Hutan: Hashim sebut pemerintah akan gunakan 12,7 juta hektare hutan untuk biodiesel – Mengapa menuai polemik?


Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangka Raya menyebutkan sejak penetapan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 1 Juni hingga 8 Oktober 2026 total luas karhutla telah mencapai 1407,75 hektare dalam 832 kejadian kebakaran.

Keterangan gambar, Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan yang mendekati kawasan permukiman warga di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (09/10).

Telah diterbitkan

Waktu membaca: 10 menit

Utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mewacanakan penggunaan 12,7 juta hektare “hutan yang rusak” untuk lahan sawit demi mengejar proyek biodiesel. Sejumlah kalangan mempertanyakan data tersebut sekaligus cemas akan semakin banyak hutan rusak “karena sudah dikondisikan”.

Pernyataan soal 12,7 hektare hutan ini disampaikan adik Presiden Prabowo Subianto dalam acara Investor Daily Summit 2026, di depan kalangan pengusaha dan pejabat di Jakarta, 7 Oktober lalu.

“Itu yang sebetulnya yang sumber karhutla. Hutan-hutan rusak itu. Yang B50, B100 itu kita menuju ke swasembada energi dari biofuel, kita mau pakai dari tanah, dari hutan degradasi, hutan rusak. Bukan hutan primer,” katanya.

Program B50 adalah kebijakan mandatori bahan bakar nabati di Indonesia, berupa campuran 50% biodiesel dari minyak sawit mentah (CPO) dan 50% solar fosil.

Kebijakan tersebut mulai berlaku 1 Juli lalu. Pemerintah punya ambisi untuk mengembangkan program ini menjadi B100 atau murni CPO.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *