
Sumber gambar, Sam Hill
Seorang fotografer menghabiskan berbulan-bulan melacak “generasi istimewa” yang ia potret saat masih remaja pada 1980.
Pada 1980, mahasiswa fotografi Sam Hill berkeliling jalanan kota Preston untuk mencari anak-anak muda yang tampil berbeda, mulai dari kaum mod, punk, hingga mereka yang berjiwa bebas.
Ia akan menghentikan mereka sejenak, memotret, lalu melanjutkan perjalanannya.
“Saya rasa saya berhasil mengabadikan satu generasi yang istimewa,” kata Sam.
“Banyak anak muda yang berjiwa bebas. Saya tidak pernah menanyakan nama mereka.
“Saya hanya mengambil foto, berpikir, ‘Ini terlihat luar biasa’, lalu mengucapkan terima kasih.”
Namun selama hampir lima dekade berikutnya, wajah-wajah dalam foto itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Setelah pensiun dari kariernya, yang ternyata bukan di bidang fotografi melainkan desain grafis, Sam memulai sebuah misi yang luar biasa.
Berbekal tak lebih dari kumpulan foto-foto lama, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melacak orang-orang asing yang pernah ia potret saat mereka masih remaja.
Pencarian itu melibatkan berbagai upaya, mulai dari seruan di internet, penelusuran media sosial, surat elektronik, panggilan telepon, hingga tak terhitung jumlahnya percakapan dengan berbagai orang.
Apa yang terjadi kemudian adalah serangkaian pertemuan kembali yang penuh emosi, serta terselenggaranya pameran Alternative Kids di Museum Harris, Preston.
Sumber gambar, Sam Hill
Sam mengatakan kejutan terbesar bukanlah mengetahui bagaimana kehidupan para remaja dalam foto-fotonya berkembang, melainkan emosi yang muncul selama proses pencarian tersebut.
“Pengalaman ini membuat saya merasa lebih positif terhadap sesama manusia,” katanya.
“Sejujurnya, saya bisa mengatakan bahwa setiap pertemuan meninggalkan kesan yang memperkaya dan membangkitkan semangat saya.”
Salah satu orang yang berhasil ia temukan kembali adalah Ray Balch, yang menghabiskan sebagian masa remajanya di panti asuhan dan menemukan rasa memiliki di tengah komunitas punk dan new wave di Preston.
“Ada komunitas punk yang sangat erat,” katanya.
“Rasanya seperti sebuah keluarga.”
Sumber gambar, Sam Hill
Di pameran tersebut, Ray menunjukkan fotonya kepada sang istri dan tak kuasa menahan emosi ketika mengenang perjalanan hidupnya setelah momen itu.
“Saya selalu menginginkan sebuah hubungan dan cinta,” katanya.
“Dan saya menemukannya bersama istri saya, dua tahun setelah foto-foto itu diambil.”
Dalam foto tersebut, Ray berdiri di depan William Routledge, yang mengakui dirinya masih “muda dan bodoh” ketika Sam memotretnya.
“Saya sebenarnya cukup berprestasi di sekolah sampai budaya punk datang,” ujarnya.
Selama bertahun-tahun, ia kehilangan sejumlah teman akibat alkohol dan narkoba. Namun kini, William mengelola sebuah kelompok dukungan kesehatan mental bagi laki-laki, membantu mereka yang sedang menghadapi masa-masa sulit.
“Saya mungkin telah menyelamatkan beberapa orang yang kalau tidak, mungkin tidak akan ada di sini sekarang,” kata William.
Salah satu bagian yang paling berkesan bagi Sam adalah ketika ia berhasil mempertemukan kembali foto-foto lamanya dengan keluarga orang-orang yang sudah meninggal dunia.
Sahabat karib Debbie Consiglio dan Zena Gabrysch termasuk di antara mereka yang pernah dipotret Sam secara terpisah, bersama pacar Zena saat itu, Alan Burton.
Dua hari setelah foto-foto tersebut diambil, mereka dalam perjalanan menuju konser Adam and the Ants ketika Zena tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.
Sumber gambar, Sam Hill
Saudara laki-laki Zena, Stefan Gybrisch, hadir di Museum Harris bersama Debbie dan Alan untuk mengenang Zena sebagai sosok yang “sangat keren, impulsif, dan kreatif”.
“Ketika Anda kehilangan seseorang yang luar biasa seperti ini, Anda juga kehilangan semua hal luar biasa yang mungkin akan ia lakukan di masa depan,” kata Alan.
Bagi Sam, pameran ini telah menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti daripada sekadar kumpulan foto.
Kini, setiap foto memiliki nama. Setiap wajah memiliki cerita.
Dari deretan potret yang ia ambil di jalanan Preston, muncul kisah hidup yang beragam. Ada yang menjadi seniman, guru, penulis, musisi, pengacara, hingga seorang DJ yang dikenal di kancah internasional.
Sumber gambar, Sam Hill
Jon DaSilva menempuh perjalanan dari Preston hingga menjadi DJ di The Haçienda, klub malam legendaris di Manchester, sebelum kemudian memproduksi dan memainkan musik di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, generasinya memiliki semangat kreativitas yang kuat, sebuah generasi yang “sering kali berani mengikuti impian mereka”.
“Saya sebenarnya bisa mendapatkan penghasilan lebih besar dengan menata barang di rak-rak Tesco, tetapi saya mencintai musik, dan sampai hari ini saya masih berada di dunia itu,” katanya.
Sumber gambar, Sam Hill
Bagi Sam, generasi tersebut memiliki energi yang khas.
“Bukan status mereka atau pekerjaan yang kemudian mereka jalani yang membuat mereka istimewa,” katanya.
“Ada sesuatu yang lebih dari itu.”
Merenungkan proyek yang telah dijalaninya, Sam percaya pengalaman tersebut menyimpan pesan yang lebih luas tentang hubungan antarmanusia.
“Bahkan jika seseorang memiliki pandangan politik yang bertolak belakang dengan Anda, ketika ada satu hubungan kecil yang menghubungkan kalian, dalam kasus ini sebuah foto yang diambil 46 tahun lalu, percakapan bisa dimulai,” ujarnya.
“Anda tiba-tiba menyadari bahwa persoalan yang memisahkan kita sebenarnya adalah hal lain.
“Sebagai manusia, pada dasarnya kita semua sangat mirip.”
Setelah 46 tahun bertanya-tanya apa yang terjadi pada anak-anak muda yang pernah dipotretnya, Sam akhirnya mendapatkan jawabannya.
Dalam proses itu, ia mengatakan telah mendapatkan 40 teman baru.
Pameran tersebut berlangsung di Museum Harris, Preston, hingga 10 Januari mendatang.