Interesting News

Kesehatan: Gejala dan risiko dari ‘smiling depression’


'Smiling depression' bukanlah diagnosis yang diakui secara resmi, namun terdapat peningkatan sebesar 50% dalam pencarian istilah tersebut selama lima tahun terakhir.
Keterangan gambar, Smiling depression bukanlah diagnosis yang diakui secara resmi, tapi terdapat peningkatan sebesar 50% dalam pencarian istilah tersebut selama lima tahun terakhir.

Ketika membayangkan seseorang yang mengalami depresi, Anda mungkin berpikir tentang sosok yang kesulitan untuk bangkit dari tempat tidur.

Mungkin juga mereka yang sering menangis, menarik diri dari pergaulan atau hampir tidak memiliki tenaga untuk menjalani hari.

Anda juga mungkin tak membayangkan orang yang sama dapat melontarkan lelucon saat makan malam, memiliki kehidupan sosial yang sibuk, dan bahkan berprestasi dalam pekerjaan.

Namun, bagi mereka dengan kondisi yang disebut smiling depression (depresi yang disembunyikan di balik senyuman), kondisi itu adalah kenyataan yang terjadi.

Bahkan, orang yang tertipu bukanlah teman, pasangan, atau rekan kerja—melainkan Anda sendiri.

Apa Itu smiling depression?

Keterangan gambar, Menurut WHO, sekitar 322 juta orang di seluruh dunia menderita depresi.

Secara medis, smiling depression bukanlah diagnosis yang diakui secara resmi.

Kendati demikian, pencarian terhadap istilah ini di internet mencatatkan peningkatan hingga 50% dalam lima tahun terakhir.

“Kondisi ini menggambarkan seseorang yang tampak bahagia di luar, padahal di dalam dia merasa terpuruk dan depresi,” ujar Olivia Remes, peneliti kesehatan mental dari Universitas Cambridge, Inggris.

Perasaan sedih dan murung merupakan hal yang wajar dialami setiap orang dari waktu ke waktu.

Namun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perasaan itu telah berkembang menjadi gangguan depresi pada 322 juta orang di seluruh dunia.

Depresi ditandai dengan rasa sedih yang berkepanjangan atau kehilangan minat dan kesenangan atas hal-hal yang disukai.

Gejala itu berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, sehingga mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, pola tidur, dan kehidupan sehari-hari.

Namun, depresi tidak selalu menunjukkan tanda-tanda klinis seperti itu.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hingga 40% orang dengan depresi mengalami bentuk atipikal (tidak khas), di mana gejalanya berbeda dari gambaran umum yang biasa dikenali.

Mereka yang mengalami depresi atipikal ini mungkin dapat tidur nyenyak atau makan lebih banyak dari biasanya, dan suasana hati mereka dapat membaik seketika saat terjadi peristiwa yang menyenangkan.

Selain itu, mereka juga cenderung dapat menyembunyikan kondisi psikologis melalui tindakan kamuflase (masking), yaitu upaya menyembunyikan emosi tertentu agar terlihat normal dan menyatu dengan lingkungan sekitar.

Kenapa menyembunyikan depresi?

Sebagian orang yang mengalami smiling depression tidak menyadari bahwa mereka sedang depresi. Jadi, mereka tidak sadar sedang menyembunyikan kondisi itu.

“Mereka mungkin mengira gejala yang dialami hanyalah dampak dari gaya hidup yang sibuk dan penuh tekanan,” kata Remes.

Di sisi lain, ada juga yang menyadari tekanan psikologis itu, tetapi mereka berusaha keras agar tidak diketahui orang lain.

Kondisi ini sangat umum ditemukan pada individu yang perfeksionis dan sangat terorganisir dalam kehidupannya.

“Mereka memiliki standar tinggi untuk diri sendiri dan enggan mengakui kesulitan yang dihadapi, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,” ujar Remes.

Faktor lain adalah kekhawatiran akan stigma sosial, rasa takut menjadi beban bagi orang lain. Lalu, berbagai studi menunjukkan adanya kekhawatiran timbulnya penilaian negatif seperti pada karier dan hubungan pribadi.

Ekspektasi budaya dan keluarga juga turut mempersulit mereka yang mengalami ini untuk terbuka mengenai kesehatan mental mereka.

Apa resiko menyembunyikan depresi?

Para ahli memperingatkan bahwa pura-pura semua baik-baik saja itu berbahaya dan memiliki risiko.

“Depresi membuat terisolasi dan merasa kesepian, padahal salah satu obat terbaik untuk suasana hati yang buruk adalah terhubung dengan orang lain,” kata Barney Dunn, psikolog klinis di Universitas Exeter, Inggris.

Kondisi ini juga berisiko menghambat seseorang mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.

“Tanda-tanda awal ini, jika tidak ditangani dengan baik, dapat berkembang menjadi kondisi kronis dan serius, serta meningkatkan risiko bunuh diri,” kata Remes.

Tujuh tanda depresi yang sering terlewatkan

Sejumlah perubahan perilaku berikut ini sering kali luput dari perhatian, apalagi ketika mampu beraktivitas secara normal:

1. Kehilangan minat pada aktivitas yang disukai

Ketika hal-hal yang biasanya Anda nantikan—seperti berkumpul bersama teman, berolahraga, atau menonton acara TV favorit—mulai terasa sebagai beban, hal itu perlu ditelusuri lebih lanjut.

“Sangat mudah mengaitkan hilangnya rasa senang atau minat atas hobi yang dilakukan sebagai akibat dari kesibukan dan gaya hidup yang serba cepat,” ujar Remes.

2. Tangan atau kaki terasa berat

Kondisi yang dikenal dengan leaden paralysis ini—di mana anggota tubuh terasa berat sehingga gerakan sehari-hari membutuhkan usaha ekstra—bisa menjadi tanda depresi atipikal.

Keterangan gambar, Merasa lebih sensitif terhadap penolakan atau kritik daripada biasanya bisa menjadi tanda depresi.

3. Sering membatalkan rencana mendadak

Anda mungkin tampak sangat ceria saat berada di lingkungan sosial, namun dapat dengan mendadak membatalkan rencana ketika suasana hati memburuk dan tidak lagi mampu menyembunyikan perasaan sebenarnya.

4. Tidur lebih lama—tapi tetap merasa lelah

Anda bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal, tapi energi Anda terus terkuras.

“Waktu malam hari jadi terasa sangat berat,” ujar Remes, “karena mereka dengan kondisi ini bisa merasa kondisi mereka memburuk menjelang akhir hari dan mungkin membutuhkan waktu tidur lebih banyak dari biasanya.”

5. Jadi sensitif terhadap kritik dan penolakan

Komentar singkat dari atasan atau pembatalan janji oleh teman bisa terasa jauh lebih menyakitkan dari biasanya. Rasa sensitif yang meningkat terhadap kritik atau penolakan—yang juga dialami oleh penyandang ADHD—merupakan salah satu ciri depresi atipikal, kata Remes.

6. Menjadi sosok yang paling humoris atau selalu membantu

Mereka yang mengalami depresi tidak selalu menarik diri dari lingkungan sosial. Sebagian di antaranya justru menunjukkan perilaku sebaliknya, seperti menjadi pusat perhatian dalam acara sosial, bekerja secara berlebihan, atau berusaha keras membantu orang lain.

7. Selalu bicara negatif pada diri sendiri

Anda mungkin tampak percaya diri di luar, tapi sangat kritis terhadap diri sendiri. Keraguan diri, perasaan tidak berharga, serta rasa hampa merupakan tanda peringatan yang perlu diwaspadai.

Bagaimana menanganinya?

Istilah smiling depression itu sendiri tidak luput dari kritik para ahli. Meski membantu masyarakat mengidentifikasi kondisi yang dialami, istilah ini dinilai “terlalu menyederhanakan” pengalaman yang kompleks, kata Remes.

“Kata smiling (tersenyum) mengarahkan persepsi pada keceriaan dan kebahagiaan, padahal inti dari kondisi ini adalah rasa putus asa, kehampaan, dan perasaan tidak berharga,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, Profesor Barney Dunn menyarankan untuk memulai langkah kecil dengan berbagi sedikit tentang perasaan Anda kepada seseorang yang Anda percayai.

“Sering kali orang terkejut bahwa keterbukaan ini justru mempererat hubungan, membantu merasa terhubung, dan menyadari bahwa mereka tidak sendirian,” katanya.

Dan, bagi Anda yang sedang berjuang dan mengalami gejala-gejala itu, dia menyarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis professional.

“Ada bukti ilmiah yang kuat bahwa berbicara, penggunaan obat (antidepresan), dan terapi sosial, semuanya efektif untuk menangani kondisi ini,” ujar Dunn.



Source link

Exit mobile version