
Sumber gambar, Getty Images
Lionel Messi pensiun dari sepak bola internasional.
Pemain berusia 39 tahun itu, yang masih terikat kontrak dengan Inter Miami hingga 2028, mengumumkan pada Senin bahwa perjalanan suksesnya bersama tim nasional Argentina telah berakhir setelah lebih dari dua dekade.
Awal bulan ini, Messi mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan masa depannya di dunia sepak bola setelah ayahnya, Jorge Messi, meninggal dunia.
Dalam penghormatan emosional untuk sang ayah, ia sempat mengisyaratkan kemungkinan pensiun.
“Saya tidak tahu bagaimana harus melanjutkan. Selama ini saya hanya bermain sepak bola, dan sekarang saya benar-benar tidak yakin apakah akan terus melakukannya lebih lama lagi,” katanya saat itu.
Kini, melalui sebuah unggahan di Instagram, Messi mengumumkan secara terbuka keputusannya untuk mengakhiri karier di level internasional.
“Waktu terus berjalan, setiap bab pada akhirnya akan berakhir, dan ini adalah salah satu bab yang sangat menyakitkan bagi saya,” tulisnya.
Messi, yang membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia, mencetak 125 gol dalam 207 penampilan, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa sekaligus pemain dengan jumlah penampilan terbanyak untuk negaranya.
Ia juga telah mencetak total 921 gol untuk Barcelona, Paris Saint-Germain, Inter Miami, dan tim nasional Argentina sepanjang kariernya.
BBC Sport menilik kembali sejumlah momen paling ikonik dalam perjalanan karier luar biasa sang legenda sepak bola tersebut.
Sumber gambar, Getty Images
Hat-trick pertama dalam karier Messi tercipta dalam salah satu pertandingan terbesar di dunia sepak bola, El Clasico.
Pada usia 19 tahun, ia mencetak seluruh gol Barcelona dalam hasil imbang 3-3 melawan rival abadi mereka, Real Madrid, pada 10 Maret 2007.
Salah satu gol tersebut menjadi gol pertamanya di Camp Nou dalam laga El Clasico. Ia menutup penampilannya dengan gol penyeimbang dramatis pada menit-menit akhir setelah melewati beberapa pemain bertahan lawan.
Momen itu bisa dibilang menjadi titik ketika Messi mulai dikenal luas dan namanya masuk ke jajaran bintang besar sepak bola dunia.
Gol solo brilian yang membangkitkan kenangan Maradona
Sumber gambar, Getty Images
Hanya sedikit lebih dari sebulan setelah mencetak hat-trick tersebut, Messi membuat gol yang mungkin tidak pernah berhasil ia lampaui sepanjang karier gemilangnya.
Gol itu lahir saat Barcelona menang 5-2 atas Getafe pada leg pertama semifinal Copa del Rey, 18 April 2007.
Dalam sebuah aksi yang memiliki kemiripan mencolok dengan gol legendaris kompatriotnya, Diego Maradona, ke gawang Inggris di Piala Dunia 1986, Messi menerima bola di wilayah pertahanannya sendiri, melewati sekitar lima pemain lawan, mengecoh kiper, lalu menceploskan bola ke gawang.
Gol tersebut segera dikenang sebagai salah satu karya terbaik dalam karier Messi dan semakin mengukuhkan reputasinya sebagai talenta luar biasa yang mampu mengubah jalannya laga seorang diri.
Gol pertama di final Liga Champions
Sumber gambar, Getty Images
Meski kini terdengar sulit dipercaya, pada 2009 sejumlah penggemar sepak bola dan jurnalis di Inggris masih meragukan kemampuan Lionel Messi menghadapi tim-tim Inggris di kompetisi Eropa.
Keraguan itu muncul setelah ia gagal mencetak gol dalam 10 penampilannya melawan klub-klub Premier League di Liga Champions.
Namun, semua keraguan tersebut sirna ketika Messi melompat paling tinggi di kotak penalti untuk menyundul umpan silang Xavi dan menjebol gawang Manchester United pada final Liga Champions pertamanya.
Laga itu juga menjadi pertemuan pertama yang digembar-gemborkan sebagai duel antara Messi dan Cristiano Ronaldo.
Dua tahun kemudian, Messi kembali mencetak gol saat Barcelona mengalahkan tim asuhan Sir Alex Ferguson di final Liga Champions.
Kemenangan tersebut mengantarkannya meraih gelar Liga Champions ketiga dari total empat medali juara yang ia koleksi sepanjang kariernya.
Bobol gawang Arsenal empat kali
Sumber gambar, Getty Images
Messi mencetak empat gol dalam satu pertandingan untuk pertama kalinya dalam kariernya saat menghancurkan Arsenal pada perempat final Liga Champions 2010.
Penampilan gemilangnya membawa Barcelona meraih kemenangan 4-1 pada leg kandang.
Dari empat gol tersebut, yang paling dikenang adalah gol ketiganya untuk melengkapi hat-trick, ketika ia dengan tenang mencungkil bola melewati kiper Arsenal, Manuel Almunia.
Tak kalah mengesankan, dua tahun kemudian Messi mencetak lima gol dalam kemenangan telak 7-1 atas Bayer Leverkusen pada babak 16 besar Liga Champions.
Hingga kini, penampilan itu tetap menjadi salah satu pertunjukan individu paling luar biasa dalam sejarah kompetisi tersebut.
Messi menempati posisi kedua dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Liga Champions dengan 129 gol, hanya kalah dari Cristiano Ronaldo.
Pecahkan rekor pencetak gol terbanyak Barcelona
Sumber gambar, Getty Images
Lionel Messi memecahkan rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa Barcelona pada usia yang baru 24 tahun, dan ia melakukannya dengan cara yang luar biasa.
Pada 20 Maret 2012, Messi mencetak hat-trick dalam kemenangan 5-3 atas Granada.
Gol pertamanya menyamai rekor 232 gol milik César Rodríguez yang telah bertahan selama 60 tahun. Gol keduanya membuatnya melampaui catatan tersebut, sementara gol ketiganya semakin memperlebar rekor atas namanya sendiri.
Saat meninggalkan Barcelona pada 2021, Messi telah meningkatkan rekor itu menjadi 672 gol, sebuah pencapaian yang menjadikannya pencetak gol terbanyak dalam sejarah klub Catalan tersebut.
Rekor 91 gol dalam setahun
Sumber gambar, Getty Images
Ini adalah statistik yang begitu luar biasa sehingga membuat orang perlu memeriksanya dua kali untuk memastikan bahwa hal itu benar-benar terjadi.
Pada 22 Desember 2012, Messi mencetak gol ke-91-nya dalam tahun kalender tersebut saat Barcelona menang 3-1 atas Real Valladolid.
Pencapaian itu mengantarkannya masuk ke Guinness World Records sebagai pemain dengan jumlah gol terbanyak dalam satu tahun kalender.
Dari total 91 gol tersebut, Messi mencetak 79 gol untuk Barcelona dan 12 gol untuk tim nasional Argentina, yang dibukukan hanya dalam 69 pertandingan bersama klub dan negaranya.
Catatan fantastis itu juga membantunya meraih Ballon d’Or keempat secara beruntun, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya pada saat itu.
Menariknya, meskipun tampil sangat produktif sepanjang tahun, satu-satunya trofi yang diraih Messi bersama Barcelona pada 2012 adalah Copa del Rey.
Produktivitas luar biasanya sepanjang tahun tersebut tetap dikenang sebagai salah satu pencapaian individu paling mengesankan dalam sejarah sepak bola modern.
Rekor baru pencetak gol terbanyak La Liga
Sumber gambar, Getty Images
Ini adalah rekor besar kedua yang dipecahkan Messi lewat hat-trick.
Ia mencetak tiga gol saat Barcelona menang 5-1 atas Sevilla pada 22 November 2014, sekaligus menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah La Liga.
Messi menyamai catatan 251 gol milik Telmo Zarra, yang dibukukan penyerang Athletic Club itu pada 1955, melalui sebuah tendangan bebas.
Tak lama kemudian, ia melampaui rekor tersebut sebelum memperlebarnya lewat gol ketiganya pada pertandingan yang sama.
Pada akhirnya, Messi menutup kariernya di La Liga dengan koleksi 474 gol, unggul jauh dari Cristiano Ronaldo yang mencetak 311 gol untuk Real Madrid.
Gol ke-500 untuk Barcelona dan kembali terjadi di El Clasico
Sumber gambar, Getty Images
Semua alur cerita seolah berpadu dalam kemenangan Barcelona 3-2 atas Real Madrid pada 23 April 2017.
Messi mencetak gol pada masa injury time melalui tendangan pertama yang bersarang ke gawang dari tepi kotak penalti.
Gol tersebut tidak hanya memastikan kemenangan Barcelona di El Clasico, tetapi juga menjadi gol ke-500 Messi untuk klub Catalan itu.
Kemenangan itu mengantar Barcelona ke puncak klasemen, meski Real Madrid kemudian menjuarai La Liga pada akhir musim tersebut.
Sebagai pelengkap momen bersejarah itu, Messi memperagakan salah satu selebrasi paling ikonik dalam kariernya.
Ia melepas jerseynya dan mengangkatnya ke arah tribun Santiago Bernabeu, memperlihatkan nama serta nomor punggungnya kepada para pendukung tuan rumah.
Air mata di akhir 21 tahun bersama Barcelona
Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain
Hal yang nyaris tak terbayangkan akhirnya terjadi pada Agustus 2021 ketika Messi meninggalkan Barcelona dengan status bebas transfer.
Setelah 21 tahun membela klub, mencetak 672 gol, dan mempersembahkan 35 trofi, ia terpaksa hengkang karena Barcelona tidak mampu memenuhi kontrak baru yang telah disepakati.
Penyebabnya adalah aturan batas gaji (salary cap) La Liga yang membuat klub berada dalam tekanan finansial.
Dalam konferensi pers yang penuh emosi, Messi tampak menitikkan air mata saat mengatakan:
“Saya dan keluarga saya yakin kami akan tetap tinggal di sini, di rumah kami.”
“Saya tidak ingin meninggalkan klub ini. Ini adalah klub yang saya cintai dan ini adalah momen yang tidak pernah saya bayangkan akan terjadi.”
Meski sempat dikaitkan dengan Manchester City, Messi pada akhirnya bergabung dengan klub Prancis, Paris Saint-Germain (PSG).
Gelar internasional pertama bersama Argentina
Sumber gambar, Getty Images
Pada 11 Juli 2021, Messi yang saat itu berusia 34 tahun akhirnya meraih gelar internasional senior pertamanya ketika Argentina mengalahkan Brasil 1-0 pada final Copa America di Stadion Maracana.
Ia kemudian dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen setelah mencetak empat gol sepanjang kompetisi.
Saat peluit panjang berbunyi, Messi yang diliputi emosi langsung menjatuhkan diri ke lapangan. Rekan-rekan setimnya lalu mengangkatnya ke udara dalam perayaan kemenangan yang meriah.
Tiga tahun kemudian, ia kembali menjuarai Copa America, menambah koleksi trofinya bersama tim nasional Argentina.
Kejayaan di Piala Dunia dan penghargaan pemain terbaik
Sumber gambar, Getty Images
Itu adalah sebuah pencapaian dan momen yang sebelumnya tampak mustahil terwujud, mengingat Messi sempat memutuskan pensiun dari tim nasional Argentina sebelum akhirnya kembali memperkuat negaranya.
Selama bertahun-tahun, kegagalan meraih Piala Dunia kerap menjadi alasan yang digunakan sebagian orang dalam perdebatan tentang apakah ia layak disebut sebagai pesepak bola terbaik sepanjang masa.
Namun, Messi akhirnya menjawab keraguan tersebut di Piala Dunia 2022.
Ia mencetak dua gol di final, serta sukses menjalankan tugasnya dalam adu penalti, saat Argentina mengalahkan Prancis lewat adu tos-tosan setelah bermain imbang 3-3 dalam pertandingan yang kerap disebut sebagai salah satu final Piala Dunia terbaik sepanjang sejarah.
Messi kemudian dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen setelah mencetak tujuh gol, termasuk gol yang dicetaknya pada setiap babak gugur, dalam perjalanan Argentina menuju gelar juara dunia.
Penghargaan Ballon d’Or kedelapan yang memecahkan rekor
Sumber gambar, Getty Images
Messi menambah dua Ballon d’Or lagi setelah meninggalkan Barcelona, masing-masing satu saat membela Paris Saint-Germain dan satu lagi bersama Inter Miami, sehingga memperpanjang rekor perolehannya menjadi delapan trofi.
Ballon d’Or terakhirnya diraih pada Oktober 2023, setelah ia membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 dan membantu klubnya di Major League Soccer, Inter Miami, menjuarai Leagues Cup, trofi pertama dalam sejarah klub tersebut.
Saat menerima penghargaan itu, Messi berkata:
“Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki karier seperti yang saya jalani dan meraih semua yang telah saya capai, serta beruntung bisa menjadi bagian dari tim terbaik dalam sejarah.”
“Semua penghargaan Ballon d’Or itu istimewa, masing-masing dengan alasannya sendiri.”
Pencetak gol terbanyak Piala Dunia, meski hanya sebentar
Sumber gambar, Getty Images
Dengan edisi 2026 yang menjadi Piala Dunia terakhirnya, Messi benar-benar menutup perjalanannya dengan cara yang mengesankan.
Delapan gol yang dicetaknya sepanjang turnamen membuat koleksi gol Piala Dunianya mencapai 21 gol, lebih banyak daripada pemain mana pun dalam sejarah.
Rekor itu bertahan hingga Kylian Mbappe melampauinya dengan torehan 22 gol, setelah mencetak gol dalam perebutan tempat ketiga melawan Inggris.
Pada usia 39 tahun, kiprah Messi di Piala Dunia memang berakhir dengan kekecewaan setelah Argentina kalah dari Spanyol di partai final.
Namun secara individu, penampilannya kembali menunjukkan kualitas luar biasa di panggung terbesar sepak bola dunia, dalam sebuah turnamen yang akan dikenang banyak orang selama bertahun-tahun.