
Bertumbuhnya jumlah imigran di Jepang berdampak pada masuknya keberagaman budaya, cara hidup, dan agama yang belakangan memicu kecemasan sosial, khususnya di tengah masyarakat lokal.
Salah satunya dirasakan Noriko Izumizawa yang merupakan warga kota Fujisawa. Kota yang berjarak satu jam dari Tokyo ini akan memiliki masjid pertamanya.
Saat ini, lapangan yang masih berupa hamparan rumput di kawasan tempat tinggalnya sedang disiapkan sebagai lokasi pendirian masjid di kota yang berada di tepi laut tersebut.
Rencana untuk membangun tempat ibadah di Fujisawa itu telah memicu beragam tanggapan.
Ada yang berupaya menerima, tapi ada juga yang takut dan cemas seperti Izumizawa dan sekelompok warga Fujisawa lainnya.
“Saya khawatir bagaimana komunitas kami mungkin akan berubah,” kata Izumizawa sebagai warga yang telah lama tinggal di sana.
Terlebih lagi, menurutnya, komunitas Muslim di Jepang belakangan kian banyak. Hal ini terjadi seiring dengan ketergantungan pada pekerja asing untuk mengisi lowongan pekerjaan karena populasi di Jepang yang menyusut dan menua.
Izumizawa menyebut perdebatan tentang isu imigrasi di Amerika Serikat dan Eropa yang mencuat turut menambah kegelisahannya.

Awal tahun 2026, ribuan orang melakukan unjuk rasa di stasiun kereta setempat sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pembangunan masjid.
Sebagian berpendapat, masjid yang ukurannya jauh lebih besar ketimbang kuil Shinto Jepang dinilai tidak menghormati kepercayaan lokal.
Selain unjuk rasa, laporan mengenai ujaran kebencian dan misinformasi juga tersebar di media sosial Jepang. Media lokal melaporkan pula sejumlah masjid menerima panggilan telepon dan surat elektronik bernada kasar.
Di tengah situasi ini, kelompok antikebencian melakukan aksi tandingan dengan menyuarakan perlawanan terhadap sikap intoleransi.
Hiroki Suzuka, yang mengelola kedai kopi di seberang masjid Fujisawa yang akan dibangun, berkata perlu ada dialog mendalam agar terbangun pemahaman pada para warga sekitar.
“Saya tidak menolak, tapi saya juga tidak bisa bilang bahwa saya mendukungnya,” kata Suzuka.
“Saya pikir langkah pertama adalah mempelajari tentang apa itu Islam, orang seperti apa mereka, serta nilai, dan sudut pandang yang mereka miliki. Semuanya dimulai dengan pikiran yang terbuka dan keinginan untuk saling memahami.”
Bagaimana menjadi Muslim di Jepang?
Pengusaha Mohamed Mohideen yang telah tinggal di Osaka selama 39 tahun, merasakan pergeseran dinamika sosial di tengah masyarakat Jepang.
Mohideen pindah dari Sri Lanka pada 1987 untuk memperoleh peluang kerja yang lebih baik. Ia berdagang batu permata hingga kemudian beralih mengekspor mobil bekas ke Sri Lanka dan Pakistan.
Di awal kepindahannya, jumlah warga asing di Jepang masih sangat sedikit.
Saat ini, total warga asing memang meningkat yang diikuti dengan respons berbeda dari warga lokal.
Kini, masyarakat setempat terasa berjarak dan mudah melontarkan komentar menyakitkan kepada Muslim, baik secara daring maupun secara langsung.
“Di media sosial, tak terhitung komentar seperti, ‘Keluar dari Jepang’ dan ‘Kembali ke negaramu sendiri’,” kata Mohideen.
“Orang-orang juga mulai datang ke masjid dan berteriak-teriak mengumpat,” ujarnya yang tiap hari menunaikan salat di Masjid Osaka.
Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
Pelecehan verbal itu makin memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Meski telah memiliki relasi yang baik dengan para tetangga selama bertahun-tahun, pria yang menjadi anggota komunitas Muslim di Osaka ini merasa ada ketakutan dari warga lokal terhadap mereka.
Ia ingat anggota komunitasnya pernah disebut teroris, dituduh membuat bom, dan diperintahkan untuk meninggalkan Jepang.
“Ketika itu terjadi, satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah bersabar. Mereka berusaha memancing perkelahian atau menciptakan konfrontasi. Mereka ingin melihat berapa lama kami akan menoleransinya,” jelas Mohideen.
“Kami pun berusaha tetap tenang, berbicara dengan lembut, dan memperlakukan mereka dengan baik, karena pada umumnya masyarakat Jepang tidak banyak mengetahui tentang Islam.”
Meski demikian, ia menganggap kerenggangan antarkelompok ini merupakan tanggung jawab bersama.
“Selama ini, mungkin kami hanya fokus pada pekerjaan dan tidak cukup berupaya membantu orang memahami siapa kami. Kami juga tidak cukup berupaya menjadi bagian dari masyarakat,” katanya.
“Mulai sekarang, saya ingin makin meningkatkan dialog dan membangun saling pengertian yang lebih baik.”

Shakeel Mohamed, laki-laki 61 tahun yang telah mewakili masjid Yashio di Prefektur Saitama selama satu dekade terakhir, bilang bahwa sangat penting mengikut aturan setempat.
Aturan tersebut, kata dia, termasuk memilah sampah dengan benar, menaati peraturan parkir, dan memakai helm saat mengendarai sepeda.
“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk menghormati cara hidup di Jepang dan mematuhi peraturan,” ujar pria yang bekerja sebagai pengawas lokasi konstruksi selama 26 tahun dan fasih berbahasa Jepang.
“Kesopanan juga penting, bahkan yang sangat sederhana seperti menyapa orang.”
Meski ia tak menampik, ada juga beberapa warga Pakistan yang kadang berperilaku buruk.
“Tapi itu hanya minoritas kecil. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat Jepang,” ucap Mohamed yang membeberkan ada sebutan khusus untuk komunitas Pakistan di daerah tersebut, yaitu “Yashio-stan”.
Imigrasi vs Identitas
Dengan dinamika demografi saat ini, Jepang bergulat dengan identitasnya.
Jumlah Muslim di Jepang, termasuk warga asing dan pemeluk Islam warga Jepang, mencapai sekitar 420.000 orang pada akhir 2024. Angka itu meningkat dari 230.000 pada 2019.
Hal itu disampaikan Profesor emeritus di Universitas Waseda yang meneliti agama tersebut di Jepang, Hirofumi Tanada.
Pertumbuhan populasi Muslim ini juga mencerminkan tren nasional yang lebih luas.
Terlihat pada naiknya jumlah penduduk asing yang signifikan hingga melampaui empat juta orang pada 2025. Lonjakan penduduk asing ini berasal dari China, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina
Sebanyak 2,57 juta dari mereka bekerja di Jepang, rekor tertinggi menurut data pemerintah.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Pada tahun yang sama, populasi Jepang justru menyusut hampir satu juta orang. Mereka yang aktif mengkritik menggambarkannya sebagai sistem imigrasi “diam-diam”.
Sebab, pemerintah Jepang sejak lama tetap mendorong visa sementara bagi para pendatang.
Kini, Perdana Menteri, Sanae Takaichi mengambil sikap terkait persoalan imigrasi ini. Pada Juni 2026, pemerintah Jepang memutuskan menaikkan biaya visa bagi warga negara asing hingga lima kali lipat, setelah tidak ada kenaikan selama hampir 50 tahun.
Pemerintah juga berencana menambah sekitar 230 pegawai di Badan Layanan Imigrasi untuk emperkuat penegakan hukum terhadap warga asing yang tinggal melebihi masa izin.
Seiring komunitas warga asing yang kian banyak, negara itu dipaksa menghadapi pertanyaan yang telah lama dihindarinya: Dapatkah Jepang menjadi negara yang lebih beragam dan inklusif sambil tetap mempertahankan identitas dan keseimbangan yang dihargainya?
Kembali di Fujisawa, Izumizawa mengakui tidak pernah mengalami pengalaman negatif dengan tetangga Muslim.
“Sejujurnya, mungkin saya hanya takut pada hal yang tidak saya kenal,” katanya sambil mengangkat bahu.
Laporan tambahan oleh Chie Kobayashi.