Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain
Amerika Serikat dan China bersaing ketat untuk menjadi yang terdepan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), sembari berupaya memastikan teknologi tersebut tetap berada di bawah kendali manusia.
“Siapa pun yang memenangkan AI, MENANG!”
Presiden AS Donald Trump secara terus terang mengungkapkan ambisinya di bidang kecerdasan buatan (AI), sekaligus menyebut siapa yang ia anggap sebagai pesaing utama Amerika Serikat: China.
Mitra sejawatnya di China, Xi Jinping, memang tidak pernah menyatakan hal itu secara gamblang. Namun, tampaknya ia memiliki pandangan yang serupa.
“China sangat melihat ini sebagai sebuah perlombaan. Mereka benar-benar meyakini bahwa China harus menjadi kekuatan terdepan dalam AI. Bagi mereka, AI adalah alat untuk memperbesar kekuatan negara,” ujar Rebecca Arcesati dari Mercator Institute for China Studies.
Bukti mengenai pandangan tersebut dapat dilihat jauh melampaui retorika para pemimpin kedua negara.
AI telah menjadi salah satu pilar utama ambisi teknologi China selama lebih dari satu dekade, terlepas dari seberapa sering Xi menekankannya di depan publik.
Bagi Trump, mengungguli China dalam perlombaan menuju supremasi AI jauh lebih penting dibandingkan risiko yang mungkin ditimbulkan teknologi tersebut bagi manusia, sesuatu yang pernah ia sebut sebagai “tipuan”.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China memperingatkan bahwa “narasi ancaman” dan konfrontasi justru menghambat tata kelola AI global.
Beijing menyerukan kerja sama internasional untuk memastikan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
Karena itu, ketika kedua presiden duduk berhadapan pada Kamis, hanya sedikit isu yang lebih penting dibanding ambisi mereka di bidang AI.
Apa yang mereka katakan dan putuskan tidak hanya akan memengaruhi hubungan AS dan China, tetapi juga dapat berdampak pada arah perkembangan teknologi ini di seluruh dunia.
Sumber gambar, Reuters
Siapa yang memimpin perlombaan AI: AS atau China?
Tidak diragukan lagi bahwa Amerika Serikat dan China merupakan dua pemimpin global dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Tapi, siapa yang berada di posisi terdepan sangat bergantung pada tolok ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan.
Perusahaan-perusahaan Amerika masih unggul dalam pengembangan apa yang dikenal sebagai frontier models, yakni model AI tercanggih yang mencatat kinerja tertinggi dalam berbagai pengujian.
Sebagian besar sistem dengan performa terbaik saat ini berasal dari perusahaan seperti Anthropic, Google, dan OpenAI.
Pada Februari 2025, model AI buatan perusahaan China DeepSeek sempat “menyamai model terbaik Amerika Serikat untuk sementara waktu”.
Sebagian keunggulan Amerika Serikat berasal dari besarnya investasi yang mengalir ke perusahaan-perusahaan AI terdepan.
Laboratorium pengembang AI di garis depan industri menghabiskan dana dalam jumlah sangat besar untuk membangun infrastruktur yang diperlukan guna melatih model-model generasi berikutnya.
Sumber gambar, Getty Images
Pasar saham Amerika Serikat tengah menikmati lonjakan, dan sebagian besar pertumbuhan ekonomi negara itu kini ditopang oleh pesatnya perkembangan serta prospek keuntungan besar dari perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI).
Hal itu setidaknya dapat menjelaskan mengapa Presiden Donald Trump memandang AI sebagai salah satu kunci keberhasilan dan daya saing Amerika Serikat di masa depan.
Faktor lain yang membatasi kemampuan China untuk mengejar ketertinggalan adalah serangkaian pembatasan luas yang diberlakukan pemerintah AS terhadap perusahaan-perusahaan Amerika.
Aturan tersebut melarang penjualan mikrocip canggih kepada perusahaan-perusahaan China, padahal komponen itu merupakan elemen penting dalam pengembangan model AI paling mutakhir.
Tanpa akses yang memadai terhadap cip berperforma tinggi, perusahaan-perusahaan China menghadapi tantangan yang lebih besar dalam membangun dan melatih sistem AI generasi terdepan.
Keunggulan China
Meski pembatasan ekspor cip terus diberlakukan, model-model AI baru bermunculan hampir setiap bulan di kedua negara.
Namun, belum jelas apa yang sebenarnya dimaksud dengan “memenangi” perlombaan AI, atau bahkan apakah perlombaan itu memiliki garis akhir.
Banyak perusahaan kini berlomba mengembangkan artificial general intelligence (AGI), bentuk teoretis kecerdasan buatan yang mampu belajar, bernalar, dan menjalankan beragam tugas pada tingkat yang setara atau bahkan melampaui kemampuan manusia.
Sejauh ini, industri AI China tidak terlalu berfokus pada penciptaan model paling mutakhir.
Sebaliknya, mereka banyak merilis apa yang dikenal sebagai model open-weight, yaitu model yang dapat diunduh dan dimodifikasi, mirip dengan perangkat lunak sumber terbuka (open source).
Pendekatan ini berbeda dengan strategi banyak perusahaan AS yang lebih mengandalkan model berpemilik (proprietary), yang umumnya hanya dapat diakses melalui layanan berlangganan berbayar atau platform perusahaan.
Model-model open-weight asal China dirilis dengan cepat. Berbagai tolok ukur menunjukkan bahwa model AI terbaik China hanya tertinggal beberapa bulan di belakang para pesaingnya dari AS.
Model seperti Kimi K3, yang dikembangkan Moonshot AI, menjadi populer baik di China maupun di luar negeri karena kinerjanya mendekati model-model terdepan, tetapi tetap dapat diunduh dan disesuaikan secara gratis.
Menurut Lizzi Lee, analis China dari Asia Society Policy Institute, fokus Beijing lebih diarahkan pada penerapan teknologi AI secara luas ke seluruh sektor perekonomian.
“AI bukanlah perlombaan menuju bulan,” ujar Lee.
“AS mungkin memimpin di garis depan pengembangan teknologi, tetapi China tetap dapat memperoleh keuntungan ekonomi dan geopolitik yang sangat besar dengan membuat AI yang canggih menjadi murah, terbuka, dan tersedia secara luas.”
Sumber gambar, Future Publishing via Getty Images
AI juga membutuhkan pasokan energi yang sangat besar, dan dalam hal ini China berada pada posisi yang sangat menguntungkan, kata Rebecca Arcesati kepada program Tech Life di BBC World Service.
“Perusahaan-perusahaan AI China dapat memperoleh akses listrik yang mereka butuhkan dengan biaya yang jauh lebih rendah, dan itu benar-benar menjadi keunggulan,” ujarnya.
Di bidang robotika, yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai salah satu cabang AI yang berpotensi mengubah dunia, China telah menjadi produsen robot terbesar di dunia.
Federasi Robotika Internasional memperkirakan lebih dari dua juta robot kini beroperasi di pabrik-pabrik di negara tersebut.
China juga merupakan produsen robot humanoid terbesar di dunia. Menurut lembaga kajian independen Chatham House, lebih dari 90% pengiriman robot humanoid global pada paruh pertama tahun ini berasal dari China.
Menurut Lian Jye Su, analis dari perusahaan riset teknologi Omdia, para pengembang AI China menunjukkan “ketahanan dan inovasi yang luar biasa” meskipun menghadapi keterbatasan akses terhadap cip-cip canggih buatan Amerika Serikat.
Tetapi, sejumlah pejabat AS dan perusahaan AI menuduh pengembang di China memperkecil kesenjangan tersebut melalui teknik yang dikenal sebagai distillation, yakni metode yang memungkinkan suatu model AI belajar dari model yang lebih maju.
Menanggapi tudingan itu, Kementerian Luar Negeri China mengatakan perkembangan AI di negara tersebut didorong oleh visi “konsultasi yang luas dan kontribusi bersama untuk manfaat bersama”.
Kekhawatiran soal keamanan?
China dan Amerika Serikat mungkin terlibat dalam persaingan sengit, tetapi pendekatan kedua negara terhadap persoalan keamanan AI sangat berbeda.
Sementara sebagian pelaku industri belakangan memperingatkan bahwa AI berpotensi menimbulkan ancaman eksistensial bagi umat manusia, para peneliti di China tampaknya tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut.
Mereka justru lebih fokus pada potensi penyalahgunaan teknologi AI dan risiko perang siber.
Menanggapi berbagai kekhawatiran mengenai AI, Trump mengatakan Amerika Serikat sudah memiliki aturan yang memadai. Menurutnya, satu-satunya pembatas yang dibutuhkan AI adalah seorang presiden yang “ber-IQ tinggi”.
“Saat ini kami unggul jauh dari China dan semua negara lain, dan kami akan mempertahankan posisi itu,” kata Trump pekan ini.
Ia menambahkan bahwa AS tidak akan “menghambat pertumbuhan sesuatu yang akan lebih besar daripada revolusi industri”.
Menurut Jayant Dave, kepala keamanan informasi di perusahaan keamanan siber Check Point Software Technologies, Washington memprioritaskan inovasi dan berupaya mengurangi regulasi demi “memastikan laboratorium-laboratorium Amerika tetap berada di posisi terdepan”.
Sumber gambar, VCG via Getty Images
Beijing mengambil pendekatan yang berbeda dibandingkan strategi AS yang cenderung memberikan keleluasaan lebih besar kepada industri.
Xi menyerukan agar para pemimpin China mencermati secara ketat berbagai risiko yang ditimbulkan AI serta memastikan teknologi tersebut selalu “berada di bawah kendali manusia”.
Menurut Jayant Dave, China mengadopsi pendekatan yang relatif hati-hati dan terkoordinasi secara terpusat.
Negara itu telah memperkenalkan pedoman mengenai penggunaan data dan algoritma bahkan sebelum banyak negara lain melakukannya, yang membantu menjawab berbagai kekhawatiran mendasar terkait AI.
Jonathan Sim, pengajar etika AI di National University of Singapore, mengatakan pedoman semacam itu memang tidak mengikat secara hukum.
Namun, aturan tersebut menetapkan ekspektasi yang jelas sekaligus tetap memberi ruang bagi para pengembang untuk berinovasi.
Bisakah AS dan China bekerja sama?
Meski seruan untuk kerja sama internasional terus disampaikan, masih belum jelas bagaimana dua negara adidaya AI ini berencana menangani potensi bahaya teknologi tersebut, jika memang mereka berniat melakukannya.
Menurut Jayant Dave, Amerika Serikat dan China sebelumnya pernah bekerja sama dalam menghadapi ancaman eksistensial seperti senjata nuklir.
Namun, kerja sama itu didasarkan pada pemahaman bersama mengenai besarnya ancaman yang dihadapi, sesuatu yang saat ini belum terlihat dalam konteks AI.
“Washington khawatir kemampuan AI berkembang di luar kendali. Beijing khawatir kemampuan tersebut mengancam stabilitas dalam negeri,” katanya.
Trump telah menolak usulan untuk memperlambat pengembangan AI secara menyeluruh di tingkat industri. Menurutnya, langkah itu justru dapat memberi kesempatan bagi para pengembang China untuk memperkecil ketertinggalan.
Menjelang pertemuan Trump dan Xi, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng membahas pembentukan mekanisme pemberitahuan untuk insiden-insiden AI yang serius.
Leia Wang, analis kebijakan dari Carnegie Endowment for International Peace, menilai nada pernyataan Trump terhadap China dalam beberapa pekan terakhir memang “lebih konfrontatif”.
Tetapi, fakta bahwa AI diperkirakan menjadi salah satu agenda pembahasan dalam pertemuan kedua pemimpin tersebut merupakan “langkah awal yang baik”.
Meski demikian, Wang mengingatkan agar tidak muncul “versi tidak sehat dari narasi perlombaan” yang dapat terus dipelihara dan berpotensi semakin memperuncing persaingan sengit antara kedua negara di bidang AI.
