Interesting News

Pendidikan: Murid SD di Pemalang meninggal usai diduga dipukul dan ditendang kakak kelas


Ilustrasi: Seorang anak SD tampak sedih dan ketakutan karena menjadi korban perundungan.
Keterangan gambar, Ilustrasi: Seorang anak SD tampak sedih dan ketakutan karena menjadi korban perundungan.

Seorang murid sekolah dasar (SD) di Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia. Dia diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan oleh kakak kelas di sekolahnya.

Orang tua korban mengaku kekerasan yang menimpa anaknya, M, terjadi saat jam istirahat dan dilakukan setidaknya oleh tiga murid lain. Mereka berharap polisi untuk segera mengungkap secara gamblang kasus itu guna memberi keadilan bagi putranya.

Polisi dijadwalkan memeriksa para terduga pelaku perundungan pada Senin (05/10). Sebelumnya, jenazah korban telah diautopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Kasus ini menambah panjang rentetan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat setidaknya ada 36 kasus kekerasan fisik, dari total 100 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang Januari hingga September 2026.

Lalu, apa yang diketahui sejauh ini dari kasus itu dan mengapa kasus kekerasan di sekolah terus berulang?

Bagaimana kronologi kasus di Pemalang?

Keterangan gambar, Foto ilustrasi kampanye anti-perundungan.

“Saya sebagai orang tua tidak tahu. Anak kami tak bercerita kalau ternyata seperti itu (dipukuli kakak kelasnya),” ucap Diah Indrianti, ibu dari M, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, pada Minggu (04/10).

M yang berusia tujuh tahun meninggal dunia, pada Rabu (30/09), usai diduga menjadi korban pemukulan oleh kakak kelasnya seusai jajan di kantin sekolah.

Padahal, menurut cerita kakak Diah, bernama Yani, keponakannya pemalu dan mandiri. “Dia itu anaknya pendiam, sudah gitu pemalu,” katanya.

“Terus dia kalau sekolah itu paling semangat, dia pagi-pagi udah bangun sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri,” sambung Yani.

Karena anaknya pendiam, Yani bilang, dirinya dan Diah tidak tahu kalau anaknya menjadi korban bullying di sekolah.

Kekerasan yang dialami baru diketahui saat keluarga membawa M menjalani pemeriksaan dokter, pada Kamis (17/09).

Pasalnya, kata Diah, M mengeluhkan sakit perut hingga tidak bisa berjalan.

“Dokter lalu bilang ini bukan riwayat penyakit, bukan pula dari pola makanan. Ini semacam ada pukulan di perut,” ujar Diah.

“Terus disitu M mulai cerita membuka, sampai saya bilang di sini ada bapak, mama dan pak dokter, kamu enggak usah takut,” tiru Diah.

Keterangan gambar, Seorang pelajar melewati selebaran berupa kampanye agar menghentikan tindakan bullying di sekolah.

Kemudian, M mengaku bahwa dirinya menjadi korban perundungan oleh tiga orang kakak kelasnya. Terduga pelakunya, kata Diah, adalah dua siswa dari kelas 5 dan satu siswa dari kelas 6.

“M bercerita dia dipukul sama kakak kelas tiga anak,” kata Diah.

“Kemudian dokter bilang, Ibu ini harus ke IGD langsung,” imbuhnya.

Sejak saat itu, M menjalani perawatan selama sembilan hari di RSUD Dr Azhari, Pemalang.

Waktu di rumah sakit, hasil rontgen menunjukkan hasil peradangan. Setelah menjalani perawatan selama intensif, M sempat diizinkan kembali ke rumah.

Namun, kondisi M pada 30 September 2026 kembali memburuk dan meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit.

Keterangan gambar, Ilustrasi: Siswa SD mengikuti upacara pada hari pertama di Banda Aceh, pada 13 Juli 2026.

Diah mengaku sempat menggali informasi dari teman-teman almarhum tentang perundungan itu.

“Kronologinya, M ke kantin, kemudian dari kantin dihadang sama kakak kelasnya dipalakin uang,” ucap Diah berdasarkan cerita teman almarhum.

“Kemudian temannya ninggalin M, mereka lari dulu dan yang kena itu M,” lanjutnya.

“Katanya kejadiannya di depan aula, di situ ia dipukulin sama kakak kelas, kata almarhum itu di situ tiga anak.”

Saat almarhum masih menjalani perawatan di RSUD Dr Azhari, Diah mengaku telah melaporkan ke pihak sekolah.

Namun, Diah mengaku kecewa karena pihak sekolah tidak memberikan respon cepat atas permasalahan ini dan diduga berupaya menutupi kasus itu: Mulai dari dugaan ada terduga pelaku yang disembunyikan, hingga pertemuan orang tua wali yang baru dijadwalkan pada 1 Oktober 2026.

“Yang dua pelaku kelas lima sudah mengakui dan yang satu pelaku kelas 6 itu enggak tahu, apa masih dilindungi atau bagaimana,” keluhnya.

“Kalau dia enggak bersalah seharusnya dia mau memberikan klarifikasi, Kepseknya tidak memanggil anak itu yang ditunjuk almarhum yang ketiga,” sambungnya.

Sementara itu, hingga akhirnya korban meninggal dunia, tidak ada pihak keluarga terduga pelaku yang menemui Diah atau suaminya, untuk menyampaikan permintaan maaf ataupun klarifikasi atas tindakan anaknya.

Saat ini, pihak keluarga mengaku telah melaporkan kepada kepolisian atas kasus tersebut.

Menurutnya, saat ini sekolah harus melakukan perbaikan supaya kedepannya tidak terjadi kembali kejadian yang serupa.

“Tolong pihak sekolah bisa perbaiki tentang keamanan, kenyamanan siswa jangan sampai ada seperti ini lagi,” tuturnya.

“Termasuk tolong CCTV bisa diperbaiki, kalau perlu disetiap sudut diberi semuanya supaya enggak kecolongan.”

Apa respons sekolah, polisi hingga pemerintah?

Keterangan gambar, Ilustrasi: Siswa SD mengenakan masker saat berjalan di sekolah, di Bogor.

Plt Bupati Pemalang, Nurkholes telah mendatangi rumah duka M pada Kamis (01/10). Sebelumnya, ia juga mendatangi sekolah korban untuk mendapatkan informasi mengenai kronologi kejadian.

“Tadi ke sekolahan, dan mendapat laporan kronologi kejadian, memang ada perselisihan antara korban dan pelaku, kemudian terjadilah pemukulan,” ujar Nurkholes.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Wildan Umar berkata pihaknya telah meminta keterangan terhadap enam orang, yaitu teman korban, pihak sekolah, dan orang tua korban.

“Dan hari ini (01/10), kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban,” kata Wildan.

Polisi juga akan melakukan pemeriksaan kepada terduga pelaku, pada Senin (04/10).

“Jika ditemukan adanya unsur pidana, maka akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” kata Wildan, Jumat (02/10).

Sementara itu, Kepala SD N 1 Kebondalem, Erning Rustini, saat dikonfirmasi enggan berkomentar banyak.

“Maaf Mas, semua sudah saya serahkan ke kepolisian (polres),” ungkap Erning, Jumat (02/10).

Keterangan gambar, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan arahan bagi insan pendidikan Jawa Timur saat kunjungan kerja di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/09).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pihaknya tengah menelusuri kasus kematian M.

“Kami minta laporan dari BPMP (Balai Penjaminan Mutu Pendidikan) Jawa Tengah dan juga dari Dinas Pendidikan setempat untuk bisa memberikan laporan yang lengkap,” kata Mu’ti, Jumat (02/10).

Menurutnya, setiap kejadian kekerasan yang muncul wajib disikapi melalui investigasi menyeluruh guna mengetahui pemicu mendasarnya secara objektif.

Penyelesaian yang ditempuh juga, katanya, harus mengedepankan cara-cara humanis serta menghindari segala bentuk sanksi fisik yang menghukum peserta didik.

Abdul Mu’ti juga menegaskan komitmen pemerintah sesuai Permendikdasmen No 6 tahun 2026, bahwa setiap satuan pendidikan mampu menghadirkan lingkungan fisik, sosial, digital, hingga spiritual yang aman bagi anak.

Ada 1.000 korban sepanjang 2026

Keterangan gambar, Ilustrasi: Perundungan di sekolah.

Kasus M menambah panjang rententan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat setidaknya ada 100 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang Januari-September 2026.

Pelaku kekerasan mencapai 174 orang yang terdiri dari guru/ustad, kepala sekolah/pimpinan ponpes, satpam, pembina ekskul hingga sesama murid, dengan korban mencapai lebih dari 1000 orang.

Adapun jenis kekerasan terdiri dari kekerasan seksual (60%), kekerasan fisik (36%), kekerasan psikis (1%), perundungan (1%) dan pendisiplinan dengan kekerasan (2%).

Pelaku kekerasan seksual di dominasi oleh orang dewasa di sekolah seperti guru/ustad, kepala sekolah/pimpinan ponpes, satpam dan pembina eksul.

“Sejumlah santriwati korban kekerasan seksual hamil, bahkan ada yang melahirkan dalam pondok pesantren tanpa bantuan tenaga medis,” kata Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti, Senin (05/10).

Kemudian, kekerasan fisik didominasi oleh sesama murid dan mayoritas berupa pengeroyokan dan penganiayaan.

“Kekerasan fisik ada empat korban pada tahun 2026 ini yang kemudian meninggal dunia setelah beberapa waktu menjalani perawatan di Rumah Sakit, bahkan korban termuda berusia tujuh tahun, murid SD di Pemalang,” ujar Retno.

Daftar panjang kekerasan di sekolah

Keterangan gambar, Ilustrasi: Perundungan di sekolah.

Berikut beberapa kasus kekerasan di lingkungan sekolah yang dirangkum BBC News Indonesia dari sejumlah pemberitaan.

Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Jumat (02/10), seorang siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) diduga menjadi korban perundungan saat jam pelajaran. Korban diduga dipukul kayu bekas kursi ke kepala dan menyebabkan luka robek.

Di Wongsorejo, Banyuwangi, Jatim, Selasa (29/09), seorang murid SD berusia 10 tahun diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan oleh temannya. Bahkan kekerasan itu direkam dan viral di media sosial. Korban terlihat ditendang dan diinjak kesakitan.

Di Pematangsiantar, Sumut, Jumat (25/09) seorang siswi SMP diduga dirundung dan dianiaya di dalam ruang kelas oleh sejumlah temannya. Korban mengalami bengkak di mata sebelah kanan. Kasus ini berujung mediasi. Orang tua terduga pelaku menyampaikan maaf dan bersedia menanggung biaya pengobatan korban.

Di Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (24/09), tiga siswa SMA diduga dipukul dan dipaksa saling menampar oleh sekitar tujuh senior mereka di luar area sekolah.

Keterangan gambar, Personel Brimob Polda Sumbar berjaga di lokasi ledakan di MAN 3 Kota Padang, Selasa (14/07)

Di Medan, Sumut, Selasa (22/09), seorang siswi kelas 6 SD diduga dianiaya beberapa temannya. Bahkan video kekerasan itu viral di media sosial. Di saat korban menangis kesakitan, para pelaku nampak tertawa. Selain itu, korban juga mengalami trauma untuk kembali ke sekolah karena diancam ditabrak becak motor.

Di Banda Aceh, Jumat (18/09), seorang siswa SMA diduga dianiaya sejumlah temannya. Korban disebut mengalami luka di bagian wajah dan kepala. Kasus ini dilaporkan sedang dalam tahap penyelidikan oleh kepolisian.

Di Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (17/09), seorang murid SMP swasta diduga dianiaya dan dirundung oleh temannya di kamar asrama. Sang ibu menyebut anaknya mengalami pecah pembuluh darah di mata, benjolan di kepala, hingga memar di dada.

Di Serpong, Banten, seorang murid SMP swasta diduga dirundung oleh sekitar enam kakak kelasnya. Para pelaku diduga memegang tangan, menutup mulut, dan mata korban, hingga dipukuli memakai buku. Selain itu, di sekolah ini juga muncul dugaan kekerasan seksual yang dilakukan tenaga pengajar ke muridnya.

Di Padang, Sumatra Barat, Selasa (14/07), seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) diduga meledakkan bom rakitan berdaya ledak rendah di lingkungan sekolahnya. Polisi menyebut perundungan diduga sebagai pemicu/

Di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (03/02), seorang siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya, diduga melemparkan bom molotov ke sekolahnya. Pelaku diduga mengalami tekanan menal karena masalah keluarga dan perundungan di sekolah.

Di Malang, Jawa Timur, September 2026, seorang kepala sekolah SMP diduga memukul dan menampar sejumlah muridnya. Pemicunya diduga karena para siswa salah mengenakan motif pakaian seragam.

Mengapa kekerasan terus terjadi?

Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti berkata terdapat tiga tempat yang membentuk karakter anak sekolah, atau yang disebut Ki Hajar Dewantara sebagai ‘Tri Pusat Pendidikan’.

Pertama adalah keluarga, sebagai landasan untuk menanamkan karakter anak yang pertama dan utama. Tempat ini memiliki porsi 50% dalam membentuk kepribadian anak.

“Seorang anak melakukan kekerasan (pelaku) itu bisa saja karena pengasuhan di keluarga. Anak-anak yang dibesarkan dengan makian dan kekerasan maka ketika berada di sekolah, anak ini akan melampiaskan luka batin dari rumahnya ke sekolah dengan mencari siapa anak-anak yang dianggap lemah,” kata Retno.

Sementara itu, keluarga yang membentuk anak menjadi tidak percaya diri, lemah dan penakut akan membentuk karakter anak yang biasanya jadi sasaran perundungan di sekolah, tambah Retno

“Sedangkan anak-anak yang tidak percaya diri, penakut, pediam, mereka akan menjadi sasaran (korban).”

Keterangan gambar, Ilustrasi: Perundungan di sekolah.

Kedua adalah sekolah, dengan porsi 30%. Sekolah menjadi tempat bagi setiap anak, yang diasuh dengan cara beragam oleh keluarga mereka, untuk memiliki pemahaman dan standar perilaku yang sama tentang hal benar dan salah.

Namun, kata Retno, faktanya justru banyak kekerasan terjadi di sekolah. Salah satu contohnya dipengaruhi oleh pertemanan.

Hal ini, ujarnya, bisa dilihat dari kasus kekerasan di SMA swasta di Tangerang Selatan, di mana anak seorang artis yang dibesarkan tanpa kekerasan namun karena berteman dengan komunitas yang tak tepat lalu diduga menjadi pelaku kekerasan.

“Jadi ketika bergaul dengan anak-anak yang biasa melakukan kekerasan, bisa jadi dia juga akan melakukan hal yang sama. Misalnya, ada seseorang di-bully di depan mata dia, dia mikir daripada saya di-bully, mendingan saya jadi pelaku,” katanya.

Ketiga adalah masyarakat, dengan porsi 20%. Anak-anak berinteraksi hingga meniru tindakan kekerasan dari lingkungan masyarakat, baik secara langsung (offline) maupun tak langsung (online, sosial media) yang menampilkan hal itu.

“Ini biasanya bentuk pelarian karena kurang perhatian, kurang kasih sayang. Kemudian akhirnya pelarian ke, misalnya, kecanduan game online yang penuh kekerasan atau terpapar oleh konten-konten kekerasan yang dia temukan misalnya di Youtube,” kata Retno.

“Jadi memang perilaku kekerasan pada seorang anak itu sebenarnya kompleks ya. Tidak bisa kemudian berdiri sendiri. Solusinya adalah terapkan pengasuhan dan disiplin positif ke anak di semua lini (Tri Pusat) karena anak kan peniru ulung,” ujar Retno.

Jurnalis Kamal di Jawa Tengah berkontribusi dalam artikel ini.



Source link

Exit mobile version