1965: Cerita para penyintas kamp penahanan terbesar di Indonesia


Pulau Buru

Keterangan gambar, Sudiro, mantan tahanan politik Pulau Buru, kini sudah berusia hampir satu abad.

Sebanyak lebih dari 10.000 orang dikirim ke Pulau Buru untuk menjalani agenda “pembersihan” komunis. Sejak awal mereka ditangkap, pengadilan yang layak tidak pernah dilakukan. Tentara meringkus mereka dan membuangnya ke Pulau Buru. Ini kisah para penyintas yang masih hidup.

Namanya Sangidu. Hingga kini, berdekade-dekade sejak 1965, dia meyakini bahwa dirinya tak bersalah. Tapi, keyakinan itu tak cukup untuk menghindarkannya dari penangkapan saat 1965 pecah.

Usia Sangidu baru 17 tahun ketika dia dipanggil untuk menghadap kepala desa. Dia baru saja masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta. Tanpa berpikir macam-macam, pergilah Sangidu menemui kepala desa di kantor kecamatan.

Sangidu salah. Perjumpaan dengan kepala desa menjadi awal dari semua petaka yang dia rengkuh.

“Kalau pertanyaannya mengapa (saya) ditahan, itu (saya) banyak yang enggak mengerti (alasannya),” ucapnya kepada BBC News Indonesia di Yogyakarta, awal Agustus lalu.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *