Karhutla: Nasib anak-anak yang meninggal di tengah kepungan asap


Cindy (25), ibu dari Yazlyn Syanindita atau disapa Canin, balita yang meninggal dunia setelah mengalami sesak nafas diduga dampak karhutla di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Provinsi Kaltim, Kamis, 15 Oktober 2026.

Keterangan gambar, Cindy (25), ibu dari Yazlyn Syanindita atau disapa Canin, balita yang meninggal dunia setelah mengalami sesak nafas diduga dampak karhutla di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Provinsi Kaltim, Kamis, 15 Oktober 2026.

Pakar kesehatan menyebut kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang sedikitnya 62.400 balita usia 0-5 tahun di tujuh provinsi terdampak kabut asap karhutla sudah masuk kategori “kedaruratan kesehatan”.

Kedaruratan kesehatan adalah suatu kondisi darurat yang terjadi ketika ada ancaman penyakit menular atau bahaya kesehatan serius—misalnya seperti Covid-19—yang dapat menyebar dengan cepat dan berdampak luas pada masyarakat.

Sebab, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra, meyakini angka itu belum termasuk yang under-recorded dan under-diagnosed.

“Jadi kasus ISPA ini seperti fenomena gunung es saja, ratusan ribu mungkin sudah angkanya. Dan ini tidak hanya di satu wilayah, tapi dua pulau besar terutama Kalimantan serta Sumatra,” ujarnya kepada BBC News Indonesia, Jumat (16/10).

Merujuk pemberitaan media, setidaknya tiga anak meninggal dunia di tengah kepungan kabut asap karhutla. Satu di antaranya adalah balita berusia 14 bulan bernama Yazlyn Syanindita.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *