Sumber gambar, ANTARA FOTO/Johanes Viandinando
Lebih dari sebulan setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, lebih banyak warga dilaporkan meninggal di pengungsian.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur per 27 September 2026 mencatat, dari 156 korban meninggal dunia, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sementara 107 lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung setelah bencana terjadi.
Temuan itu memunculkan pertanyaan besar: mengapa lebih banyak penyintas meninggal setelah berhasil selamat dari gempa?
Masih banyak warga belum kembali ke rumah. Mereka masih tinggal di tenda-tenda pengungsian yang berdiri di lapangan terbuka, tidak jauh dari kampung yang hancur.
Pada siang hari, panas terperangkap di bawah terpal. Ketika angin bertiup dari arah laut, debu masuk ke dalam tenda dan menempel pada pakaian, peralatan memasak hingga tempat penyimpanan air.
Saat siang, mereka didera panas, dan di malam hari, mereka harus berjuang melawan dingin.
Di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kabupaten Manggarai Timur, seorang perempuan berusia 72 tahun bernama Albina Diem menjadi salah satu wajah di balik angka tersebut.
Albina berhasil selamat ketika gempa menghancurkan kampungnya pada 15 Agustus. Namun beberapa pekan kemudian, saat masih tinggal di pengungsian, ia meninggal dunia.
Menurut Muhammad Asgar, Sekretaris Desa Satar Kampas sekaligus sekretaris posko pengungsi Waso, Albina menjadi satu-satunya warga Dusun Waso yang meninggal akibat dampak tidak langsung bencana, karena kondisi cuaca di pengungsian.
Data BPBD menunjukkan ia mengalami sepsis, pneumonia, dan diabetes melitus tipe 2, di antara kondisi lainnya.
Enam warga lainnya meninggal saat gempa karena tertimpa reruntuhan bangunan.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Kisah serupa muncul di berbagai wilayah di NTT. Data BPBD menunjukkan sebagian besar korban meninggal akibat dampak tidak langsung merupakan kelompok rentan, terutama lansia dengan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, stroke, penyakit jantung dan gangguan pernapasan.
Namun korban juga mencakup warga usia produktif, anak-anak, hingga bayi.
Wawancara jurnalis Eliazar Robert—yang melaporkan untuk BBC News Indonesia— dengan dokter, pengungsi, tenaga kesehatan dan pejabat daerah di Manggarai Timur dan Nagekeo menyebut ribuan penyintas masih hidup di tenda yang panas pada siang hari dan dingin pada malam hari, kekurangan air bersih dan MCK, menghadapi sanitasi yang buruk, meningkatnya kasus diare dan ISPA, serta layanan kesehatan yang ikut terganggu akibat gempa.
Bagi Guru Besar Ilmu Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Prof Dr Eko Teguh Paripurno, tingginya jumlah korban yang meninggal setelah gempa menunjukkan perlunya evaluasi terhadap penanganan pascabencana, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas dan kelompok rentan.
Siapa saja yang meninggal di pengungsian?
Secara nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut mayoritas korban meninggal akibat dampak tidak langsung pascagempa Flores merupakan kelompok rentan, terutama lansia dengan penyakit kronis.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan data tim medis menunjukkan sebagian besar korban meninggal di pengungsian telah memiliki penyakit bawaan sebelum gempa terjadi.
“Data dari tim medis menunjukkan sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis yang sudah diderita, seperti stroke dan diabetes melitus,” katanya pada konferensi pers Kamis (17/09).
Berdasarkan dokumen yang diakses BBC Indonesia dari BPBD Manggarai Timur, gambaran yang lebih rinci terlihat di Kabupaten Manggarai Timur, salah satu wilayah yang menyumbang korban meninggal terbanyak akibat gempa.
Dari 53 korban meninggal yang tercatat hingga pertengahan September, sekitar separuhnya masuk kategori korban dampak tidak langsung atau meninggal setelah gempa terjadi.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Ketika daftar korban itu ditelusuri satu per satu, pola yang muncul cukup mencolok.
Di Manggarai Timur, sekitar tiga perempat korban dampak tidak langsung, sebanyak 25 orang, merupakan lansia atau warga berusia di atas 60 tahun. Banyak di antaranya berusia lebih dari 70 tahun, bahkan terdapat korban berusia 80 tahun, 82 tahun, 85 tahun hingga 90 tahun.
Sebagian besar datang ke pengungsian dengan kondisi kesehatan yang memang sudah rapuh sebelum gempa terjadi.
Nama-nama dalam data tersebut berulang kali disertai riwayat diabetes, hipertensi, stroke, penyakit jantung, asma, pneumonia, gangguan paru kronis hingga sepsis.
Seorang perempuan berusia 72 tahun tercatat meninggal dengan sepsis, diabetes tipe dua, hipertensi dan pneumonia. Korban lain berusia 90 tahun tercatat mengalami dugaan stroke dan syok sepsis.
Ada pula pengungsi yang meninggal dengan riwayat asma, penyakit jantung, diabetes, hingga komplikasi penyakit kronis lain yang membutuhkan pengobatan dan pemantauan rutin.
Namun penyakit kronis bukan satu-satunya pola yang muncul.
Dalam sejumlah kasus, keterangan penyebab kematian yang dicatat BPBD secara eksplisit menyebut syok, tekanan mental, trauma psikologis, trauma akibat gempa susulan, depresi hingga PTSD pascagempa.
Seorang perempuan berusia 55 tahun tercatat meninggal akibat “tekanan mental (shock)”. Seorang lansia berusia 85 tahun dicatat meninggal akibat “trauma dan kaget gempa susulan”. Korban lain berusia 71 tahun dicatat mengalami “depresi karena gempa bumi”.
Temuan itu sesuai dengan pengakuan Theopilus Tahu, Camat Sambi Rampas.
“Mereka statusnya pengungsi, yang meninggal itu kebanyakan syok ketika terjadi gempa lalu memang ada sakit bawaan, usia di atas 70-an,” ujarnya.
Namun daftar korban menunjukkan bahwa kematian akibat dampak tidak langsung tidak hanya dialami lansia.
Dalam kelompok usia produktif terdapat korban berusia 43-55 tahun. Penyebab kematian mereka beragam, mulai dari hipoglikemia pada penyandang diabetes tipe dua, serangan jantung, riwayat stroke yang memburuk setelah gempa susulan, hingga kelelahan ekstrem saat membantu penanganan bencana.
Di Nagekeo, misalnya, seorang perempuan berusia 48 tahun tercatat meninggal setelah mengalami hipoglikemia dan penurunan kesadaran dengan riwayat diabetes tipe dua.
Data juga menunjukkan anak-anak dan bayi tidak sepenuhnya luput dari risiko.
Seorang anak perempuan berusia 11 tahun tercatat memiliki penyakit bawaan dan meninggal setelah sempat dibawa ke rumah sakit usai gempa susulan.
Kemudian, ada kasus seorang bayi perempuan berusia dua bulan meninggal setelah sakit selama satu minggu dan sempat tinggal di pengungsian. Di wilayah lain, seorang balita berusia satu tahun sepuluh bulan yang sebelumnya berada di pengungsian meninggal dengan diagnosis syok sepsis, hipoglikemia, diare berat dan dehidrasi berat.
Dengan kata lain, meskipun lansia mendominasi daftar korban meninggal akibat dampak tidak langsung, data menunjukkan bahwa risiko tersebut menjangkau hampir semua kelompok umur.
Secara keseluruhan, data menunjukkan tiga pola besar penyebab kematian akibat dampak tidak langsung pascagempa Flores.
Pertama, penyakit kronis yang memburuk karena terganggunya pengobatan dan perawatan rutin; kedua, syok, trauma psikologis dan tekanan mental akibat gempa susulan yang berkepanjangan; dan ketiga, penyakit yang muncul atau memburuk selama masa pengungsian seperti ISPA, pneumonia, diare, dehidrasi dan infeksi.
‘Hidup dalam kondisi yang tidak ideal’
Di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, dokter Regina Novita masih mengingat satu per satu pengungsi yang meninggal setelah gempa.
“Untuk di wilayah pengungsian kami sendiri sejak tanggal 15 (Agustus) gempa sampai hari ini terdata empat orang yang meninggal, meninggal dengan kondisi di pengungsian,” katanya.
Empat orang itu bukan korban reruntuhan bangunan.
Mereka berhasil selamat pada hari ketika gempa mengguncang Flores. Namun kondisi kesehatan mereka terus menurun selama tinggal di pengungsian.
“Rata-rata pasien-pasien ini, empat orang ini memang dengan penyakit kronis. Duanya dengan diabetes melitus lalu duanya lagi itu dengan PPOK jadi ada infeksi di paru-parunya,” ujarnya.
Menurut Regina, seluruh korban merupakan kelompok rentan dan berusia di atas 50 tahun.
Sebagian sempat mendapatkan penanganan medis. Sebagian lainnya datang dalam kondisi yang sudah memburuk.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
“Ada yang telah tertangani di posko kesehatan dan ada satu warga pengungsi yang tidak tertangani karena tidak dibawa ke posko kesehatan karena tidak ada riwayat sakit berat yang membuat keluarganya tidak membawanya ke posko,” ujarnya.
Salah satu kisah yang paling membekas baginya adalah seorang pasien diabetes yang terpaksa mengubah pola makannya selama tinggal di pengungsian.
“Kalau yang satunya lagi dia memang pasien diabetes pasien rutin. Selama gempa tidur di posko makannya akhirnya mau tidak mau mi telur sehingga menyebabkan kadar gula nya tidak seimbang lagi,” katanya.
Kondisinya terus menurun.
“Saat kami mau rujuk keluarganya melihat kondisinya sudah cukup parah keluarga memilih untuk pulang dan akhirnya meninggal di posko pengungsian,” ujarnya.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Kepala UPTD Puskesmas Pota Hindrayanti melihat pola serupa.
“Penyebabnya penyakit kronis yang dimiliki oleh mereka ada yang menderita diabetes sampai sudah selulitis jadi kakinya sudah gangren sudah luka. Ada juga yang lansia yang intakenya kurang memang kondisinya kurang napsu makan dengan penyakit bawaannya diabetes juga,” ujarnya.
Menurut Hindrayanti, jenis makanan yang tersedia di pengungsian juga ikut memengaruhi kondisi sebagian pasien.
“Memang mungkin ada kaitannya dengan di pengungsian misal karena rasa tidak nyaman dan lain sebagainya sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh mereka sehingga terus makanan yang mereka konsumsi di pengungsian itu rata-rata makannya mi telur dan lain sebagainya. Jadi untuk pasien-pasien dengan diabetes itu kayaknya kurang cocok untuk makanan-makanan seperti itu menyebabkan penyakitnya memperparah kondisinya,” ujarnya.
‘Debu terasa sekali’
Di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, berbagai persoalan itu hadir dalam kehidupan sehari-hari para pengungsi, termasuk Fitriani. Rumah Fitriani hancur total akibat gempa.
Fitriani kini tinggal bersama suami, anak-anak dan kedua orang tuanya di bawah tenda darurat.
“Rumah seratus persen hancur dan datang mengungsi di sini, karena untuk pulang rumah sudah rata dengan tanah,” kata Fitriani, Rabu (16/09).
Kondisi itu semakin diperparah dengan adanya gempa susulan yang titik gempanya berada tidak jauh dari Dusun Waso, sehingga mereka harus mengungsi di tenda.
Fitriani menyebut, pada siang hari suhu terasa panas, lalu berubah menjadi dingin di malam hari.
Di sela-sela itu debu masuk hampir ke mana-mana.
“Debu terasa sekali, panas, debu,” ujarnya.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Fitriani mengatakan dalam beberapa hari terakhir banyak warga di sekitar tendanya mengalami diare.
Ia mendengar keluhan itu hampir setiap hari.
“Rata-rata hampir semua tenda di sini mengalami mencret, ada yang muntah-muntah, iya diare,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Sariadi, pengungsi lain di Dusun Waso.
Menurut dia, setelah sebulan tinggal di tenda, salah satu persoalan terbesar yang dirasakan warga adalah sanitasi yang tidak memadai.
Tempat sampah masih sangat terbatas. Kondisi lingkungan juga belum tertata dengan baik.
“Sanitasi yang ada ini sedikit mengganggu juga, karena pertama untuk sanitasi tempat-tempat sampah belum diakomodir betul oleh pemerintah,” ujarnya.
Beberapa hari sebelumnya ia sendiri mengalami diare cukup berat.
“Saya juga mengalami sampai tujuh delapan kali ke belakang dan itu mungkin karena sanitasi yang tidak bersih penyebabnya juga, kepanasan dan debu itu juga menjadi salah satu penyebab,” ujarnya.
Apa yang dialami Sariadi ternyata sejalan dengan temuan para tenaga kesehatan.
Menurut dokter Regina Novita dari Puskesmas Pota, kasus ISPA, diare dan penyakit kulit mulai meningkat di banyak lokasi pengungsian.
“Karena memang kondisi sekitar posko itu banyak sampah, berdebu, angin. Sekarang kalau siang angin dan malam dingin sekali jadi masyarakat yang masih bertahan di posko itu diserangnya dengan ISPA, diare, penyakit kulit gatal-gatal
Bagi lansia, anak-anak atau warga yang sudah memiliki penyakit sebelumnya, kondisi seperti itu dapat menjadi faktor yang memperburuk kesehatan mereka.
830 pengungsi, 15 MCK
Keluhan soal sanitasi juga dirasakan soal ketersediaan toilet. Di Dusun Waso, persoalan itu terlihat jelas.
Sekretaris Desa Satar Kampas sekaligus Sekretaris Posko Pengungsian Waso, Muhammad Asgar, mengatakan sekitar 830 jiwa masih tinggal di lokasi pengungsian tersebut, dengan 243 kepala keluarga. Namun jumlah MCK yang tersedia hanya sekitar 15 unit.
Per tanggal 16 September 2026, ada 33 orang yang sakit dan itu adalah lansia. Dan satu orang pengungsi juga meninggal di lokasi pengungsian tersebut.
Menurutnya fasilitas yang ada masih jauh dari cukup untuk melayani seluruh kebutuhan pengungsi.
Dampaknya mulai terlihat dari meningkatnya keluhan penyakit pencernaan.
“Buruknya sanitasi dan keterbatasan MCK sudah banyak warga pengungsi yang mengalami diare karena pola makan para pengungsi yang tidak teratur selama berada di tenda pengungsian selama satu bulan ini,” ujarnya.
Karena fasilitas yang terbatas, sebagian warga terpaksa mencari alternatif lain.
“Karena keterbatasan MCK juga sehingga warga akhirnya buang hajat di tempat sembarangan, seperti di gunung atau ke laut,” ujarnya.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Muslim Yusuf, pengungsi berusia 59 tahun asal Dusun Waso, yang rumahnya juga rusak akibat gempa, mengatakan persoalan MCK masih menjadi kebutuhan yang mendesak. Ia bilang, hanya ada satu MCK portabel dengan dua bilik, tapi jumlahnya sangat kurang karena di lokasi pengungsian tersebut ada lebih dari 50 jiwa yang mengungsi.
“Masih belum bisa mengakomodir seluruh anggota tenda di sini sehingga kita sangat masih mendambakan itu MCK dua bilik atau tiga bilik lagi,” ujarnya.
Fitriani menyampaikan hal serupa.
“MCK untuk ditenda sini ada satu di belakang, terus untuk WC umumnya baru mau dibuat, sementara dibangun,” ujarnya.
Masalah yang sama juga ditemukan di Pota.
Di posko pengungsian terpusat yang dihuni ribuan orang, dokter Regina Novita mengatakan hanya ada dua toilet sekolah yang digunakan bersama.
“Dari segi jumlah memang kurang, mengingat banyaknya pengungsi dengan toilet yang hanya ada dua saja yang disediakan, itu memang masih kurang,” ujarnya.
Satu tandon air untuk ratusan orang
Dalam pengamatan di posko pengungsian di Pota, hanya terlihat satu tandon air berkapasitas sekitar 3.000 liter, untuk melayani para penyintas yang masih tinggal di lokasi tersebut.
Di sekitar tenda, terlihat berbagai aktivitas berlangsung dalam ruang yang sempit.
Warga memasak, mencuci dan menyimpan perlengkapan rumah tangga di area yang sama. Di beberapa titik, selokan terlihat dipenuhi sampah.
Peralatan memasak dibiarkan di ruang terbuka sehingga mudah terkena debu. Penampungan air juga terlihat terbuka.
Dokter Regina mengatakan air minum masih menjadi salah satu kebutuhan mendesak baik di pengungsian terpusat maupun pengungsian mandiri.
“Kalau untuk sekarang ini mungkin air minum kemudian MCK untuk toilet, kamar mandi bersama itu yang mesti diperhatikan lagi,” ujarnya.
Regina juga mengkhawatirkan kualitas air yang dikonsumsi warga.
Menurut dia, banyak keluarga kehilangan rumah, kehilangan tabungan dan kehilangan sumber penghasilan. Dalam kondisi demikian membeli air kemasan secara terus-menerus bukan pilihan yang mudah.
“Kalau harus beli air di kios dengan kondisi perekonomian sekarang rumahnya sudah hancur, simpanan uangnya sudah mulai menipis maka mereka akan lebih memilih minum air yang direbus sendiri dan belum tentu juga bersih,” ujarnya.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Di Lambaleda Utara, dokter Melinda Bella melihat persoalan yang sama.
“Selama ini tempat-tempat yang terdampak gempa itu sanitasinya sangat buruk, ketersediaan air bersih maupun untuk air MCK maupun untuk minum pun sangat sulit,” ujarnya.
Ketika memberikan pelayanan kesehatan ke sejumlah kampung, ia menemukan warga yang harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkan air bersih.
“Selama saya pengobatan warga itu sangat susah mendapatkan air bersih, air untuk mandi maupun air untuk minum,” ujarnya.
“Bahkan yang tinggal di atas gunung itu bisa mengambil air itu istilahnya di bagian bawah harus melewati naik turun gunung untuk mendapatkan air yang bersih,” katanya.
Aktivitas itu dilakukan hampir setiap hari. Menurut Melinda, tidak sedikit warga yang akhirnya mengeluh nyeri badan dan sakit pinggang karena harus memikul air melewati medan yang berat.
Ketika akses kesehatan terhambat
Banyak korban yang meninggal di pengungsian merupakan pasien dengan penyakit kronis yang sebelumnya membutuhkan kontrol kesehatan berkala dan konsumsi obat secara rutin.
Mereka bukan hanya membutuhkan makanan dan tempat tinggal, tetapi juga pemeriksaan berkala, obat diabetes, obat hipertensi, pemeriksaan laboratorium, hingga akses cepat ke rumah sakit ketika kondisi mereka memburuk.
Namun setelah gempa, akses terhadap layanan kesehatan ikut terganggu.
Kondisi itu terlihat jelas di Kampung Nangarema, Desa Haju Wangi, Kecamatan Lambaleda Utara, salah satu wilayah yang rutin didatangi tenaga kesehatan dari Puskesmas Dampek.
Untuk mencapai kampung tersebut, tenaga kesehatan harus melewati jalan sempit, menyeberangi kali kecil dan menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Dampek. Kampung itu tidak memiliki puskesmas pembantu. Warga yang sakit harus berobat ke wilayah lain.
“Memang jarak agak lumayan, lumayan jauh,” ujar Dokter Melinda Bella.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Menurut Melinda, bahkan sebelum gempa akses menuju pelayanan kesehatan sudah tidak mudah. Setelah gempa, situasinya menjadi lebih sulit lagi.
Saat melakukan pelayanan kesehatan keliling ke Nangarema dan desa-desa lain, Melinda berkali-kali menemukan pasien yang seharusnya datang kontrol ke puskesmas namun tidak dapat melakukannya.
“Mungkin akses yang sulit dan kendaraan. Seperti tadi ada beberapa pasien yang harusnya obatnya diambil di puskesmas karena tidak tersedia di sini dan harus melakukan pemeriksaan di puskesmas. Tapi pasiennya tidak bisa pergi. Kenapa? Karena mereka terkendala transportasi,” ujarnya.
Menurut Melinda, persoalan tersebut menjadi sangat penting dalam konteks kematian para pengungsi.
Sebab sebagian korban yang meninggal akibat dampak tidak langsung merupakan pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan rutin untuk mengontrol diabetes, hipertensi, penyakit jantung maupun penyakit kronis lainnya.
“Bisa saja ada pasien-pasien yang harus kontrol rutin dan harus mengambil obat secara rutin tapi karena situasi terus terjadinya gempa susulan sehingga para korban itu tidak mengambil obat atau tidak memeriksakan kesehatannya,” ujarnya.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Kondisi ini juga diperparah oleh keterbatasan tenaga medis. Di Kecamatan Lambaleda Utara yang terdiri dari 11 desa, hanya terdapat satu dokter umum. Melinda harus melayani wilayah kerja Puskesmas Dampek yang mencakup delapan desa sekaligus membantu menjangkau wilayah-wilayah terdampak lainnya.
Bahkan ketika pasien berhasil menjangkau fasilitas kesehatan, tantangan lain masih menunggu.
Satu bulan setelah gempa, sejumlah fasilitas kesehatan di Flores masih belum kembali beroperasi secara normal.
Di Kabupaten Nagekeo, misalnya, pelayanan kesehatan di RSUD Aeramo masih berlangsung di rumah sakit lapangan yang dibangun dari tenda-tenda darurat.
Pelayanan yang dipindahkan ke tenda tidak hanya mencakup layanan dasar. Unit gawat darurat, rawat inap, poliklinik, administrasi, ruang operasi hingga intensive care unit (ICU) seluruhnya masih berlangsung di bawah tenda.
Direktur RSUD Aeramo, Dokter Chandrawati, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena sekitar 80 persen bangunan rumah sakit tidak lagi layak digunakan.
“Seluruh ruang pelayanan terdampak gempa,” ujarnya.
Dari luar bangunan rumah sakit masih tampak berdiri. Namun hasil asesmen menunjukkan sebagian besar ruangannya berstatus merah dan tidak layak digunakan. Hanya beberapa ruangan seperti laundry, ruang gizi dan kamar jenazah yang masih dapat dimanfaatkan.
Akibatnya pelayanan kesehatan berlangsung dalam kondisi yang jauh dari ideal.
“Kondisi sangat tidak ideal, kondisi benar-benar tidak berstandar, kondisi benar-benar darurat,” ujarnya.
Di dalam tenda, pasien harus bertahan menghadapi udara panas pada siang hari dan dingin pada malam hari. Tempat tidur pasien berdempetan tanpa sekat yang memadai. Sistem oksigen yang sebelumnya terpusat juga tidak dapat digunakan lagi sehingga rumah sakit harus mengandalkan tabung-tabung oksigen.
Persoalan berikutnya adalah peralatan medis.
“Kondisi suhu panas itu juga mengakibatkan beberapa alat di laboratorium tidak bisa bekerja dengan baik mengalami kerusakan,” ujar Chandrawati.
Rumah sakit kini juga menghadapi ancaman berikutnya: musim hujan.
“Yang saya kuatirkan pada saat hujan becek, tergenang jadi pelayanan di tenda akan sulit kemudian banyak listrik juga dan tanah di sini tanah lumpur,” ujar Chandrawati.
“Pelayanan di tenda-tenda saat musim hujan akan sulit dilakukan,” tambahnya.
Kematian di pengungsian tidak boleh dianggap wajar
Guru Besar Ilmu Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Prof Dr Eko Teguh Paripurno, mengatakan tingginya jumlah korban meninggal akibat dampak tidak langsung seharusnya menjadi bahan evaluasi penanganan pascabencana.
Menurut Eko, kematian yang lebih banyak terjadi setelah bencana dibanding saat gempa berlangsung menunjukkan perlunya melihat kembali bagaimana pengelolaan pengungsi dilakukan.
Ia menegaskan kondisi di Flores tidak bisa serta merta digeneralisasi sebagai gambaran penanganan pengungsi di semua daerah. Pada sejumlah bencana lain, termasuk gempa Yogyakarta, jumlah kematian pascabencana tidak lebih tinggi dibanding korban langsung saat bencana terjadi.
“Kalau dilihat itu kan ini permasalahan pada penanganan pascabencana. Lebih ke gimana pengelolaan pengungsi,” katanya.
Sumber gambar, BBC Indonesia/Eliazar Robert
Menurut Eko, berbagai laporan dari Flores sejak awal tanggap darurat menunjukkan adanya kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian.
Meski sebagian besar korban yang meninggal merupakan lansia atau memiliki penyakit kronis, hal itu menurutnya tidak dapat dijadikan alasan untuk menganggap kematian tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari.
“Kita nggak boleh permisif atas kematian itu. Dengan alasan apa pun itu, misalnya itu lansia, punya penyakit bawaan. Itu nggak bisa. Justru itu kita harus menangani dengan baik,” ujarnya.
Ia mengatakan tingginya angka kematian semestinya menjadi refleksi untuk mengevaluasi apakah standar minimum penanganan pengungsi telah dijalankan dengan baik.
“Kita bisa cek bahwa kita sudah menjalankan mandat sesuai standar minimum penanganan pengungsi atau tidak,” katanya.
Menurut Eko, salah satu pelajaran terpenting dari data korban jiwa di Flores adalah perlunya memberikan perhatian lebih besar kepada kelompok rentan.
Kelompok lanjut usia yang hidup dengan stroke, diabetes, hipertensi, penyakit jantung maupun gangguan kesehatan lain membutuhkan perlakuan yang berbeda dengan pengungsi pada umumnya.
“Karena itu kelompok rentan, kita harus refleksi dan memperbaiki penanganan kelompok rentan. Lansia, yang stroke macam-macam. Jangan jadi pembenaran bahwa kematian di pengungsian itu sah-sah saja,” ujarnya.
Eko juga menyoroti kemungkinan adanya korban yang luput dari jangkauan pelayanan karena tidak tinggal di pengungsian utama.
Menurut dia, gempa sering menghasilkan banyak pengungsian mandiri, terutama ketika warga masih memilih bertahan di dekat rumah yang rusak atau di lahan milik keluarga.
Karena itu perhatian tidak boleh hanya terfokus pada posko-posko utama.
“Jangkauan terhadap penyintas yang ada di posko-posko mandiri itu perlu dicek ulang. Karena gempa itu sangat mungkin banyak posko mandiri,” katanya.
Selain lansia, Eko menilai perempuan dan anak-anak juga harus menjadi prioritas perlindungan selama masa pengungsian.
Ia mengingatkan risiko kekerasan terhadap perempuan maupun persoalan perlindungan kelompok rentan lainnya dapat meningkat ketika ribuan orang tinggal dalam kondisi darurat untuk waktu yang lama.
Untuk jangka pendek, Eko menilai prioritas utama adalah memastikan kebutuhan dasar para penyintas terpenuhi.
“Air bersih, sanitasi, pelayanan kesehatan yang menjangkau semua titik, yang nggak hanya di lokasi pengungsian,” katanya.
Sementara dalam jangka lebih panjang, pemerintah perlu mempercepat transisi dari tenda pengungsian menuju hunian sementara.