Sumber gambar, Getty Images
Sebuah penelitian terbaru menduga kuat bahwa perubahan iklim berkontribusi pada longsoran batuan dan gletser yang memicu banjir dahsyat di perbatasan Nepal dan Tibet, akhir Agustus lalu. Berbasis riset ini, Nepal akan mengajukan klaim finansial sebesar US$ 20 juta (Rp354 miliar) kepada PBB.
BBC mendapat informasi soal rencana Nepal itu dari lembaga PBB lainnya, yaitu Badan Dana Respons Kerugian dan Kerusakan (FRLD). Organisasi ini bertugas membantu negara-negara menangani dampak perubahan iklim.
“Sudah tidak diragukan lagi bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia berperan dalam menciptakan kondisi yang memicu bencana ini,” kata Friederike Otto, ahli klimatologi dari Imperial College London, yang turut menyusun riset tersebut.
Sekitar 1.400 orang tewas akibat bencana tersebut, sementara 6.150 orang lainnya masih hilang, menurut data resmi pemerintah Nepal per 16 September lalu.
Kelompok studi lintas negara, World Weather Attribution, menyebut bencana di Nepal dan Tibet dipicu “peristiwa majemuk” akibat kenaikan suhu, gletser yang menipis, lapisan tanah beku yang mencair, serta kelemahan kondisi geologis yang telah terjadi sebelumnya.
Akhir Agustus lalu, banjir besar dan longsor menerjang berbagai kota serta desa-desa di perbatasan Nepal dan Tibet. Peristiwa itu menyebabkan ribuan orang tewas atau hilang serta menghanyutkan ribuan rumah dan merusak infrastruktur energi.
Para akademisi menilai banjir itu diawali runtuhnya dinding batuan dan es gletser di dekat puncak Langtang Lirung. Ini adalah gunung yang berada di sisi Nepal dari pegunungan Himalaya.
Material yang runtuh tersebut menghantam dasar lembah dengan kekuatan begitu besar, hingga tercatat sebagai gempa berkekuatan magnitudo 5,2 menurut data United States Geological Survey (USGS).
Sumber gambar, AFP via Getty Images
“Perubahan iklim merupakan faktor yang memperbesar ketidakstabilan pada kerentanan geologis yang telah terjadi sebelumnya,” demikian pernyataan World Weather Attribution, Kamis (17/09).
Namun mereka menyebut perubahan iklim bukanlah satu-satunya penyebab bencana tersebut.
Menurut penelitian mereka, suhu selama Juli dan Agustus lalu di kawasan tersebut sekitar 1,5 derajat Celsius. Suhu di kawasan itu menjadi lebih hangat akibat pengaruh aktivitas manusia terhadap iklim.
Lapisan es atau gletser di wilayah tersebut juga menipis sekitar setengah meter setiap tahun. Kondisi itu disebut memperlemah retakan yang sudah ada dan meningkatkan ketidakstabilan.
Sumber gambar, Getty Images
Curah salju yang tinggi pada Oktober dan November tahun 2025 juga menambah volume air lelehan dalam jumlah besar pada awal tahun ini.
Kombinasi berbagai faktor tersebut disinyalir saling berinteraksi dan memperkuat peristiwa majemuk ini, menurut para peniliti World Weather Attribution.
Nepal sebelumnya telah bersiap mengajukan citra satelit dan laporan awal mengenai banjir itu untuk mendukung permohonan bantuan dana dari PBB.
Namun kini laporan World Weather Attribution menjadi bukti terkuat yang mendukung klaim mereka.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Menurut riset World Weather Attribution, massa batuan di bawah permukaan Nepal juga melemah karena dua faktor. Pertama, gempa berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang kawasan itu pada 2015. Kedua, longsoran batuan dan es yang terjadi akibat gempa tersebut.
Namun hingga saat ini tidak ada laporan yang dianggap paling otoritatif untuk memastikan sejauh mana dampak gempa tahun 2015 terhadap bencana yang terjadi Agustus lalu.
Menurut akademisi World Weather Attribution, Walter Immerzeel, yang merupakan ahli hidrologi pegunungan dari Universitas Utrecht, Nepal dan Tibet memiliki kawasan yang rentan secara geologis.
Menurut Immerzeel, kawasan itu”kemungkinan telah dilemahkan oleh gempa 2015 dan semakin tidak stabil akibat penyusutan gletser dan mencairnya lapisan tanah beku permanen.
Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images
Studi World Weather Attribution belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah berbasis telaah sejawat.
Namun World Weather Attribution mengklaim seluruh studi yang mereka lakukan menggunakan metode yang sama dan telah melewati proses telaah sejawat, terkait analisis peristiwa cuaca ekstrem.
Temuan World Weather Attribution memperkuat pandangan sejumlah pakar yang disampaikan tidak lama setelah bencana di Nepal dan Tibet itu terjadi.
Beberapa akademisi berkata kepada BBC, kenaikan suhu di kawasan Himalaya berpotensi menjadi salah satu faktor yang memicu longsoran batuan dan gletser.
Menurut Simon Cook, pakar gletser dari Universitas Dundee, meskipun sulit mengaitkan satu peristiwa tunggal secara langsung dengan perubahan iklim, pemanasan global pada akhirnya membuat ekosistem pegunungan tinggi menjadi semakin tidak stabil.
Cook juga mengatakan, laporan World Weather Attribution merupakan studi yang sangat berharga untuk memahami penyebab mendasar dari bencana tersebut.
Sumber gambar, Prakash MATHEMA / AFP via Getty Images
Meski penelitian World Weather Attribution memberikan “bukti yang cukup kuat bahwa perubahan iklim merupakan faktor utama”, Cook menilai komunitas akademik belum bisa menjelaskan secara pasti bagaimana kaitan itu saling terhubung.
“Masih banyak yang perlu dipelajari mengenai proses-proses yang terlibat, serta apa yang dapat kita lakukan untuk memantau wilayah pegunungan tinggi ini guna memberikan peringatan dini terhadap kejadian serupa pada masa mendatang,” kata Cook.
Usai bencana Agustus lalu, pemerintah Nepal menyerukan upaya global yang lebih besar untuk mengatasi perubahan iklim.
Mereka menekankan bahwa Nepal merupakan salah satu negara dengan kontribusi emisi gas rumah kaca yang sangat rendah, tapi termasuk yang paling rentan terhadap dampak pemanasan global.
Dalam kunjungan luar negeri pertamanya sebagai Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah dijadwalkan tampil di Sidang Umum PBB di New York, pekan depan. Dia berencana membahas isu keadilan iklim.