Bencana: Mengapa lebih banyak penyintas gempa NTT meninggal di pengungsian daripada akibat bencana?


Tenda pengungsian NTT.

Keterangan gambar, Sejumlah pengungsi duduk di bawah tenda pengungsian di Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, Jumat (28/08).

Lebih dari sebulan setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, lebih banyak warga dilaporkan meninggal di pengungsian.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur per 27 September 2026 mencatat, dari 156 korban meninggal dunia, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sementara 107 lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung setelah bencana terjadi.

Temuan itu memunculkan pertanyaan besar: mengapa lebih banyak penyintas meninggal setelah berhasil selamat dari gempa?

Masih banyak warga belum kembali ke rumah. Mereka masih tinggal di tenda-tenda pengungsian yang berdiri di lapangan terbuka, tidak jauh dari kampung yang hancur.

Pada siang hari, panas terperangkap di bawah terpal. Ketika angin bertiup dari arah laut, debu masuk ke dalam tenda dan menempel pada pakaian, peralatan memasak hingga tempat penyimpanan air.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *