
Sumber gambar, Reuters
Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte hadir secara langsung di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, tempat dia akan diadili atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Duterte menghadapi dakwaan terkait perang melawan narkoba selama masa pemerintahannya, yang dituduh menyebabkan puluhan ribu pengedar dan pengguna narkoba skala kecil dieksekusi tanpa melalui proses hukum.
Pria berusia 81 tahun itu mengenakan setelan jas berwarna gelap dan kemeja putih saat menghadiri persidangan pada Rabu.
Ini merupakan penampilan langsung pertamanya sejak ditangkap di Manila, 18 bulan lalu.
Duterte tidak menyampaikan pernyataan apa pun selama persidangan. Namun, ketika sidang berakhir, dia terlihat melambaikan tangan kepada anggota keluarganya yang berada di galeri pengunjung.
Rodrigo Duterte telah ditahan di Den Haag sejak Maret 2025.
Sebelumnya, Duterte mengikuti proses persidangan melalui sambungan video dan sempat beberapa kali tidak menghadiri sidang yang dijadwalkan.
Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menggelar sidang status pada Rabu setelah tim pengacara Rodrigo Duterte berargumen bahwa kondisi kesehatan mantan presiden Filipina itu yang terus memburuk membuatnya tidak layak untuk menjalani persidangan.
Sidang perdana dalam kasus ini dijadwalkan berlangsung pada 30 November mendatang.
Perang melawan narkoba merupakan kebijakan utama pemerintahan Duterte yang berkuasa dari 2016 hingga 2022.
Dia berulang kali berpendapat bahwa penegakan hukum yang keras diperlukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban demi mendukung pertumbuhan ekonomi.
ICC menyelidiki kasus-kasus pembunuhan yang terjadi sejak 1 November 2011, saat Duterte masih menjabat sebagai wali kota Davao, kota besar di wilayah selatan Filipina, hingga 16 Maret 2019, ketika Filipina resmi menarik diri dari keanggotaan ICC.
Sumber gambar, Reuters
Pengacara Duterte, Peter Haynes, baru-baru ini mengatakan kepada pengadilan bahwa kliennya mengalami “gangguan daya ingat yang signifikan”, sehingga tidak mampu berkomunikasi dan berkoordinasi secara memadai dengan tim pembelanya. Namun, jaksa penuntut membantah klaim tersebut.
Para hakim kini tengah mempertimbangkan apakah Duterte secara mental layak untuk diadili. Mereka juga telah memerintahkan pemeriksaan medis oleh tiga dokter spesialis.
Hasil pemeriksaan itu belum dipublikasikan. Namun, menurut kantor berita AFP, tim pembela menyebut laporan tersebut menunjukkan Duterte meyakini dirinya masih hidup pada 2007 atau 2008, mengira usianya 84 atau 85 tahun, serta tidak mampu mengingat nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sementara itu, keluarga korban yang tewas dalam kampanye antinarkoba Duterte mengikuti jalannya persidangan melalui siaran langsung di Manila.
Llore Pasco, yang kehilangan dua putranya, mengatakan kepada Reuters: “Kami senang dia akhirnya hadir dan tampak baik-baik saja. Bahkan, dia terlihat bertambah berat badan.”
Randy Delos Santos, yang kehilangan keponakannya yang masih remaja pada 2017, mengatakan kepada AFP bahwa ia senang melihat Duterte hadir di pengadilan.
“Kami berharap kondisi fisiknya yang masih cukup baik dapat membantu mempercepat jalannya persidangan,” ujarnya.
Sumber gambar, Reuters
Pada 2019, ketika masih menjabat sebagai presiden, Duterte mengungkapkan bahwa dia menderita myasthenia gravis, penyakit autoimun yang mengganggu fungsi saraf dan otot.
Saat terpilih pada 2016 di usia 71 tahun, dia menjadi presiden tertua dalam sejarah Filipina pada saat memenangkan pemilihan.
Keluarga Duterte saat ini juga terlibat dalam perebutan pengaruh politik yang sengit untuk mempertahankan kendali atas kekuasaan di Filipina.
Putrinya, Wakil Presiden Sara Duterte, terlibat perseteruan terbuka yang kian memanas dengan Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr.
Retaknya aliansi politik Duterte-Marcos, yang mengantarkan keduanya meraih kemenangan telak dalam pemilu 2022, membuka jalan bagi penangkapan Rodrigo Duterte di Bandara Manila pada Maret 2025.
Sumber gambar, Reuters
Sara Duterte saat ini menjadi salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan Marcos dalam pemilihan presiden 2028. Berdasarkan konstitusi Filipina, presiden yang sedang menjabat tidak diperbolehkan mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.
Namun, di saat yang sama, Sara Duterte juga tengah berjuang mempertahankan masa depan politiknya melalui proses pemakzulan yang sedang berlangsung. Jika dinyatakan bersalah, dia akan didiskualifikasi dari pencalonan untuk jabatan publik.
Dia menghadapi tuduhan penyalahgunaan dana publik serta ancaman untuk membunuh Presiden Marcos, Ibu Negara Liza Araneta-Marcos, dan sepupu presiden yang juga anggota Kongres, Ferdinand Martin Romualdez.