Interesting News

Sepak bola: Rangkaian kontroversi Bos FIFA, Gianni Infantino


Gianni Infantino merayakan 10 tahun menjabat sebagai presiden FIFA pada 26 Februari 2026.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Gianni Infantino merayakan 10 tahun menjabat sebagai presiden FIFA pada 26 Februari 2026.

Gianni Infantino telah menjabat sebagai Presiden FIFA selama 10 tahun. Periode tersebut diwarnai reformasi, ekspansi, dan—belakangan ini—kontroversi.

Infantino terpilih dengan mandat menyelamatkan badan pengelola sepak bola dunia. Dia diangkat ketika FIFA sedang diguncang tuduhan korupsi dan setelah pendahulunya, Sepp Blatter, mengundurkan diri.

Keuangan FIFA saat itu berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dilaporkan terdapat defisit anggaran sebesar US$550 juta (sekarang setara Rp9,9 triliun) akibat hengkangnya para sponsor.

Pada sosok Infantino, dunia sepak bola seperti telah menemukan sosok pemimpin yang dapat diandalkan.

“Saya akan bekerja tanpa lelah untuk mengembalikan sepak bola ke FIFA, dan mengembalikan FIFA ke sepak bola,” ujar Infantino kala itu.

Sepuluh tahun berlalu, tidak ada keraguan bahwa FIFA kini berada dalam kondisi keuangan yang sangat sehat.

FIFA diperkirakan bakal membukukan rekor pendapatan sebesar US$13 miliar (Rp234,7 triliun) untuk siklus tiga tahun yang berakhir pada akhir 2026.

Namun, angka-angka itu hanya menceritakan sebagian dari kenyataan yang ada.

Pendapatan itu terdorong oleh penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub yang kontroversial, hingga ajang Piala Dunia yang mematok harga tiket terbesar sepanjang sejarah.

Ide terbaru dari Infantino dan FIFA untuk menjual saham kompetisinya—termasuk Piala Dunia—kepada investor swasta menuai kritik tajam.

Meskipun Infantino sempat berselisih dengan serikat pemain dan otoritas sepak bola Eropa, ia tetap bertahan di posisi yang sangat kuat di puncak kepemimpinan sepak bola dunia.

Ini adalah rangkaian kontroversi pada masa kepemimpinan Infantino dan warisan yang ia tinggalkan.

‘Hari baru, fajar baru’

Banyak orang yang mungkin sudah lupa bahwa orang yang sebenarnya digadang-gadang mengganti Blatter sebagai Presiden FIFA adalah Michel Platini.

Namun, setelah Platini terseret dalam skandal di organisasi itu—meskipun ia dan Blatter belakangan dibebaskan sepenuhnya dari tuduhan korupsi—Infantino didorong maju sebagai kandidat pilihan UEFA.

Sebagai sekretaris jenderal badan pengelola sepak bola Eropa, Infantino telah menjadi tangan kanan Platini selama tujuh tahun.

Namun, ia adalah sosok ‘juru selamat’ yang terbilang tidak biasa—seorang pria yang sebenarnya tak terlalu dikenal oleh penggemar sepak bola umumnya.

Bagi sebagian besar orang, ia hanyalah sosok yang kerap memandu acara pengundian (draw) Liga Champions.

Sepuluh tahun berselang, sulit rasanya menemukan penggemar sepak bola yang tidak mengenali wajahnya.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Infantino adalah orang yang mengatur undian Liga Champions, sebelum menjabat presiden FIFA.

Membenahi FIFA bukanlah tugas yang mudah.

Departemen Kehakiman AS telah mendakwa sejumlah besar anggota eksekutif FIFA sehingga organisasi itu memerlukan reformasi menyeluruh hingga ke akar-akarnya.

Dua halaman dari deklarasi publik Infantino berisi rencana menggandakan dana pembangunan bagi asosiasi anggota.

Dana itu ditujukan untuk kompetisi baru, infrastruktur, hingga menutup biaya perjalanan bagi negara-negara kecil.

Rencana ekspansi Piala Dunia juga tercantum di dalamnya, meski awalnya direncanakan menjadi 40 tim. Dalam kurun waktu satu tahun, keputusan tersebut diresmikan menjadi turnamen berformat 48 tim.

Proses pemilihannya sebagai orang nomor satu FIFA berlangsung sangat ketat.

Pada putaran pertama pemungutan suara, Infantino memimpin atas Sheikh Salman bin Ebrahim al-Khalifa—Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC)—dengan selisih tipis 88 melawan 85 suara.

Infantino mampu mengungguli pesaingnya secara signifikan setelah 34 suara yang awalnya ditujukan untuk Pangeran Ali bin al-Hussein dari Yordania dan eksekutif asal Prancis, Jerome Champagne, dialihkan ke dirinya.

Hasil akhirnya menunjukkan angka 115 suara melawan 88.

“Ini adalah hari baru, fajar baru,” kata Greg Dyke, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), menyambut kemenangan Infantino.

“Dia bukanlah seorang politisi dan tidak mementingkan ego,” tambah Dyke.

Sementara itu, Infantino menyatakan dirinya akan “memulihkan citra FIFA”.

“Ini adalah uang Anda, bukan uang Presiden FIFA,” kata Infantino kepada para delegasi.

“Uang FIFA harus digunakan untuk memajukan sepak bola.”

Infantino membuktikan ucapannya. Namun, demi menghasilkan lebih banyak uang, FIFA harus berpikir kreatif.

Infantino jadi sorotan saat Piala Dunia 2022 di Qatar

Penyelenggaraan Piala Dunia 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar yang penuh kontroversi sudah menanti di meja kerja Infantino sejak awal.

Proses pemungutan suara untuk penentuan tuan rumah turnamen itu telah diselimuti kontroversi atas tuduhan konspirasi dan kesepakatan gelap, tetapi keputusannya sudah terlanjur dibuat.

Pada tahun-tahun awal masa jabatannya, Infantino cenderung berada di balik layar.

Baru ketika Piala Dunia 2022 bergulir di Qatar, ia mulai tampil lebih dominan di hadapan publik.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Infantino menjadi sorotan utama dengan pidatonya sebelum Piala Dunia 2022 di Qatar.

Di bawah tekanan dan kritik tajam yang terus-menerus terkait hak-hak pekerja serta tuduhan perbudakan modern di Qatar, Infantino memberikan perlawanan balik.

Dia pertama kali mengecam apa yang sebutnya sebagai “kemunafikan” dan “rasisme” dari media-media Eropa terhadap Qatar, sebelum kemudian menyampaikan pidato kontroversialnya mengenai diskriminasi.

“Hari ini saya merasa sebagai orang Qatar,” ujarnya. “Hari ini saya merasa sebagai orang Arab. Hari ini saya merasa sebagai orang Afrika. Hari ini saya merasa sebagai seorang gay. Hari ini saya merasa sebagai penyandang disabilitas. Hari ini saya merasa seperti seorang pekerja migran.”

Di setiap pertandingan yang ia hadiri, kamera televisi selalu mengarahkan sorotan kepadanya di bangku penonton.

Hal itu bukan tanpa alasan.

Berbagai laporan—yang enggan dikomentari oleh FIFA—mengindikasikan bahwa para pengarah sinematografi televisi diberi arahan agar Infantino ditampilkan setidaknya satu kali di setiap pertandingan, namun tidak saat ia sedang menggunakan ponselnya.

Infantino mulai memicu kontroversi

Pasca-Piala Dunia Qatar, Infantino makin sering menghiasi tajuk berita utama—mulai dari rencana pemilihan tuan rumah, pembentukan turnamen baru, hingga pernyataan bernada merendahkan terkait perilaku fans Inggris.

Infantino sebelumnya berjanji akan menggelar Piala Dunia Antarklub dengan format yang diperluas di musim panas, tak lama setelah ia terpilih pada 2016.

Rencana itu sempat mengalami beberapa kali penundaan, namun—dua hari sebelum final Piala Dunia 2022—FIFA akhirnya mengumumkan bahwa turnamen tersebut akan tetap dilaksanakan pada 2025 dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumahnya.

Kebijakan itu menempatkan turnamen berskala besar pada periode musim panas, waktu yang biasanya digunakan untuk masa pemulihan para pemain.

FIFA membantah klaim dari serikat pemain (Fifpro) dan World Leagues’ Association yang menyatakan bahwa mereka tidak diajak berkonsultasi mengenai hal itu.

Kemudian berlanjut pada penunjukan unik lokasi penyelenggaraan Piala Dunia 2030 dan 2034.

Diputuskan bahwa Piala Dunia 2030 akan digelar di tiga benua—Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan. Keputusan itu secara otomatis membuat edisi 2034 harus dialokasikan ke wilayah Asia atau Oseania.

Tanpa adanya pesaing yang realistis, skema itu secara praktis menjamin Arab Saudi—negara lain yang juga disorot terkait rekor hak asasi manusianya—menjadi tuan rumah.

Di bawah kepemimpinan Infantino, Arab Saudi dan FIFA memang telah membina hubungan yang sangat erat.

Federasi Sepak Bola Norwegia memilih mengambil sikap abstain dalam proses voting tersebut dan berargumen bahwa proses penawaran (bidding) itu merusak “reformasi FIFA untuk tata kelola yang baik” serta mengikis “kepercayaan terhadap FIFA”.

Pada Mei 2024, terungkap bahwa Infantino menerima kenaikan gaji sebesar 33%—yang ditetapkan oleh komite independen—setelah ia terpilih kembali pada tahun sebelumnya.

Gaji pokoknya naik dari sekitar £1,7 juta (Rp41,2 miliar) pada 2022 menjadi £2,3 juta (Rp55,7 miliar).

Di luar itu, ia juga berhak menerima bonus sebesar £1,5 juta (Rp36,3 miliar), angka yang tidak mengalami perubahan.

Infantino, yang mengantongi penghasilan sekitar £1,3 juta (Rp31,5 miliar) saat pertama kali terpilih pada 2016, kini besaran pendapatannya mendekati pembayaran gaji tahunan terakhir Sepp Blatter yang mencapai £2,6 juta (Rp63 miliar).

Meski demikian, hasil penyelidikan FIFA menunjukkan bahwa di era Blatter, para eksekutif teras mendapatkan bonus dalam jumlah yang amat fantastis hingga mencapai jutaan poundsterling.

Pada November 2024, menjelang bergulirnya Piala Dunia Antarklub dengan format baru, FIFA memamerkan trofi barunya—yang diukir dengan pesan penghormatan pribadi.

“Terinspirasi oleh Presiden FIFA Gianni Infantino,” bunyi ukiran tersebut.

Infantino semakin dekat dengan Trump

UEFA merasa kian gerah dengan manuver Infantino serta hubungan dekatnya dengan Presiden AS, Donald Trump.

Puncaknya terjadi pada Mei 2025. Infantino yang baru saja menyelesaikan tur diplomatik ke Timur Tengah bersama Trump, terlambat hadir selama dua jam pada Kongres FIFA.

UEFA menuduh Infantino lebih memprioritaskan “kepentingan politik pribadi” dan melakukan aksi walk-out sebagai bentuk protes.

Kondisi ini berlanjut pada ajang Piala Dunia Antarklub musim panas lalu, yang diwarnai dengan pemandangan banyaknya kursi kosong di stadion.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Infantino dan Donald Trump telah menjalin hubungan yang sangat dekat, dan presiden AS tersebut dianugerahi Hadiah Perdamaian FIFA perdana.

Namun, saat Infantino mengumpulkan media di Trump Tower, ia dengan percaya diri menyatakan turnamen itu “sudah menjadi kompetisi klub paling sukses di dunia”.

Pada bulan Desember, acara pengundian untuk Piala Dunia musim panas ini dikemas secara panjang, mewah, dan terkesan berlebihan.

Infantino menjadi pusat perhatian utama, sementara Trump dianugerahi Penghargaan Perdamaian FIFA yang menuai kontroversi.

Dalam kurun waktu sepekan setelahnya, muncul pengumuman mengenai tingginya harga tiket untuk babak final.

Harga tiket babak penyisihan grup melonjak hingga tiga kali lipat dibanding Piala Dunia 2022, dan tiket termurah untuk laga final di New Jersey dibanderol seharga £3.119 (Rp75,5 juta).

Sempat sedikit melunak, Infantino membela penetapan harga itu dan mengklaim angka itu mencerminkan tingginya permintaan publik yang “benar-benar luar biasa”.

Infantino menegaskan seluruh pendapatan itu akan disalurkan kembali ke dunia sepak bola, sembari mengklaim “tanpa FIFA, tidak akan ada sepak bola di 150 negara”.

Dia juga masih sempat melakukan satu kesalahan lagi di hadapan media sebelum menginjak usia 10 tahun kepemimpinannya.

Awal bulan ini, ia harus menyampaikan permohonan maaf setelah menyebut sebagai hal yang “sangat spesial” karena tidak ada warga negara Inggris yang ditangkap selama gelaran Piala Dunia 2022.

Kontroversi Piala Dunia dan gelombang penolakan investasi

Infantino semakin menyedot perhatian publik luas, sekaligus memanen kritik tajam, selama gelaran Piala Dunia musim panas ini yang dihelat di AS, Meksiko, dan Kanada.

Turnamen ini sudah memicu kegaduhan bahkan sebelum bola pertama ditendang, di mana proses visa menuju Amerika Serikat mengalami penundaan—bahkan penolakan—bagi para pendukung, staf kepelatihan, hingga pejabat resmi.

Pada Mei, markas latihan tim nasional Iran untuk turnamen ini dipindahkan ke Meksiko setelah pihak AS secara tegas menolak menjadi tuan rumah bagi tim itu akibat ketegangan politik antara kedua negara.

Insiden itu disusul oleh nasib wasit asal Somalia, Omar Artan—satu dari 52 perangkat pertandingan yang ditunjuk untuk bertugas di turnamen itu—yang dilarang masuk saat tiba di Bandara Internasional Miami.

FIFA menolak untuk campur tangan atas nama Artan, dengan dalih pihaknya “tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah”.

Ketika kompetisi akhirnya dimulai, hubungan Infantino dengan Trump kembali menjadi sorotan publik saat Presiden AS itu meminta FIFA membatalkan sanksi larangan bertanding satu laga untuk Folarin Balogun.

Dampak buruk pasca-Piala Dunia masih berlanjut awal pekan ini tatkala FIFA membuka sidang disiplin terhadap Argentina atas perilaku tim itu usai kekalahan di laga final melawan Spanyol serta sepanjang berlangsungnya turnamen.

Kemudian pada Rabu lalu, Infantino menawarkan dana sebesar £30 juta (Rp727 miliar) kepada seluruh 211 asosiasi anggota FIFA jika mereka mau mendukung rencana kontroversialnya untuk menjual sebagian saham di kompetisi-kompetisi utama organisasi itu—termasuk Piala Dunia.

Dalam rencana itu, FIFA akan mendirikan anak perusahaan komersial untuk mengelola ajang-ajang utamanya. Sedangkan, investor luar nantinya dapat membeli saham di perusahaan itu.

Namun, negara-negara UEFA sepakat untuk memboikot seluruh kompetisi FIFA di masa depan jika usulan itu disahkan.

Terlepas dari serangkaian kontroversi yang ada, satu fakta tetap tak terbantahkan: hingga saat ini belum ada oposisi atau tandingan yang benar-benar berarti bagi Infantino.

Meskipun pria berusia 55 tahun ini mungkin dihujani kritik di Eropa, bagi belahan dunia lainnya ia dianggap telah membawa perubahan nyata.

Ya, ini memang soal uang. Namun uang yang dialokasikan untuk perkembangan sepak bola.

Ia telah meningkatkan beberapa negara sepak bola termiskin dan terkecil dengan menyediakan kucuran dana melalui pembangunan infrastruktur dan pengembangan.

Infantino juga membuktikan janjinya bahwa FIFA akan mengedepankan transparansi—dengan memublikasikan besaran gaji seluruh eksekutif puncak dan memastikan dana tetap berputar di dalam ekosistem sepak bola.

Setelah terpilih kembali tanpa perlawanan pada 2019 dan 2023, ia kini mendekati tahun pemilihan berikutnya pada 2027.

Infantino masih akan dapat mencalonkan diri kembali, meskipun statuta FIFA membatasi masa jabatan presiden maksimal tiga periode.

Hampir separuh dari total 211 suara dipegang oleh wilayah Asia dan Afrika—dua kawasan yang merasakan manfaat besar dari lonjakan dana yang sangat signifikan tersebut.

Versi dari artikel ini pertama kali diterbitkan pada Februari 2026.



Source link

Exit mobile version