
Sumber gambar, Embassy of India in Israel
Kopilot yang berusaha mengambil alih kendali pesawat Flydubai yang terbang menuju Israel menyerang pilot dengan kapak darurat, menurut jaksa agung Uni Emirat Arab (UEA).
Pesawat yang terbang dari Dubai menuju Tel Aviv dengan membawa lebih dari 170 orang itu terjun sekitar 17.000 kaki (5.200 meter) dua setengah jam setelah lepas landas.
Para penumpang kemudian berhasil melumpuhkan pelaku dan mengambil alih situasi di dalam pesawat.
Kapten Smit Machchhar mengatakan dirinya tergeletak di lantai dalam keadaan terluka ketika menyadari pesawat terus kehilangan ketinggian dan dia harus bertindak.
“Saya berkata kepada diri sendiri untuk melakukan satu upaya terakhir guna membuka pintu dari dalam,” katanya.
Tindakan itu memungkinkan para penumpang masuk ke kokpit.
Dua pilot cadangan kemudian menerbangkan pesawat dan mendaratkannya dengan selamat di Arab Saudi.
Kapak darurat biasanya disimpan di kokpit untuk digunakan dalam keadaan darurat.
Sumber gambar, Samir Abdalhade/Anadolu via Getty Images
Senjata yang digunakan dalam serangan tersebut menjadi salah satu pertanyaan utama bagi penyelidik, mengingat ketatnya pengamanan pada rute tersebut.
Laporan awal dari sejumlah penumpang sempat menyebut senjata yang digunakan kemungkinan adalah pisau.
Jaksa Agung UEA mengatakan kepada media pemerintah bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap secara menyeluruh situasi dan motif di balik insiden tersebut.
Kopilot yang melakukan serangan itu merupakan warga negara Oman, menurut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Sejumlah media, termasuk Reuters, CNN, dan The New York Times, menyebut kopilot itu bernama Hamam al-Hammami. Namun, belum ada konfirmasi resmi mengenai identitasnya.
Ketika bekerja di maskapai lain, Oman Air, media AS melaporkan bahwa Al-Hammami dikeluarkan dari pelatihan penerbangan karena kekhawatiran terkait pandangan radikalnya. Dia kemudian diberi posisi lain di maskapai nasional Oman tersebut.
Australia selidiki keterkaitan kopilot Flydubai dengan negara tersebut
Otoritas Australia pada Minggu mengonfirmasi tengah menyelidiki “keterkaitan” Al-Hammami dengan negara itu, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Australian Broadcasting Corporation (ABC), mengutip sejumlah sumber, melaporkan bahwa dia mendapat visa pelajar pada 2014 dan menempuh pendidikan di Australia antara 2015 dan 2017 sebelum meninggalkan negara tersebut.
Menurut ABC, visa pelajarnya dibatalkan pada 2019 karena saat itu dia tidak terdaftar dalam program pendidikan.
ABC juga melaporkan bahwa pejabat kontraterorisme akan menyelidiki apakah pria tersebut mengalami radikalisasi di Australia.
Sumber gambar, Narendra Modi
Dia kemudian menyelesaikan program pendidikan jarak jauh selama tiga tahun yang diselenggarakan Buckinghamshire New University di Inggris dan lulus dengan gelar manajemen penerbangan pada 2023, menurut universitas tersebut.
Pihak universitas menambahkan bahwa dia tidak menjalani pelatihan pilot di sana.
Dalam wawancara dengan Fox News, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa setelah pelaku berhasil dilumpuhkan di dalam pesawat, dia berteriak kepada awak pesawat: “Bunuh saya, bunuh saya!”
Perdana Menteri Israel menambahkan: “Jadi, jelas bahwa dia berniat bunuh diri… Tampaknya sangat mungkin dia berniat menjatuhkan pesawat itu.”
Dia juga mengatakan pelaku “telah menjalani indoktrinasi radikal Islamis”.
Jaksa Agung UEA, Hamad Saif Al Shamsi, mengatakan penyelidikan atas insiden tersebut mengungkap bahwa kopilot itu berupaya melakukan “aksi terorisme”, menurut kantor berita pemerintah negara itu.
Dia menambahkan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap situasi, motif, serta kemungkinan adanya kaitan lain dengan insiden tersebut.
Machchhar, yang ditikam dalam serangan itu, dibawa ke rumah sakit terdekat sebelum diterbangkan ke Abu Dhabi. Kondisinya dilaporkan stabil.
Kedutaan Besar India di UEA pada Kamis mengatakan pilot asal India itu “dalam kondisi sehat dan pulih dengan baik”.
“Saya yakin saya akan pulih dan kembali sehat serta bugar,” kata Machchhar.
Sekitar dua setengah jam setelah pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Dubai, pesawat itu mulai menukik tajam.
Pesawat tersebut sempat mengirimkan kode “darurat umum”, squawk 7700, sebelum beralih ke squawk 7500, kode yang menandakan adanya “gangguan melawan hukum” atau pembajakan.
Dalam wawancara dengan BBC, seorang penumpang menceritakan saat dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Almog Itali mengatakan: “Tiba-tiba pesawat mulai turun seperti rollercoaster, dengan gaya gravitasi yang sangat kuat. Pesawat menukik dengan cepat selama 20 atau 30 detik, kemudian kembali stabil, lalu mulai menukik lagi.”
Dia mengatakan orang-orang kemudian bergegas menuju kokpit.
Presiden Israel Isaac Herzog pada Kamis mengatakan bahwa seorang perempuan Israel, Tali Manes, menjadi orang yang pertama kali membunyikan peringatan di dalam pesawat setelah mendengar keributan dari arah kokpit.
Suaminya, Zvika, bersama tiga pria lainnya, Yaniv Hayun, Dr Shota Musayev, dan Asaf Rajuan, kemudian masuk ke kokpit setelah Kapten Machchhar berhasil membuka pintu meski dalam keadaan terluka.
Hayun mengatakan dalam sebuah video yang dirilis kantor perdana menteri bahwa pelaku “berusaha merusak instrumen-instrumen pesawat agar pesawat tidak dapat dikendalikan”.
Hayun kemudian menceritakan bahwa dia mencekik pelaku dan menariknya keluar dari kokpit sebelum penumpang lain membantu menahannya.
Dia menambahkan bahwa dirinya kemudian “menarik kendali” pesawat.
“Pesawat mulai kembali mendatar, sedikit demi sedikit, lalu (pilot lain) mengatakan kepada saya bahwa dia akan mengambil alih kendali dari sana,” katanya.
Dalam wawancara dengan CNN pada Rabu malam, Netanyahu mengatakan pilot yang ditikam, para penumpang, dan kru kedua telah “berhasil mencegah bencana seperti 9/11”.
Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain