber gambar, Richard Baker / In Pictures via Getty Images
Karya seni yang menggambarkan Aphrodite—dewi cinta dan kecantikan Yunani kuno—telah lama dicap sebagai karya yang tidak senonoh dan mengobjektifikasi tubuh perempuan. Bagaimana sosok ini bisa menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah seni?
Ketelanjangan Aphrodite (atau Venus, sebagaimana ia dikenal oleh bangsa Romawi kuno) telah menjadi bahan perdebatan selama berabad-abad.
Pada tahun 1880, penulis Mark Twain menyebut Venus of Urbino karya Titian (1534) sebagai “lukisan paling menjijikkan, paling hina, dan paling tak senonoh yang dimiliki dunia”.
Pada tahun 1914, aktivis hak pilih perempuan bernama Mary Richardson merusak Rokeby Venus karya Diego Velázquez (sekitar tahun 1647–1651) menggunakan pisau daging —setidaknya tiga kali—di tengah National Gallery, London.
“Saya tidak suka melihat pengunjung laki-laki yang terus-menerus menatap lukisan itu dengan pandangan penuh nafsu sepanjang hari,” demikian salah satu penjelasannya di kemudian hari.
Aphrodite: The Making of a Goddess, sebuah pameran terbaru di Museum Ashmolean, Oxford, menelusuri sejarah sang dewi. Pameran ini membantu menjelaskan bagaimana ia berevolusi menjadi pusat kontroversi budaya yang begitu hebat.
Sumber gambar, The Ashmolean Museum
Terdapat dua versi tentang kisah asal-usulnya: versi mitologis dan versi yang akurat secara historis. Namun, tidak satupun dari kedua versi itu yang secara khusus menandainya sebagai sumber pembuat onar di masa depan.
Dalam mitos, kisahnya bermula ketika Kronos mengebiri ayahnya, Ouranos, dan melemparkan alat kelaminnya ke laut; buih mulai berbusa ke permukaan, dan dari buih itulah muncul Aphrodite dalam wujud manusia sempurna.
Ia meluncur di atas ombak menuju pulau Siprus, tempat jejak kakinya membuat bunga-bunga bermekaran secara ajaib dari tanah.
Versi sejarah tentang kelahiran Aphrodite juga bermula di Siprus, tempat ia muncul sebagai dewa sekitar tahun 1200 SM.
Ia merupakan sosok baru yang khas dalam jajaran dewi-dewi (panteon), namun memiliki karakteristik yang tampaknya berkembang dari dewi-dewi Timur Tengah kuno seperti Ishtar, Astarte, dan Hathor.
Sumber gambar, Laszlo Szirtesi/Getty Images
Bagi dewi-dewi kuno ini, “seksualitas, cinta, dan kesuburan adalah karakteristik inti mereka,” kata Anja Ulbrich, kurator pameran Ashmolean, kepada BBC, “namun mereka semua memiliki lebih dari satu fungsi.”
Hal yang sama juga berlaku bagi Aphrodite, yang pada masa-masa awalnya bukan sekadar dewi cinta romantis, melainkan dewi dari segala cinta fisik dan prokreasi—baik di dunia hewan dan tumbuhan maupun manusia.
Selain itu, ada sisi-sisi lain dari kepribadiannya yang mungkin kurang begitu dikenal. Ia pernah bertempur dalam Perang Troya—dan sisi inilah yang membuatnya disembah oleh angkatan laut Yunani kuno.
Aphrodite bahkan bisa disebut sebagai sosok yang mendasari peradaban Romawi. Salah satu kisah mitologi menceritakan hubungan asmaranya dengan pangeran Troya, Bernama Anchises. Putra mereka, Aeneas, melarikan diri ke Italia setelah kejatuhan Troya—dan keturunannya konon mendirikan kota Roma.
Setelah kemunculan awalnya di Siprus pada abad ke-13 SM, Aphrodite menjadi sosok yang sangat popular di masyarakat, dan pemujaan terhadapnya tersebar ke seluruh penjuru Yunani kuno.
Mengapa ia begitu memikat? “Kesuburan, cinta, dan prokreasi adalah topik yang relevan bagi seluruh umat manusia, apa pun budayanya,” kata Ulbrich.
“Salah satu gelarnya adalah Pandemos: dewi bagi semua orang. Bukan hanya untuk pejuang atau perempuan saja; cinta memengaruhi setiap orang dan segala hal. Cinta meresap ke dalam kehidupan.”
Jenis ketelanjangan yang baru
Sejauh ini, semuanya tampak wajar dan bebas kontroversi. Selama beberapa ratus tahun, para seniman tidak menampilkan sosok Aphrodite jauh berbeda dari dewi-dewi Olimpus lainnya.
Pada masa-masa awal itu, mereka biasanya tidak menggambarkannya dalam keadaan telanjang, apalagi dalam pose-pose provokatif yang kini kita kaitkan dengannya.
Namun kemudian, pada tahun 350 SM, muncul sebuah karya seni yang mengubah segalanya.
Sumber gambar, The National Gallery, London
Aphrodite of Knidos karya Praxiteles (sekitar 350 SM) merupakan karya seni pertama di Yunani kuno yang menampilkan sosok perempuan dalam keadaan telanjang sepenuhnya.
Patung aslinya telah hilang, namun kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai wujudnya melalui salinan Romawi yang dibuat kemudian, seperti Capitoline Venus (sekitar 160 SM).
Sebelum masa Praxiteles, hanya sosok pria yang digambarkan telanjang. “Merayakan keindahan fisik pria melalui ketelanjangan adalah hal yang lumrah sejak abad ke-7 atau ke-6 SM dan seterusnya,” kata Ulbrich.
Jadi, Praxiteles memilih untuk melakukan hal yang sama bagi keindahan fisik perempuan.
Sumber gambar, Bildagentur-online/Schoening/Universal Images Group via Getty Images
Ketelanjangan Aphrodite memiliki karakteristik yang berbeda.
Jika diamati dengan saksama, terlihat jelas perbedaan penyajian ketelanjangan dibandingkan dengan patung laki-laki Yunani; perbedaannya terletak pada bahasa tubuh.
Sosok Aphrodite karya Praxiteles digambarkan tertangkap saat sedang mandi. Ia tampak malu dan rentan, berusaha menutupi tubuhnya karena rasa malu, sementara tubuh laki-laki telanjang dalam seni Yunani selalu ditampilkan dengan kesan percaya diri dan heroik.
Ulbrich menjelaskan: “Hal ini sebagian besar didasarkan pada penggambaran dirinya dalam mitos, di mana ia kerap digambarkan sedang mandi dan merawat kecantikan fisiknya.”
Namun dalam karya seni Praxiteles, posisi tangan Aphrodite diletakkan sedikit menjauh dari tubuhnya, sehingga memungkinkan pengamat untuk melihat bagian tubuhnya jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Ini adalah karya seni yang mengundang interaksi dan memberikan kepuasan bagi penonton yang memiliki rasa ingin tahu yang bersifat sensual.
Sumber gambar, Lokman Ilhan/Anadolu via Getty Images
Teknik-teknik artistik yang inovatif ini kelak memicu perdebatan sengit selama berabad-abad, dan sebuah istilah khusus pun diciptakan untuk menyebut pose karya Praxiteles tersebut: Venus Pudica (malu-malu atau berselimut rasa malu).
Aphrodite of Knidos sangatlah “revolusioner,” kata Ulbrich.
Sebelum masa Praxiteles, sosok Aphrodite dalam seni patung biasanya dikenali melalui berbagai atribut seperti pakaian, perhiasan, dan atribut lainnya. Setelah itu, katanya, “ketelanjanganlah yang mendominasi.”
Perlu diakui bahwa tubuh yang telanjang adalah hal yang sepenuhnya alami, dan tidak kontroversial dengan sendirinya. Hal yang membuat Aphrodite menjadi begitu provokatif di kemudian hari bukanlah karena ia tidak berpakaian, melainkan bagaimana posenya ditata demi kepuasan penonton. Hal itulah yang mengubahnya menjadi objek hasrat.
Patung asli karya Praxiteles begitu menginspirasi sehingga kemudian disalin ribuan kali oleh para pematung Romawi; salah satu contoh terkenalnya adalah Venus Capitolina.
