Sumber gambar, Getty Images/BBC
“Ada banyak orang hebat, tetapi hanya ada satu Guru.”
Begitulah anak-anak muda China menyebut mendiang pemimpin Tiongkok, Mao Zedong.
Pencarian kalimat “Mao Zedong” maupun “Guru” di platform video Bilibili menampilkan puluhan contoh kompilasi video Mao yang diambil dari berbagai film dan drama televisi.
Video-video ini mencakup berbagai tahap kehidupan Mao, termasuk masa mudanya, periode sebagai komandan militer, dan sebagai pemimpin era Perang Dingin yang mengelola hubungan antara China, Amerika Serikat, dan Uni Soviet.
Banyak di antara video-video itu yang mencatat jutaan penayangan dan menarik puluhan ribu komentar, termasuk kalimat-kalimat pujian seperti “hidup manusia besar”.
Basis pengguna Bilibili didominasi kalangan muda. Hampir 60% penggunanya berusia 18-24 tahun.
Jadi mengapa, 50 tahun setelah kematiannya, Mao kembali muncul begitu menonjol dalam budaya anak muda China di internet?
Mao yang berbeda
Sebagai figur politik yang paling menentukan dalam sejarah China pada abad ke-20, Mao memimpin Partai Komunis dan negara tersebut sejak berdirinya Republik Rakyat China pada 1949 hingga hari kematiannya pada 1976.
Dia memimpin China melalui ‘Lompatan Jauh ke Depan’ dan ‘Revolusi Kebudayaan’, kebijakan yang membentuk ulang ekonomi dan masyarakat negara itu. Namun, konsekuensinya, jutaan orang tewas.
Saat ini, salah satu orang yang merasa tertarik kepada sosok Mao adalah Dong, seorang pelajar di Nanjing yang akan segera memulai kuliah.
Baru-baru ini dia tersentuh oleh video dua perempuan muda yang menyanyikan lagu patriotik di depan patung raksasa Mao muda di Pulau Juzizhou, yang juga dikenal sebagai Pulau Jeruk, Changsha.
Sumber gambar, Mytruestory Photography via Getty Images
“Mereka bernyanyi dengan penuh penghayatan, dan patung itu begitu tinggi dan muda. Saat menontonnya, saya tiba-tiba merasa cukup emosional,” kata Dong kepada BBC.
Banyak teman sekelasnya berpartisipasi dalam komunitas daring anak muda yang membahas isu-isu terkini, yang umum dikenal sebagai “lingkaran politik papan ketik”.
Indikator lain dari tren ini adalah bahwa sejak 2019, Selected Works of Mao Zedong secara tak terduga menjadi buku yang paling sering dipinjam di Perpustakaan Universitas Tsinghua. Hal ini terus terjadi setiap tahun hingga 2025.
Yang menarik, minat anak muda terhadap Mao saat ini berbeda dari narasi publik di era generasi orang tua mereka.
Pada 1981, Partai Komunis China (CCP) mengadopsi sebuah resolusi yang disusun di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping.
Resolusi itu secara resmi menetapkan penilaian terhadap Mao yang menyeimbangkan pencapaiannya dengan kesalahannya—sering diringkas degan istilah “70% pencapaian, 30% kesalahan”.
Pada era Deng dan kemudian Jiang Zemin, potret Mao secara bertahap menghilang dari stasiun kereta, alun-alun publik, dan ruang kelas.
Masyarakat semakin memandang Mao sebagai figur sejarah dan manusia yang punya keterbatasan, bukan sosok yang didewakan.
Sementara itu, Deng menjadi simbol era ekonomi baru, yakni program reformasi untuk membangun ekonomi pasar di dalam negeri dan membuka ekonomi tersebut kepada dunia.
Namun saat ini, Mao kembali relevan bagi anak muda China. Banyak dari mereka, termasuk Dong, jarang menyebut Mao dengan namanya. Mereka memanggilnya dengan sebutan “Guru”.
Sumber gambar, History/Universal Images Group via Getty Images
Gelar tersebut memiliki asal-usul yang spesifik.
Dalam pertemuan dengan jurnalis Amerika Serikat, Edgar Snow, pada 1970, Mao dilaporkan mengatakan bahwa dirinya tidak menyukai gelar-gelar seperti “Empat Yang Agung”, sebuah slogan politik yang memujinya sebagai guru besar, pemimpin besar, komandan besar, dan nahkoda besar selama Revolusi Kebudayaan.
Ia mengatakan: “Hanya satu yang tersisa… Guru, karena saya selalu seorang guru”.
Dong dan teman-teman sekelasnya bebas membahas Mao secara panjang lebar.
Namun ketika menyangkut pemimpin China saat ini, Xi Jinping, Dong merasa bahwa “itu bukan sesuatu yang bisa didiskusikan secara terbuka”.
Sebuah studi oleh Mercator Institute for China Studies (MERICS) menemukan bahwa meskipun diskusi publik masih mungkin dilakukan di ruang daring China pada tingkatan tertentu, topik yang benar-benar membahas para pemimpin China sering kali sengaja dihindari.
Laporan itu berargumen bahwa “ruang diskusi yang rapuh” ini merupakan hasil dari sensor pemerintah dan swasensor.
