‘Saya bisa bunuh, karena kau saya punya hamba’ – Perbudakan di Sumba Timur, warisan kekerasan yang dibalut budaya


Marta (bukan nama sebenarnya) adalah korban perbudakan di Sumba Timur. Selama belasan tahun dia mengalami penyiksaan oleh keluarga maramba atau bangsawan Sumba.

Keterangan gambar, Marta (bukan nama sebenarnya) adalah korban perbudakan di Sumba Timur. Selama belasan tahun dia mengalami penyiksaan oleh keluarga maramba atau bangsawan Sumba.

Sumba menyimpan budaya yang tak biasa: perbudakan. Orang-orang dari kasta sosial paling rendah yang disebut ata atau hamba harus mengabdikan seluruh hidupnya beserta keturunannya untuk melayani maramba atau para bangsawan. BBC News Indonesia menemui dua perempuan korban perbudakan yang mengalami kekerasan fisik hingga seksual selama belasan tahun.

Peringatan: Artikel ini memuat rincian kekerasan seksual yang dapat mengganggu kenyamanan Anda. Identitas korban tidak kami ungkap demi alasan keamanan.

“Biarpun kau pergi ke ujung dunia, saya bisa bunuh, karena kau saya punya hamba,” sepotong kalimat itu tertancap kuat di ingatan Maria.

Selama belasan tahun lamanya, ia dijadikan hamba atau budak di rumah keluarga maramba atau bangsawan Sumba.

Pada akhir Februari 2026 lalu, saya bertemu dengannya. Dia sedang mengasuh dua anak laki-lakinya.





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *