Sumber gambar, AFP via Getty Images
Di tengah anggapan umum bahwa vape atau rokok elektrik ‘lebih aman’ daripada rokok konvensional, hasil studi awal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru menemukan pemakaian vape berpotensi memicu diabetes dan gangguan pankreas.
Ini menjadi peringatan bagi para pengguna usia muda mengingat efeknya bersifat akumulatif jangka panjang.
Selama ini, sejumlah riset sudah mengulas mengenai dampak vape pada paru-paru, jantung, hingga menjadi penyebab kanker. Sedangkan potensi diabetes akibat vape, risetnya masih sangat terbatas.
Namun dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (29/09), Kepala BRIN, Arif Satria, memaparkan bahwa paparan vape berpotensi juga mengganggu produksi insulin yang berperan dalam mengatur kadar gula darah.
“Dampak terhadap diabetes itu sampai 100 persen. Jadi memang dampaknya serius sekali vape itu,” ujar Arif di hadapan para wartawan.
Dari Profil Statistik Kesehatan 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), pengguna terbesar vape berada pada rentang usia 18-59 tahun. Pada kelompok umur yang sama, jumlah pemakai rokok tembakau tetap jauh lebih banyak dibandingkan pengguna vape.
Kendati demikian, Indonesia kini tetap berupaya mengatur regulasi terkait vape. Hasil studi awal BRIN turut menjadi pertimbangan.
Di luar Indonesia, sebanyak 37 negara melarang penjualan rokok elektrik sejak 2021. Alasannya adalah kaitan dengan kesehatan dan antisipasi peredaran narkoba.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Secara terpisah, Anggara (29), pekerja swasta, mengaku memutuskan berhenti memakai rokok elektrik dan jenis lain.
Selama lima tahun, ia bergonta-ganti merokok produk tembakau yang dipanaskan (heated tobacco product) hingga vape. Belakangan, ia menemukan tubuhnya mengalami resistensi insulin.
“Sekitar lima hari, aku menahan diri untuk enggak ngevape ditambah rutin olahraga ringan. Kadar gula darahnya mulai stabil,” kata Anggara.
“Akhirnya, milih berhenti saja. Karena resistensi insulin ini sebenarnya kan akumulasi dari sebelumnya, bukan yang langsung ada,” ujar Anggara yang juga pernah menjadi perokok tembakau konvensional sebelum beralih ke rokok elektrik.
Direktur Center of Health Behavior and Promotion Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Bagas Suryo Bintoro, menjelaskan resistensi insulin merupakan salah satu proses yang dapat mendahului gangguan gula darah sehingga belum berarti sudah menderita diabetes.
Akan tetapi, ada potensi mengarah pada penyakit tersebut apalagi jika orang tersebut memiliki faktor risiko yang melekat dan gaya hidup yang memicu.
Guru besar Bidang Ilmu Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Em Yunir, menambahkan resistensi insulin bisa dipicu oleh inflamasi yang berasal dari banyak penyebab.
Bagaimana metodologi dan hasil studi awal BRIN terkait vape?
Dalam penelitian awalnya, BRIN menggunakan sebanyak 13 sampel liquid vape dari berbagai merek dan rasa untuk mengkaji pengaruh aerosol cairan vape terhadap sel paru-paru dan pankreas yang mengatur gula darah.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan vape bekerja dengan memanaskan cairan atau e-liquid hingga membentuk aerosol yang dihirup ke saluran pernafasan. Cairan ini mengandung propilen glikol dan gliserin sebagai pelarut, lalu ada tambahan nikotin dan berbagai bahan perasa.
“Pada saat dipanaskan, bahan-bahan tersebut tidak hanya berpindah ke aerosol, tapi juga mengalami perubahan kimia yang menghasilkan senyawa lain. Karena itu, penilaian keamanan vape tidak cukup hanya berdasarkan komposisi cairannya. Aerosol yang benar-benar masuk ke tubuh juga perlu diuji,” tutur Indi.
Penelitian BRIN ini memberikan sinyal awal bahwa aerosol dari produk vape yang diuji dapat memengaruhi dua sistem biologis penting:
- Sel paru melalui efek toksik dan respons inflamasi
- Sel pankreas melalui toksisitas dan perubahan sekresi insulin.
Sumber gambar, Dokumen BRIN
Metodologi penelitian dilakukan BRIN secara in-vitro, yaitu menggunakan kultur sel di laboratorium. Untuk melihat pengaruh aerosol pada paru-paru, BRIN menggunakan model sel paru A549.
Hasil pengujian menunjukkan 92% sampel memberikan efek toksik terhadap sel paru-paru secara langsung dan dapat menurunkan kemampuan sel untuk bertahan hidup.
Selain itu, penelitian ini juga mengamati TNF-α, yaitu molekul penanda adanya infeksi yang dilepaskan sistem kekebalan tubuh. Hasilnya, sebanyak 78% sampel terbukti meningkatkan TNF-α.
Artinya, aerosol dari vape ini tidak hanya mengakibatkan kerusakan langsung, tapi juga memicu peradangan yang bisa berakumulasi.
“Apabila paparannya berulang, maka peradangannya dapat memengaruhi fungsi dan pertahanan normal jaringan pernapasan,” ujar Indi.
Untuk itu, hasil uji in-vitro ini memperlihatkan sinyal yang patut diwaspadai.
Sumber gambar, Dokumen BRIN
Selanjutnya, BRIN memperluas penelitiannya pada sel pankreas tikus MIN6 —suatu model sel beta pankreas yang digunakan untuk mempelajari produksi dan pelepasan insulin.
Indi menjelaskan pankreas memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan gula darah.
Ketika kadar glukosa meningkat, sel beta pankreas akan melepaskan insulin untuk membantu glukosa masuk ke jaringan dan digunakan atau disimpan sebagai energi.
“Dengan demikian, perubahan pada kemampuan sel beta menghasilkan atau mensekresikan insulin dapat menjadi petunjuk awal adanya gangguan pada sistem pengaturan gula darah,” kata Indi.
Dari hasil uji yang dilakukan BRIN, sebanyak 69% sampel memperlihatkan efek toksik pada sel pankreas tikus MIN6. Efek beracun terhadap sel pankreas ini disertai penurunan produksi insulin sekitar 20%.
Selain itu, hasil uji juga menunjukkan seluruh sampel terbukti menekan sekresi insulin yang memicu kadar gula darah melonjak tinggi.
“Dampak rokok elektrik terbukti tidak terbatas hanya pada sistem pernapasan. Temuan ini memberikan petunjuk awal yang penting mengenai potensi gangguan pada sistem pengaturan gula darah yang perlu diteliti lebih mendalam.” ujar Indi.
Ia pun menambahkan, perubahan sekresi insulin yang ditemukan pada penelitian ini belum dapat diterjemahkan secara langsung sebagai bukti bahwa penggunaan vape menyebabkan diabetes pada manusia.
Sebab, diabetes merupakan penyakit yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor. Antara lain, genetik, pola makan, obesitas, aktivitas fisik, inflamasi, resistensi insulin, serta fungsi sel beta pankreas.
Sumber gambar, Dokumen BRIN
Ia mengingatkan agar temuan ini diletakkan secara proporsional sesuai tingkat buktinya.
Metodologi in-vitro ini sangat berguna untuk mengidentifikasi mekanisme biologis dan indikator awal potensi yang membahayakan kesehatan, meski memang belum menggambarkan seluruh proses yang terjadi pada organ tubuh manusia.
Selain itu, penting juga memperhatikan besarnya paparan, lama penggunaan, jenis perangkat, suhu pemanasan, komposisi e-liquid, pola penggunaan, serta kondisi kesehatan pengguna dapat memengaruhi risiko.
“Riset ini adalah langkah awal yang solid untuk membangun landasan ilmiah yang komprehensif, mulai dari karakterisasi senyawa, hubungan dosis-respons, paparan berulang, hingga studi lanjutan yang lebih kompleks,” ujar Indi.
“Data tersebut diperlukan agar penilaian risiko dan kebijakan pengawasan vape dapat dibangun berdasarkan bukti ilmiah yang semakin kuat.”
Dari sesak nafas, serangan jantung, sampai resistensi insulin
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama berkata kandungan nikotin dalam vape berdampak buruk pada kesehatan.
Ini sejalan juga dengan temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang tidak hanya menyebut nikotin, tapi juga bahan perasa pada vape. WHO juga menyebut dampak buruk vape terjadi pada kardioavaskuler seperti gangguan jantung, gangguan janin, serta gangguan perkembangan otak pada anak dan remaja.
“Untuk paru, rokok elektrik disebut CDC Amerika Serikat berkaitan dengan EVALI atau kerusakan paru yang berhubungan dengan penggunaan rokok elektrik atau vape,” ujar Tjandra.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI ini juga menambahkan ada sebagian vape yang memiliki tambahan narkotik seperti etomidate yang jelas juga membahayakan kesehatan.
Untuk itu, pengendaliannya menjadi mendesak mengingat pemakainya banyak yang berusia muda.
Data dari BPS memperlihatkan pengguna rokok elektrik terbanyak pada 2023-2025 berada pada kisaran usia 18-59 tahun. Namun, ada juga pengguna yang berusia 15-17 tahun. Persentasenya dari 2023-2025 berkisar pada 1%.
Dalam laporan BPS tersebut, tantangan terbesar dalam pengendalian rokok elektrik terletak pada meningkatnya popularitasnya akibat promosi yang masif dan persepsi keliru masyarakat bahwa penggunaannya tidak berisiko.
Kurangnya pemahaman tentang bahaya jangka panjang serta minimnya regulasi yang tegas juga memperburuk situasi ini.
Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
Yogi (35), pekerja swasta, tak menyangka merokok dan vape membuat jantungnya harus dipasang ring.
Sejak kuliah, Yogi aktif merokok. Namun sekitar 2021, ia mulai beralih ke rokok elektrik. Ketika itu, alasannya karena banyak yang bilang rokok elektrik berupa vape ‘lebih aman’.
Bertepatan dengan keinginan hidup sehat pascapandemi, ia berpikir transisi ini bisa membuatnya berhenti merokok. Pada saat yang bersamaan, ia juga mulai berolahraga.
Hingga pada 2022, ia gencar lari dan rutin berlatih agar bisa ikut event-event lari yang sedang marak. Pertengahan 2023, sesak nafas dan serangan jantung di tengah sebuah event lari membuatnya berhenti merokok sepenuhnya.
“Dokter akhirnya langsung nanya: ‘ngerokok enggak?’ Aku jawab: ‘sekarang ngevape, dulunya ngerokok’. Dokternya ngasih penjelasan kalau ini kayak numpuk masalah. Dari rokok ke vape ya sama aja,” tuturnya.
“Pilihan saat itu adalah pasang ring karena sumbatan di pembuluh darah jantung,” kata Yogi.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Anggara (29), pekerja swasta, mengalami resistensi insulin. Selain memiliki anggota keluarga yang menderita diabetes, ia semula malas berolahraga dan kolesterol tinggi.
Di sisi lain, kebiasaan merokok mulai berjalan ketika bekerja. Hingga awal 2020, ia beralih menjajal rokok elektrik dan juga heated tobacco product (HTP) atau tembakau yang dipanaskan.
Ia tidak mempertimbangkan faktor risiko yang dimilikinya karena merasa usianya belum menyentuh 30-an tahun.
Pertengahan 2025, Anggara melakukan cek gula darah karena penasaran. Ternyata kadar gula darahnya di atas 100mg/dl. Tenaga kesehatan yang memeriksanya menyebut indikasi prediabetes.
Ia pun mengatasi dengan mengurangi konsumsi makanan manis, tapi kadar gula darahnya tetap tidak stabil. Hingga ia disebut mengalami resistensi insulin saat periksa.
“Kadang naik, kadang normal. Tapi mulai khawatir karena aku punya faktor risiko. Aku ngurangin juga segala jenis makanan yang memicu kolesterol karena mikirnya ngaruh kan. Mulai olahraga ringan, jogging atau treadmill. Tetap naik turun,” tuturnya.
Akhirnya, ia disarankan dokter untuk berhenti menggunakan vape dan HTP. Lima hari pertama, ia mendapati kadar gula darahnya stabil. Saat ini, ia sudah berhenti memakai vape hampir lima bulan dengan tetap menjaga pola makan.
Ia pun tidak terkejut saat mendengar kabar hasil studi dari BRIN yang menemukan vape punya potensi memicu diabetes.
Apa kata ahli terkait vape memicu diabetes?
Guru besar Bidang Ilmu Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Em Yunir, menjelaskan penggunaan vape maupun rokok punya potensi kumulatif yang memicu inflamasi dan berujung resistensi insulin.
“Kandungan yang dihirup atau dibakar itu kan walau elektrik, tetap saja ada bahan kimia yang dapat menyebabkan terjadi inflamasi. Memang potensinya tidak langsung, tapi lama-lama bisa muncul inflamasi,” kata Yunir.
Meski begitu, ia mengingatkan tercetusnya diabetes tidak pernah karena faktor tunggal. Ada sejumlah faktor risiko seperti faktor genetik, usia, berat badan, gaya hidup, hingga kadar stres.
“Misal dari keluarga ada faktor, lalu malas gerak, lemak viseralnya tebal terlihat perutnya buncit, usia di atas 40 tahun, dan merokok atau vape pula. Risikonya makin tinggi,” tutur Yunir.
“Belum lagi kalau ada faktor stress, kemudian releasenya dengan vape atau rokok.”
Untuk gejalanya, Yunir berkata semuanya berlaku sama. Umumnya, orang dengan diabetes menjadi banyak makan, banyak minum, dan banyak kencing. Kemudian, gejala khas lain adalah berat badan turun.
“Tapi keluhan seperti ini, makin ke sini seperti tidak sensitif lagi sehingga harus menghitung faktor risiko tadi. Belakangan juga banyak usia muda yang sudah diabetes karena berbagai hal. Karena itu, kalau dirasa punya faktor risiko, cek gula darah sekarang gampang,” kata Yunir.
Ia menambahkan, besaran gula darah puasa lebih dari 100mg/dl itu sudah terhitung prediabetes. Umumnya, sepertiga orang dengan prediabetes akan masuk kriteria diabetes dalam waktu sekitar lima tahun ke depan. Gula darah puasa yang masuk kategori diabetes biasanya di atas 125mg/dl.
Ada juga tes HbA1c yang lebih sensitif dan bisa merekam gula darah yang naik turun dalam beberapa waktu sehingga muncul suatu hasil.
Sumber gambar, AFP via Getty Images
Yunir menambahkan diabetes bisa ditanggulangi, bahkan berubah menjadi tidak diabetes lagi. Tapi jika gula dibiarkan lama dan menumpuk maka bisa menjadi racun bagi pankreas.
“Jadi, bayangkan sel pankreas yang ada berapa ratus miliar itu sedikit-sedikit dirusak oleh gula yang berlebihan. Suatu saat makin banyak yang rusak, makin sedikit yang bersisa, sehingga kemampuan dia untuk menghasilkan insulin menjadi sangat rendah. Akhirnya, doping insulin dari luar,” ujar Yunir.
Meski faktornya tidak tunggal, menghindari vape dan rokok jauh lebih baik. Paparan awalnya adalah dari uap yang masuk ke pernafasan dan kandungan nikotin yang larut dalam aliran darah.
“Itu akan masuk ke dalam sirkulasi, menempel di dinding pembuluh darah. Ada yang di otak, di jantung, di kaki, sampai di organ seksual juga bisa nyangkut di situ,” kata Yunir.
Akibatnya, terjadi penyempitan pembuluh darah dan inflamasi pada organ terkait sehingga kinerjanya menjadi tidak optimal.
Untuk vape, tidak hanya nikotin. Ada dugaan juga terkait bahan perasa yang perlu dikaji dampaknya.
Sumber gambar, LightRocket via Getty Images
Direktur Center of Health Behavior and Promotion Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Bagas Suryo Bintoro, menambahkan mengenai nikotin.
“Salah satu alasan biologis mengapa hubungan antara produk nikotin dan gangguan metabolisme gula darah masuk akal adalah karena nikotin dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan pengaturan glukosa,” ujar Bagas.
Sejumlah penelitian eksperimental dan studi pada manusia menunjukkan bahwa nikotin dapat meningkatkan kadar glukosa, mengganggu toleransi glukosa, dan berkontribusi terhadap resistensi insulin.
Pada kondisi resistensi insulin, sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Tubuh kemudian melakukan kompensasi dengan menghasilkan lebih banyak insulin agar kadar gula darah tetap terkendali.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang dan kemampuan pankreas untuk mempertahankan produksi insulin tidak lagi mencukupi, kadar gula darah dapat meningkat dan berkembang menjadi prediabetes maupun diabetes tipe 2.
“Dengan demikian, nikotin bukan hanya zat yang menyebabkan ketergantungan, tetapi juga memiliki efek biologis yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh,” jelas Bagas.
Nikotin ini juga terdapat dalam vape. Bukti epidemiologis mengenai hubungan vape dengan gangguan metabolisme gula darah juga mulai muncul.
Dalam beberapa analisis, pengguna vape eksklusif menunjukkan kemungkinan lebih tinggi mengalami prediabetes dan resistensi insulin.
Bagas juga menjelaskan diabetes juga terlihat pada kelompok orang yang menggunakan vape sekaligus rokok konvensional.
Rokok konvensional, lanjut dia, telah lama diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.
Sumber gambar, LightRocket via Getty Images
Selain nikotin, asapnya juga mengandung ribuan zat kimia yang dapat berkontribusi terhadap inflamasi, stres oksidatif, gangguan fungsi sel beta pankreas, dan resistensi insulin.
Cairan vape dengan berbagai kandungannya seperti dalam temuan BRIN juga punya potensi memberikan tambahan risiko terhadap kesehatan metabolik sehingga perlu juga diteliti.
Untuk itu, perlu dipahami hubungan diabetes dengan vape tidak sederhana sehingga tidak tepat mengatakan bahwa setiap orang yang menggunakan vape pasti akan mengalami diabetes.
Di sisi lain, tidak tepat pula menganggap vape aman hanya karena belum dapat dikatakan sebagai penyebab tunggal diabetes.
“Bukti biologis mengenai pengaruh nikotin terhadap metabolisme sudah ada, sementara bukti epidemiologis mulai menunjukkan hubungan antara penggunaan vape dengan resistensi insulin dan prediabetes,” jelas Bagas.
Artinya menurut dia, vape bukan produk yang bebas risiko, dan memahami potensi dampaknya sejak dini menjadi penting, terutama ketika penggunaannya semakin luas dan sebagian orang menggunakannya bersamaan dengan rokok konvensional.
“Pada akhirnya, kita tidak perlu menunggu sampai seseorang mengalami diabetes untuk mulai mempertimbangkan risiko tersebut,” ucap Bagas.
“Jika suatu produk mengandung zat yang diketahui dapat memengaruhi metabolisme glukosa dan sensitivitas insulin, maka paparan tersebut layak diperhitungkan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit metabolik.”
Apa kata pemerintah terkait vape?
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman berkata pengendalian rokok elektronik sudah dilakukan melalui UU No. 17 Tahun 2023 tentang kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024, khususnya untuk melindungi anak dan remaja, serta mengatur penjualan, iklan, promosi, distribusi, dan pengawasan.
Kemenkes juga secara khusus mengatur promosi di media digital dengan telah menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.01.07/MENKES/963/2026 tentang pedoman pengawasan iklan rokok elektronik di ruang digital.
“Potensi penyalahgunaan vape untuk narkotika juga menjadi perhatian, sehingga Kemenkes mendukung penguatan sinergi dengan BRIN, BNN, dan kementerian/lembaga terkait dalam pengendalian pemanfaatan produk tembakau khususnya rokok,” ujar Aji.
Ia juga bilang pihaknya mendukung penguatan pengendalian dan terbuka terhadap opsi kebijakan lebih lanjut, termasuk wacana pelarangan secara menyeluruh.
“Bagi Kemenkes, yang utama adalah memastikan kebijakan yang diambil dapat secara efektif melindungi masyarakat dari risiko kesehatan rokok elektronik yang dapat menjadi faktor risiko penyakit kronis,” kata Aji.
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 Kemenkes menunjukkan prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia ≥15 tahun sebesar 11,7%. Angka ini menggambarkan beban diabetes nasional, meski tidak secara langsung menunjukkan hubungan sebab-akibat dengan vape.
Sementara itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) juga akan menindaktegas penyalahgunaan rokok elektrik sebagai medium narkoba.