Sumber gambar, Arnold Welianto
Dua lansia dan satu balita penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan meninggal dunia saat berada di pengungsian. Kondisi di pengungsian diduga memperburuk kondisi kesehatan mereka.
Isak tangis pecah di Kampung Lina, Desa Kotagana, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, NTT. Keluarga tak kuasa menahan duka setelah Petrus Ndiwa, 70 tahun, meninggal dunia pada Senin (24/08).
Petrus merupakan salah satu warga yang mengungsi setelah gempa mengguncang Kabupaten Nagekeo.
Setelah beberapa hari menginap di posko pengungsian, kondisi kesehatan Petrus memburuk.
Petrus diketahui memiliki riwayat penyakit asma berat. Kepala Puskesmas Mauponggo, Mikael Eo, mengatakan, Petrus beberapa kali mengeluhkan kesehatannya selama berada di pengungsian.
“Korban beberapa kali mengeluhkan sesak napas,” kata Mikael.
Saat penyakit asma yang diidap Petrus kambuh, keluarga segera membawanya ke Puskesmas Mauponggo untuk mendapatkan pertolongan medis.
Namun, setelah mendapat penanganan, kondisi Petrus tidak kunjung membaik. Dia kemudian mengembuskan napas terakhirnya.
Meninggalnya Petrus menambah daftar warga yang kehilangan nyawa setelah gempa bumi mengguncang wilayah Nagekeo.
Hingga Selasa (25/08), tercatat sudah 13 orang meninggal dunia di Kabupaten Nagekeo pascagempa, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Di Kecamatan Mauponggo, ribuan warga masih bertahan di pengungsian karena khawatir terhadap kemungkinan gempa susulan. Bagi kelompok lanjut usia dan warga dengan penyakit bawaan, kondisi tersebut menjadi tantangan besar.
Suhu malam yang dingin, keterbatasan fasilitas tempat berlindung, serta kekhawatiran akan gempa susulan membuat masa pemulihan pascabencana semakin berat.
Padahal, ada sekitar 2.400 lansia di wilayah tersebut, menurut data Puskesmas Mauponggo.
Lansia dan balita meninggal dunia saat mengungsi
Kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Sikka.
Seorang pengungsi gempa Flores bernama Usman, 66 tahun, meninggal dunia setelah lima hari bertahan di lokasi pengungsian di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/08).
Usman diketahui memiliki riwayat penyakit sebelum mengungsi. Selama berada di lokasi pengungsian, ia tidur beralaskan terpal dan kain seadanya di area terbuka.
Kondisi tersebut diduga memperburuk kesehatannya. Selama lima hari mengungsi pascagempa, Usman mengalami sesak napas dan batuk, hingga akhirnya terjatuh di lokasi pengungsian.
Sumber gambar, Arnold Welianto
Warga kemudian membawanya ke Puskesmas Watubaing untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawa Usman tidak bisa diselamatkan.
“Korban memiliki riwayat sesak, batuk, pilek,” kata Damsik, petugas kesehatan Puskesmas Watubaing.
Jenazah Usman telah dimakamkan di Desa Nangahale pada Kamis (20/08) sore.
Usman juga merupakan salah satu warga Pulau Babi yang direlokasi, setelah gempa dan tsunami di NTT pada 1992.
Lebih dari tiga dekade setelah peristiwa tersebut, ia kembali menjadi korban situasi kedaruratan akibat bencana alam.
Kematian Usman bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Kota Maumere pada tanggal 20 Agustus.
Sebelumnya, dilaporkan pula bahwa balita berusia dua tahun asal Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Mario Calviano Guru, meninggal dunia saat mengungsi.
Mario meninggal pada Kamis (20/08) setelah sempat menjalani perawatan medis di dua rumah sakit, melansir Kompas.com.
Menurut Kapolres Ngada AKBP Gede Harimbawa, Mario mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang saat berada di lokasi pengungsian.
Warga dan petugas kemudian membawanya ke rumah sakit di Kabupaten Nagekeo untuk mendapatkan pertolongan medis.
Karena kondisinya terus memburuk, Mario dirujuk ke RSUD Bajawa di Kabupaten Ngada.
“Karena kondisinya tidak bagus, akhirnya dirujuk ke RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada. Namun, setelah mendapat perawatan, dia mengalami penurunan kondisi dan meninggal dunia,” ujar Gede.