Venus Pudica telah memelopori cara pandang baru terhadap tubuh perempuan dalam seni, dan pengaruhnya menyebar ke seluruh wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi, termasuk Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah.
Kebangkitan kembali sisi erotis Aphrodite
Namun pengaruhnya tidak terbatas pada dunia kuno saja. Selama masa Renaisans, para seniman mulai mencari dan menyalin patung-patung klasik dengan semangat yang lebih besar dibandingkan satu milenium sebelumnya.
Salah satu yang paling dikagumi adalah tipe Venus Pudica. Sosok Aphrodite dengan persona telanjang, menggoda, dan rendah hati—seperti yang dirancang oleh Praxiteles—dilahirkan kembali dalam karya seni oleh Massaccio, Botticelli, Raphael, dan Titian, yang kelak menjadi tokoh besar dalam Sejarah seni.
Sumber gambar, Finnbarr Webster/Getty Images
Beberapa seniman menggunakan pose itu untuk menggambarkan Aphrodite, tetapi banyak pula yang mengadopsinya untuk sosok Perempuan lainnya. Pose ini juga menginspirasi para seniman lain untuk merancang pose baru berdasarkan gagasan dasar yang sama: Ketelanjangan yang disertai sikap malu-malu.
Maka, melalui pengulangan pose Venus Pudica oleh para seniman secara terus-menerus, bentuk tubuh perempuan yang diobjektifikasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kanon sejarah seni.
Sumber gambar, The Ashmolean Museum
Rubens dan Velázquez menghidupkannya kembali pada periode Barok. Gaya ini dihidupkan kembali oleh Cabanel dan Manet pada tahun 1800-an, serta oleh Modigliani dan Yves Klein pada abad ke-20. Kemarahan Mark Twain dan Mary Richardson adalah respons terhadap sejarah erotisasi Aphrodite ini.
Anja Ulbrich mengatakan kepada BBC bahwa sang dewi telah digambarkan dengan beragam cara, dan patung karya Praxiteles tidak harus selalu menjadi satu-satunya acuan Utama dalam memandangnya.
Salah satu karya yang dipamerkan di Museum Ashmolean dibuat di Northumberland dan menampilkan sosok Aphrodite yang sedang mandi. Mengingat lokasinya yang begitu jauh dari Mediterania, Ulbrich berkomentar sambil tersenyum, “dia tampak cukup terganggu oleh hawa dingin.”
Di masa yang lebih modern, dan terlepas dari pengaruh Praxiteles, sosok Aphrodite sering kali ditampilkan dengan cara berbeda, bahkan terkadang sebagai ikon pemberdayaan.
Pada tahun 2023, Beyoncé membuka konsernya dengan muncul di atas panggung menggunakan properti cangkang kerang raksasa, sembari mengenakan gaun yang dihiasi motif tangan bergaya Venus Pudica.
Sumber gambar, Getty Images
Lalu, Björk, Lady Gaga, Kylie Minogue, dan Bananarama juga pernah menciptakan lagu yang mengangkat sosok dewi ini.
Sebagai simbol kecantikan dan daya tarik tertinggi, Aphrodite telah diadaptasi dan dikonfigurasi ulang untuk memenuhi kebutuhan para penontonnya selama 3.000 tahun dan terus berlanjut—sebuah rentang usia yang luar biasa bagi seorang dewa Yunani kuno.
Hal lain yang tak kalah mencengangkan adalah bagaimana satu karya seni—patung Aphrodite of Knidos karya Praxiteles—telah begitu mendalam dalam membentuk sikap kita terhadap ketelanjangan.
Tidak ada tanda-tanda bahwa dominasinya atas urusan manusia akan berakhir atau kontroversi seputarnya akan mereda. Topik mengenai kecantikan dan bagaimana hal itu dimaknai akan senantiasa relevan serta terus memicu perdebatan, yang mencerminkan dinamika opini publik seiring berjalannya waktu.
“Tergantung pada konteksnya, orang-orang cenderung menyederhanakan sosoknya hanya sebatas apa yang mereka butuhkan dan inginkan,” ujar Ulbrich. “Dia itu sosok yang sangat serbaguna, kamu tahu.”