Kisah para kuli perempuan di Bali, mengangkut pasir hingga mengasuh anak


Nengah Riadi

Sumber gambar, Christine Nababan

Keterangan gambar, Nengah Riadi, kuli perempuan asal Kintamani, Bangli.

    • Penulis, Christine Nababan
    • Peranan, Wartawan di Bali
  • Waktu membaca: 9 menit

Pepatah ‘gantungkan cita-citamu setinggi langit’ berujung pahit bagi Ni Komang Metri (44), seorang kuli bangunan asal Tabanan, Bali. Perempuan itu harus mengubur mimpinya dalam-dalam menjadi penulis atau guru agama karena hanya mengenyam pendidikan tingkat SMP.

Komang memegang kuat prinsip tusing ngelah rasa angayubagia (tidak memiliki rasa syukur atau tidak tahu berterima kasih) jika ia bersungut-sungut mengerjakan pekerjaan yang identik dengan pekerjaan laki-laki tersebut.

“Dinikmati,” ujarnya sembari menitikkan air mata

Komang ditemui di sebuah proyek bangunan indekos di Denpasar Barat, yang tengah digarapnya dalam beberapa bulan terakhir. Di sana, Komang menceritakan pekerjaan kuli bangunan yang sudah ditekuninya selama dua dekade.

Pagi-pagi sekali Komang bangun untuk mengurus keluarganya sebelum berangkat dari rumahnya di Kabupaten Tabanan menuju Kota Denpasar setiap hari, Senin sampai Sabtu.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *