Sumber gambar, Jonathan Le Blanc
Kreator konten Jonathan Le Blanc sudah dapat merasakan bumi bergetar saat mendaki Gunung Dukono, gunung berapi setinggi 1.273 meter di Halmahera Utara, Maluku Utara.
Ketika mengintip ke bibir kawah di puncak gunung, kameranya merekam semburan gas dan abu bersuhu sangat tinggi yang meluncur ke udara.
Tiba-tiba, ia menutupi mulutnya dan bergegas menuruni gunung.
“Ada gas beracun, kita harus lari sekarang,” katanya kepada kamera, sementara kakinya beberapa kali terpeleset saat mempercepat langkah menuruni lereng.
Bagi kreator konten dan penggemar media sosial, gunung berapi dapat menjadi lokasi yang spektakuler. Namun, pihak berwenang mengatakan sejumlah pencari sensasi mengabaikan peringatan dan melanggar aturan. Konsekuensinya bisa berakibat fatal.
“Gunung berapi bisa menjadi objek yang sangat menarik untuk sebuah video karena merupakan sesuatu yang tidak banyak orang bisa lihat,” kata Le Blanc dalam panggilan video.
“Rasanya seperti berada di sebuah film yang berlatar di lokasi berbahaya,” tambahnya. “Saya bisa memahami mengapa tempat seperti ini menarik bagi para pencari sensasi.”
Sumber gambar, AFP/@NURNA MAHMUD
Le Blanc adalah seorang travel blogger yang videonya dari lokasi-lokasi terpencil dan sulit dijangkau di berbagai belahan dunia ditonton ratusan ribu kali secara daring.
Dia mendaki Gunung Dukono pada April 2025. Setahun kemudian, tempat itu menjadi lokasi tragedi.
Pada Mei 2026, tiga wisatawan meninggal dunia setelah mendaki hingga ke kawah, meskipun larangan pendakian gunung tersebut telah diberlakukan beberapa pekan sebelumnya.
Polisi setempat mengatakan kelompok itu mengabaikan peringatan, seraya menambahkan bahwa “banyak (pendaki) merupakan wisatawan asing yang ingin membuat konten (media sosial).”
Namun, saudari tiri salah satu wisatawan yang meninggal mengatakan kepada media lokal bahwa ia tidak mengikuti perjalanan itu hanya demi foto-foto media sosial, melainkan karena kecintaannya pada alam.
Le Blanc mengatakan ia selalu mematuhi aturan setempat dan tidak pernah meminta pemandu lokal membawanya ke area yang tidak nyaman untuk dikunjungi.
“Kami sangat menekankan aspek keselamatan,” katanya. “Pada saat yang sama, kami juga berusaha menyeimbangkannya dengan pembuatan video yang tetap menarik untuk ditonton.”
Namun, tidak semua orang bersikap demikian. Sebagian orang bersedia mengambil risiko yang lebih besar.
Menurut Perhimpunan Pemandu Gunung Indonesia, antara 2022 hingga Agustus tahun ini, sebanyak 116 orang tewas di kawasan pendakian. Sebanyak 27 kematian di antaranya disebabkan oleh erupsi gunung berapi.
Dengan keterbatasan infrastruktur di daerah-daerah terpencil, tim penyelamat lokal yang menangani keadaan darurat semacam ini juga menghadapi risiko sangat besar.
Sumber gambar, Agam Rinjani
Agam Rinjani sangat memahami apa yang dapat terjadi ketika perjalanan ke gunung berapi berakhir dengan malapetaka.
Pada 2025, penyelamat asal Indonesia itu menjadi sorotan di dunia maya setelah mempertaruhkan nyawanya dalam sebuah operasi yang sangat sulit.
Dia merupakan bagian dari tim beranggotakan 50 orang yang terlibat dalam evakuasi jenazah Juliana Marins, wisatawan asal Brasil berusia 26 tahun yang terjatuh ke kawah Gunung Rinjani, gunung berapi setinggi 3.726 meter.
Keberaniannya menuai banyak pujian di internet, tetapi bahaya yang dihadapi selama misi tersebut masih membekas dalam ingatannya.
“Setelah evakuasi itu, alhamdulillah saya masih hidup. Saya sempat berkata kepada diri sendiri bahwa saya tidak mau melakukan ini lagi, karena menakutkan,” katanya. “Namun setelah itu, saya mendapat panggilan untuk mengevakuasi korban kecelakaan pesawat di Makassar baru-baru ini dan saya berangkat ke sana. Sulit untuk menolak.”
Rinjani mengatakan sejumlah pendaki tetap sibuk merekam dengan ponsel bahkan saat sedang dievakuasi. Salah satunya adalah seorang pendaki yang terjatuh sekitar 200 meter ke bawah dari sebuah gunung.
“Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari ponselnya untuk mulai merekam. Saya berkata, ‘Tidak’, lalu memasangkan tali pengaman evakuasi ke tubuhnya.”
Dia khawatir para pelancong yang kurang siap tidak hanya membahayakan diri mereka sendiri, tetapi juga para petugas yang harus menyelamatkan mereka.
“Ketika Anda tidak memperhatikan keselamatan, dampaknya bisa menyulitkan diri Anda sendiri, keluarga Anda, orang-orang di sekitar Anda, tim penyelamat, keluarga mereka, bahkan para petugas. Ketika kecelakaan terjadi, beban yang ditanggung begitu banyak orang menjadi sangat besar,” katanya.
Sumber gambar, Jonathan Le Blanc
Kekhawatiran Agam juga disuarakan oleh Siti Sumilah Rita Susilawati, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Indonesia.
Dia ingin para kreator konten lebih berperan dalam mendorong wisata gunung berapi yang bertanggung jawab, serta mempromosikan cara-cara berkunjung yang lebih aman, alih-alih mendukung pelarangan akses ke lokasi berbahaya yang ingin dikunjungi sebagian orang.
“Kami ingin para influencer membantu mengampanyekan bagaimana menikmati keindahan gunung dengan cara yang bertanggung jawab,” katanya.
“Kita harus bertanggung jawab, bukan hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap orang lain yang akan terdampak oleh tindakan kita. Jika Anda benar-benar seorang pemburu gunung berapi, Anda harus memahami tanggung jawab yang menyertainya.”
Gunung-gunung berapi aktif yang menakjubkan, seperti puluhan gunung yang tersebar di kepulauan Indonesia, akan terus menarik perhatian orang-orang yang penasaran.
Bagi pihak berwenang, tantangannya tetap sama: menyeimbangkan akses bagi publik dengan upaya memastikan keselamatan para kreator konten yang mencari gambar atau rekaman sempurna.
Silvano Hajid Maulana berkontribusi terhadap liputan ini.