‘Bukan sekadar nostalgia’
Menurut pandangan sebagian pakar, perhatian sebagian anak muda kepada Mao berkaitan erat dengan persepsi mereka terhadap isu sosial seperti ketimpangan kekayaan dan menurunnya mobilitas sosial.
Florian Schneider, profesor di Universitas Leiden yang telah lama meneliti budaya politik kaum muda China, mengatakan bahwa anak muda saat ini menghadapi kenyataan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Orang tua mereka hidup pada era ketika pertumbuhan ekonomi tampak meningkatkan taraf hidup semua orang. Namun, banyak anak muda kini merasa tertinggal oleh kemajuan yang dijanjikan reformasi Deng.
Menurut data terbaru dari Biro Statistik Nasional China, tingkat pengangguran perkotaan bagi nonpelajar berusia 16 hingga 24 tahun naik menjadi 17,9% pada Juli 2026, tingkat tertinggi sejak metodologi statistik direvisi tiga tahun sebelumnya.
Istilah-istilah baru telah menjadi bagian dari kosakata sehari-hari anak muda.
“996” merujuk pada bekerja dari pukul 09.00 hingga 21.00, enam hari seminggu.
Banyak yang memilih untuk “rebahan” dan tetap pasif daripada terjebak dalam “involusi” yang melelahkan—situasi ketika seseorang harus bekerja semakin keras hanya untuk tetap berada di posisi yang sama.
Sumber gambar, MAGWIN/Moment via Getty Images
Di tengah latar belakang ini, kritik Mao terhadap kapitalisme punya keterhubungan dengan sebagian anak muda.
Schneider mengatakan sebagian menggunakan gagasan Mao untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap apa yang mereka lihat sebagai “kapital yang menguasai negara”, sementara yang lain menjadikan tulisan Mao sebagai semacam panduan untuk menghadapi kontradiksi kehidupan.
Dong mengungkapkan pandangan serupa:
“Generasi kami diajarkan sejak kecil bahwa kerja keras akan membawa hasil. Tetapi ketika kami benar-benar dewasa, kami mendapati bahwa pekerjaan tidak semudah itu didapatkan dan rumah tidak terjangkau.”
Dia menambahkan bahwa bahasa Mao lugas dan membagi orang ke dalam kategori-kategori yang berbeda.
“Dia memberi tahu khalayak dengan jelas siapa penindas dan siapa yang tertindas. Kerangka yang sederhana itu lebih mudah dipahami daripada jargon ekonomi.”
“Kebangkitan Mao bukan sekadar nostalgia,” kata Schneider.
“Ini mencerminkan upaya anak muda untuk menggunakan bahasa sejarah yang sudah ada guna menamai dan memahami ketimpangan serta ketidakamanan yang mereka alami.”
Energi politik
Pandangan resmi CCP terhadap Mao masih didasarkan pada resolusi 1981: pencapaian Mao adalah yang utama, sementara kesalahannya bersifat sekunder.
Resolusi sejarah bagian ketiga Partai CCP, yang diadopsi pada 2021, menempatkan “kebangkitan besar bangsa China” sebagai pusat narasinya.
Dalam kerangka ini, revolusi Mao sering dipahami sebagai tahap ketika China “bangkit”, mendirikan Republik Rakyat China, menjaga kemerdekaan nasional, dan meletakkan fondasi bagi kebangkitan nasional.
Karena itu, Mao bukan hanya sosok sejarah yang pencapaian dan kegagalannya harus dinilai; ia juga disajikan sebagai salah satu asal-usul narasi kekuatan nasional masa kini.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Schneider meyakini bahwa “kebijakan pendidikan Partai setidaknya memikul sebagian tanggung jawab atas kebangkitan Mao saat ini. Bagi banyak anak muda, China era Mao dibangun di atas fantasi bahwa pemimpin besar ini adalah pahlawan yang tidak dapat dipertanyakan.”
Dia berargumen bahwa banyak anak muda tidak mengenal sisi menghancurkan dari ‘Lompatan Jauh ke Depan’ dan ‘Revolusi Kebudayaan’, atau memiliki pemahaman yang terdistorsi mengenai peran Mao di dalamnya.
Schneider memperingatkan bahwa kekaguman kalangan akar rumput terhadap Mao mengandung energi politik yang lebih besar daripada yang bisa langsung terlihat.
“Ini merupakan perkembangan yang berpotensi eksplosif, karena budaya penggemar Mao yang tumbuh dari bawah ini memiliki karakter populis yang jelas dan tidak selalu akan berhenti pada mempertanyakan metode pemerintahan saat ini.”
Ia membandingkannya dengan ekspresi nasionalisme di China:
“Sentimen populis semacam itu mungkin dapat disensor sampai tingkat tertentu, tetapi sangat sulit untuk sepenuhnya mengendalikannya.”
Bagi Dong dan rekan-rekan sebayanya, “demam Mao” saat ini mungkin masih jauh dari berakhir.
Apakah fenomena itu akan tetap terbatas pada budaya internet atau berkembang menjadi bentuk identitas politik yang lebih bertahan lama masih harus dilihat.