
Sumber gambar, Maddie Birch-Jackson
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 7 menit
Hari itu merupakan perjalanan kereta biasa bagi Richard Jackson, seorang pejabat tinggi pemerintah UK, menuju tempat kerja.
Namun, tanpa disadarinya, ia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Saat menyadari apa yang telah terjadi, ia sontak panik. Semuanya sudah terlambat.
Dia meninggalkan dokumen yang sangat rahasia di kereta.
Kesalahan yang terjadi dalam sekejap itu menjadi berita nasional dan membuat hidup Jackson porak-poranda. Dia diliputi rasa malu dan terhina.
Hampir 20 tahun kemudian, Jackson mengenang hari kelam tersebut beserta dampaknya terhadap kehidupannya.
Peringatan: Artikel ini memuat referensi tentang bunuh diri.
Richard Jackson memaparkan kisahnya kepada Dr. Sian Williams dalam siniar Life Changing di BBC Radio 4.
Jackson mengatakan, dirinya adalah bukti bahwa seseorang tetap bisa bangkit dan membangun kembali hidupnya, sekalipun pernah melakukan kesalahan terburuk.
Sebelum hidupnya berantakan, Jackson, 37 tahun, hidup bahagia bersama istrinya, Maddie, dan putri tirinya Charlotte, yang berusia 15 tahun. Putri tirinya yang lain, Becky, 20 tahun, sedang menempuh pendidikan di universitas.
“Kami sangat bahagia,” katanya. “Namun, saat itu saya sangat berfokus pada karier.
“Harga diri dan nilai diri saya bergantung pada karier, jabatan, posisi, serta tanggung jawab yang saya miliki.”
Sumber gambar, Simon Gilbert
“Pernah, selama beberapa waktu, saya bekerja sampai 100 jam dalam seminggu,” katanya. “Saya tidak pernah benar-benar bisa melepaskan diri dari pekerjaan.”
Saat itu, Jackson diperbantukan dari Kementerian Pertahanan UK ke Kantor Kabinet untuk menangani urusan terorisme global.
Dalam pekerjaannya, ia mengelola informasi intelijen langsung dari GCHQ, MI5, dan MI6, tiga lembaga intelijen UK.
Pada Senin malam, saat meninggalkan kantornya di Whitehall, London, ia membawa setumpuk formulir yang harus diisi untuk meresmikan penugasannya tersebut.
Sesampainya di rumah, Jackson menyadari bahwa di antara tumpukan formulir itu terselip dua dokumen mengenai dua hal yang sangat rahasia. Keduanya bahkan berstatus top secret atau sangat rahasia.
Jika mengingat kembali kejadian itu, Jackson menyadari bahwa seharusnya ia menghubungi Kantor Kabinet dan meminta seseorang mengambil dokumen-dokumen tersebut dengan prosedur yang aman.
Tapi, ia mengakui keputusan yang diambilnya kemudian mungkin didorong oleh keinginan untuk melindungi dirinya sendiri.
“Mungkin kalau saya bisa mengembalikan dokumen-dokumen itu, tidak akan ada orang lain yang tahu,” katanya.
Jackson memasukkan dokumen-dokumen rahasia itu ke dalam map karton berwarna oranye terang. Keesokan paginya, saat duduk di kereta, ia terus mengingatkan dirinya sendiri, berulang kali, agar tidak melupakan map tersebut.
Ia turun dari kereta dan berjalan cepat menuju kantornya di Whitehall. Namun, tak lama kemudian, ia tersadar bahwa map itu tertinggal.
“Rasanya, untuk sesaat, dunia seperti berhenti berputar,” kenangnya.
Jackson kemudian mendatangi setiap stasiun yang disinggahi kereta tersebut untuk menanyakan apakah ada orang yang menyerahkan map yang tertinggal. Hanya saja, hasilnya nihil.
“Saya panik luar biasa. Semua terasa kacau, setiap gerakan terasa tersentak-sentak. Saya merasa mual,” katanya.
Jackson baru benar-benar tak kuasa menahan emosinya ketika bertemu Maddie, istrinya.
“Saya bilang kepadanya bahwa saya telah menghancurkan hidup kami. Dia hanya memeluk saya. Dia mengatakan semuanya akan baik-baik saja dan kami akan melewati semua ini bersama-sama.”
Sumber gambar, Becky Birch
Keesokan harinya, saat tiba di kantor, Jackson mengetahui bahwa dokumen-dokumen tersebut telah ditemukan dan diserahkan kepada BBC.
Jackson mengatakan, awalnya ia merasa lega karena dokumen itu sudah kembali dan berada di tempat yang aman. Tetapi, ia segera menyadari kasus tersebut kini akan menjadi konsumsi publik.
“Malam itu, saya menjadi berita utama dalam siaran berita pukul enam. Mereka (Kementerian) juga menangguhkan saya sambil menunggu hasil penyelidikan,” katanya.
Jackson kemudian mengurung diri di rumah. Suatu siang, Maddie mendapati suaminya duduk bersila di sofa sambil terisak-isak.
“Saya menghabiskan pagi itu untuk mencari cara mengakhiri hidup tanpa rasa sakit,” ujarnya. “Saya sering berpikir, apa yang akan terjadi jika Maddie tidak pulang pada jam makan siang hari itu? Namun, sepertinya saya tidak akan pernah tahu.”
“Kami menghabiskan sore itu dengan berbicara. Saya rasa, saat itulah pertama kalinya saya berpikir, ‘Kalau saya ingin melewati semua ini, saya tidak bisa menghadapinya sendirian’.”
Kantor Kabinet menyimpulkan tindakan Jackson merupakan pelanggaran disiplin berat. Ia pun diturunkan tiga tingkat jabatan. Jackson didakwa berdasarkan Undang-Undang Rahasia Resmi (Official Secrets Act), tetapi terhindar dari hukuman penjara dan hanya didenda £2.500 (setara Rp60 juta).
Secara administratif, kasus itu memang telah selesai. Namun, Jackson tak mampu melepaskan diri dari rasa malu, penyesalan, dan kehinaan yang terus menghantuinya.
Dia mengaku bisa perlahan-lahan membangun kembali hidupnya berkat banyak orang yang peduli dan membantunya bangkit.
“Saya sendiri hampir tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki keadaan. Justru banyak orang lain yang membantu saya pulih,” katanya.
Setelah kembali bekerja di Kementerian Pertahanan UK dengan menangani urusan sumber daya manusia, Jackson pindah ke Departemen Kebudayaan, Media, dan Olahraga untuk terlibat dalam persiapan Olimpiade.
Dia kemudian meninggalkan posisinya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan bekerja di Samaritans, sebuah organisasi yang memberikan dukungan emosional bagi orang-orang yang mengalami krisis.
Setelah itu, Jackson memimpin sebuah tim analis yang mengkaji risiko terorisme global.
Di waktu luangnya, ia juga mulai mengikuti pelatihan untuk menjadi life coach, atau pendamping yang membantu orang lain mengembangkan diri dan menghadapi tantangan hidup.
Sumber gambar, Richard Jackson
Setelah terkena pemutusan hubungan kerja, Jackson mendirikan perusahaan pelatihan pengembangan diri bernama NewDay. Perusahaan ini membantu orang menghadapi tekanan akibat menangani materi atau informasi yang dapat menimbulkan tekanan emosional.
“Saya bisa menceritakan kisah saya dan membuatnya punya makna. Ada alasan di balik apa yang saya lakukan,” katanya.
Jackson ingin orang lain tahu bahwa selalu ada jalan untuk bangkit, bahkan setelah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup.
“Anda mungkin berada dalam situasi yang sangat buruk, tetapi Anda tetap bisa bangkit dan melewatinya. Ada berbagai cara untuk membantu diri sendiri menghadapi keadaan itu, dan ada pula bantuan yang bisa Anda dapatkan dari orang lain.”
Ketika ditanya apakah ia sudah memaafkan dirinya sendiri, Jackson menjawab belum. Meski demikian, kini ia kembali bahagia.
Maddie, istrinya, juga senang karena Jackson tidak lagi bekerja hingga 100 jam dalam seminggu.
“Hidup saya tidak lagi ditentukan oleh karier, dan sekarang saya bisa lebih hadir untuk keluarga di rumah,” katanya.
“Saya juga jauh lebih menghargai betapa beruntungnya saya memiliki orang-orang luar biasa dalam hidup saya.”
Melakukan kesalahan? Ini cara untuk bangkit kembali
Richard Jackson membagikan sejumlah langkah yang membantunya melewati masa-masa traumatis dalam hidupnya.
- Ungkapkan apa yang ada di pikiran Anda.
Saat berada dalam kondisi terpuruk, pikiran bisa dengan cepat beralih dari “Saya telah melakukan kesalahan besar” menjadi “Saya orang yang tidak berguna”. Menuliskan pikiran tersebut atau membicarakannya dengan seseorang dapat membantu memperlambat proses itu. Dengan begitu, Anda punya kesempatan untuk menyadari bahwa kesimpulan yang muncul dalam pikiran belum tentu masuk akal.
- Tetap lakukan kegiatan yang Anda sukai.
Ketika merasa tidak berharga, Anda mungkin berhenti melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa membuat Anda merasa lebih baik. Kenali kegiatan tersebut, entah berolahraga di pusat kebugaran, membaca buku, atau berjalan kaki dalam waktu lama. Jadikan kegiatan itu bagian rutin dari hidup yang tidak boleh Anda abaikan.
- Ingat kembali nilai diri dan pencapaian Anda.
“Saya menyimpan papan pengingat di dekat meja kerja, berisi catatan tentang hal-hal yang telah saya capai dan kata-kata baik yang pernah disampaikan orang lain kepada saya,” kata Jackson.
Baginya, pengingat nyata seperti itu membantu menegaskan bahwa dirinya bukanlah kesalahan yang pernah ia lakukan. Ia jauh lebih berharga daripada satu kesalahan tersebut.
- Temukan seseorang yang mendukung sekaligus berani mengingatkan Anda.
Anda membutuhkan seseorang yang selalu menyemangati, tetapi juga berani menegur ketika Anda mulai mengabaikan kebiasaan baik. Pilihlah orang yang benar-benar mendukung dan menginginkan yang terbaik bagi Anda.
- Kenali hal-hal yang bisa dan tidak bisa Anda perbaiki.
Jika Anda telah menyakiti orang lain, bertanggung jawablah atas tindakan tersebut. Sampaikan permintaan maaf dan perbaiki keadaan sebisa mungkin. Namun, jangan mengambil tanggung jawab atas hal-hal yang sejak awal bukan tanggung jawab Anda.
- Jangan biarkan satu momen terburuk menentukan seluruh kisah hidup Anda.
Anda bukanlah kesalahan yang pernah Anda lakukan. Anda tetaplah orang yang sama seperti sebelum kesalahan itu terjadi. Dan masih ada sosok diri Anda di masa depan yang belum Anda kenal—seseorang yang masih punya kesempatan untuk tumbuh dan menjalani kehidupan yang berbeda.