Penanggung Jawab Posko Darurat Nagekeo, Johanes D. Kristianus, mengatakan Mario merupakan warga RT 5 Kampung Puta, Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa. Dia bersama kedua orang tuanya mengungsi ke Bukit Puta sejak 15 Agustus 2026, setelah gempa mengguncang Flores.
Johanes juga menyoroti kondisi pengungsian yang saat itu masih minim fasilitas, termasuk tenda dan kelambu.
Setelah meninggal dunia, jenazah Mario dipulangkan ke Nagekeo dan dimakamkan oleh keluarga.
Tantangan layanan kesehatan
Kerusakan rumah dan ketakutan akan gempa susulan di Pulau Flores, NTT, menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah pengungsi terus bertambah.
Sampai Selasa (25/08), jumlah pengungsi melonjak menjadi 185.131 jiwa.
Tiga kabupaten dengan jumlah pengungsi terbanyak yakni Manggarai sebanyak 50.556 jiwa, Nagekeo 50.358 jiwa, dan Manggarai Timur 31.372 jiwa.
Banyaknya jumlah pengungsi menambah tekanan pada layanan kesehatan.
Sumber gambar, ANTARA FOTO
Dokter Melinda Bella adalah satu-satunya dokter yang bertugas di Puskesmas Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, saat gempa melanda wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/08).
Melinda harus menangani ratusan korban gempa. Banyak dari mereka datang dengan kondisi yang berat. Sementara, bangunan puskesmas hancur dan alat medis terbatas.
“Puskesmas kami sudah runtuh, obat-obatan semua di dalam, tidak bisa diambil. Saya hanya bisa melakukan pemeriksaan dengan stetoskop karena hanya itu yang saya bawa. Dokternya hanya saya sendiri. Jujur saya enggak mampu,” papar Melinda.
Sampai sekarang, Melinda mengatakan mereka masih membutuhkan bantuan logistik, alat medis, hingga tempat tidur pasien.
Di rumah sakit Kabupaten Nagekeo, Dokter Yona Sara Pardede harus melakukan operasi persalinan darurat saat gempa magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/08).
Tanpa cahaya lampu, operasi harus terus dilanjutkan dengan kondisi bayi yang kecil dan sungsang.
Sumber gambar, Arnold Welianto
Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Kabupaten Manggarai, pegawai rumah sakit mengatakan bahwa kondisi rumah sakit terdampak hebat akibat gempa.
Atap serta tembok bangunan roboh sehingga banyak ruangan kehilangan fungsinya, seperti ruang operasi, persalinan, farmasi, sampai laboratorium.
Untuk menanggulangi situasi tersebut, pihak rumah sakit mendirikan tenda darurat bagi para pasien, seraya mempersiapkan ruang medis pengganti sebagai jalan pintas sementara.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Senada, tenaga kesehatan Puskesmas Watubaing, Kabupaten Sikka, juga tetap melayani warga terdampak gempa Flores yang mengungsi di kebun-kebun warga, meski tanpa penerangan.
Di posko itu, para tenaga kesehatan menggunakan cahaya dari handphone untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kepada warga terdampak gempa Flores.
Selain pelayanan di posko kesehatan, para tenaga kesehatan mengunjungi warga terdampak dari tenda ke tenda untuk memberikan pelayanan keseahtan.
Damsik, Petugas Kesehatan Masyarakat Puskesmas Watubaing, mengatakan, selain pelayanan yang tergantung pada cahaya telepon genggam, posko kesehatan itu masih kekurangan obat-obatan karena rata-rata pengungsi mengeluhkan batuk pilek, diare dan alergi.
“Posko di sini rata-rata batuk pilek, diare dengan alergi. Kami tetap melayani kesehatan, tapi obat-obatnya kurang,” katanya Minggu (23/08) malam.
Jumaldi, Warga Desa Nangahale menyatakan harapannya akan perhatian dari pemerintah untuk para tenaga kesehatan yang melayani warga terdampak gempa Flores.
“Kondisi yang kita liat sekarang ini,memang sangat kasihan sekali,” katanya
“Kami harapkan kepada pemerintah daerah ini, coba dilirik dengan mereka-mereka ini.”