Interesting News

Film Na Willa: Merekam dunia yang luas dari jendela kecil anak-anak


Adegan dalam film Na Willa

Sumber gambar, Visinema Pictures

Keterangan gambar, Na Willa dan tiga sahabatnya: Farida, Dul, dan Bud. Mereka bermain di rumah Na Willa.
  • Waktu membaca: 13 menit

“Aku mau besok, besok, besoknya lagi beginiiii terus.”

Begitu kata Na Willa. Hidup terasa penuh dan menggembirakan baginya selama ada Mak dan Pak, sahabat-sahabatnya, Mbok, buku-buku, serta ikan bandeng goreng favoritnya.

Berbekal bahagia tersebut, anak perempuan berusia enam tahun itu merekam Surabaya pada akhir 1960-an menggunakan lensanya.

Gang Krembangan yang hanya muat dilalui becak dan sepeda onthel menjadi area leluasa penuh tantangan, apalagi saat kereta lewat di ujung gang. Tanah lapang yang hanya berisi rerumputan dan sebuah pohon rindang pun tak pernah membosankan sepanjang bisa bermain balap lari, layang-layang, atau kelereng bersama sahabat.

Bahkan Pasar Krembangan yang sejatinya riuh dan panas mendadak bersolek bak taman bermain warna-warni sehingga Na Willa tak pernah rela melewatkan momen ke pasar bersama Mak. Dari melihat banyak hal menarik, merasakan sensasi asyik ketika membenamkan tangan di dalam kacang hijau karungan yang dijajakan di Kios Mien, hingga dapat hadiah minuman bersoda dari Cik Mien yang rasanya ‘nyekrusss‘.

Semaraknya sudut pandang Na Willa ini terpatri semula dalam sebuah buku bertajuk serupa yang ditulis Reda Gaudiamo. Pada 18 Maret 2026, perspektif Na Willa yang tersimpan dalam imaji para pembacanya divisualisasikan ke layar lebar di bawah arahan sutradara, Ryan Adriandhy.

Sejumlah pemain menghidupkan sosok-sosok ikonik dalam bukunya. Antara lain, Na Willa (Luisa Adreena), Mak (Irma Rihi), Pak (Junior Liem), Farida (Freya Mikhayla), Dul (Azamy Syauqi), Bud (Arsenio Rafisqy), Mbok (Mbok Tun), Cik Mien (Melissa Karim), Nyonya Chang (Ira Wibowo), Bu Juwita (Agla Artalidia), hingga Bu Tini (Putri Ayudya).

Sumber gambar, Instagram Post Santa Bookshop

Keterangan gambar, Buku Na Willa yang dicetak ulang oleh Post selaku penerbitnya

Kepada BBC News Indonesia, Ryan Adriandhy berkata alih wahana buku Na Willa ini didasari pada kecintaan terhadap rasa yang tertuang dalam ceritanya. Menurut Ryan, penulisan buku tersebut penuh perhatian, penuh respek, dan memanusiakan anak.

“Kita diajak melihat dunia dari kacamatanya Na Willa, bukan menceritakan anak kecil itu seperti apa. Bukan tentang anak perempuan di Surabaya pada 1960-an, tapi bagaimana Surabaya 1960-an di mata seorang anak perempuan,” ucap Ryan.

Fragmen-fragmen dalam buku Na Willa yang kemudian dijadikan film diakuinya mengingatkannya pada masa kanak-kanak. Tingkah polah, pertanyaan, hingga imajinasi Na Willa sedikit banyak pernah mampir ketika dirinya kecil.

“Seperti divalidasi rasanya dan ini bisa bicara ke banyak orang. Yang anak-anak akan merasa dilihat dan dipahami, yang dewasa bisa pulang dengan sebuah sudut pandang baru dari filmnya,” tutur Ryan.

Namun, bukan perkara mudah untuk mewujudkan perspektif anak agar tidak terperosok menjadi ‘sok tahu’ dan ‘menggurui’.

Penulis buku Na Willa, Reda Gaudiamo pun mengingat dirinya berupaya melepaskan hal-hal yang pernah diketahuinya saat menyusun cerita ini.

Unlearn sebenarnya. Misal, ketika makan es krim pertama kali seperti apa rasanya, ketakjuban seperti apa yang dirasakan. Sedih dan kecewa itu seperti apa. Karena anak merasakan, tapi bisa jadi tidak tahu namanya. Hal-hal itu PR banget untuk menerjemahkannya,” tutur Reda pada BBC News Indonesia.

Apalagi berkaitan dengan realitas sosial yang dihadapi, Reda mengakui hal ini menjadi bagian tersulit dalam menulis Na Willa.

“Menahan diri banget dan belajar lagi ketika umur enam tahun apa saja yang diketahui, sampai sejauh mana. Buat saya itu proses yang sulit. Karena saya betul-betul harus menjaga seberapa banyak dia tahu dan seberapa banyak dia perlu tahu.”

Ia juga menambahkan sejatinya anak-anak memiliki hak yang harus dihormati. Akan tetapi, para orang dewasa kerap merasa anak-anak tidak tahu apa-apa sehingga cenderung otoriter dan mendikte dalam segala hal bahkan melalui berbagai medium.

“Sampai di cerita pun, tidak membiarkan anak menemukan sendiri keajaiban. Harus banget menjejalkan pesan-pesan. Saya mencoba untuk tidak melakukan itu. Karena kuncinya adalah respek pada anak-anak.”

Na Willa dan problematikanya

Na Willa yang meraup lebih dari 1,2 juta penonton pada hari ke-20 penayangannya rupanya tak lepas dari komentar warganet yang menyebut film ini minim konflik dan plotnya cenderung datar.

Padahal jika dicermati, adegan awal sudah dibuka dengan sebuah problem yang berujung meledaknya tangisan Na Willa.

Tiga menit awal dalam film tersebut diambil persis seperti dalam buku. Na Willa harus naik ke kursi untuk menjangkau pisang di atas meja. Lalu, ia berdebat dengan Mbok karena disebut dirinya mirip Pak dan tidak akan pernah mirip dengan Mak karena ia anak perempuan.

Na Willa pun memutuskan untuk menjadi anak laki saja supaya kelak bisa mirip dengan Mak. “Wedhok ki yo wedhok, Non,” ujar Mbok yang langsung berbuah air mata dari anak perempuan tersebut.

Rentetan konflik lain pun berhamburan kemudian, terutama saat kenyamanan Na Willa goncang karena tragedi Dul tertabrak kereta, serta Farida dan Bud mulai bersekolah. Pak yang biasanya tidak lama-lama melaut juga mendadak tak pulang-pulang karena ada masalah di kapal.

Rasa ingin tahunya tentang radio yang juga berkelindan dengan bosan yang meluap karena jadwal bermain dengan sahabatnya berkurang justru bertemu dengan omelan dan hukuman dari Mak.

Puncaknya, Na Willa mengalami perundungan dari teman-temannya di hari pertama sekolah. Namanya ditertawakan ketika perkenalan. Ia diolok-olok dengan sebutan ‘asu cino’ yang membuatnya meradang.

Na Willa juga harus menghadapi Bu Tini yang galak dan tidak percaya kalau dirinya sudah bisa membaca dan menulis sehingga dicap pembohong.

Bagi Na Willa, semua itu persoalan besar dalam batasan matanya. Begitu pula dari pandangan anak-anak yang menonton.

Awalnya, para penonton cilik yang duduk anteng di kursi-kursi bioskop ikut lega melihat kondisi Dul sudah baik-baik saja dan turut bernyanyi lagu ‘Sikilku Iso Muni‘, bahkan terkekeh-kekeh ketika melihat Na Willa mencuri seprai untuk dijadikan mukena demi bisa ikut salat bersama Farida.

Akan tetapi, badan mereka mulai menegang dan matanya basah saat Na Willa berlinang air mata memberanikan diri untuk berkata jujur menceritakan kejadian di hari pertama sekolah pada Mak. Mereka ikut merengut dan mengkerut melihat Bu Tini yang ketus dan mengintimidasi Na Willa.

Masalah demi masalah yang hadir itu agaknya bagai angin lalu bagi penonton dewasa sehingga muncul kesimpulan minim konflik.

“Dengan hadirnya conversation seperti itu, justru memvalidasi keresahan aku bahwa banyak sekali peristiwa yang disepelekan oleh orang dewasa. Padahal dari kacamata anak-anak itu hal yang penting dan besar. Walau semua komen dan respons apapun itu valid ketika karya sudah beredar di publik,” ujar Ryan.

Sumber gambar, Dokumen Visinema Pictures

Keterangan gambar, Na Willa dan Mak sedang berjalan di area luar Pasar Krembangan

Kendati demikian, sebagian draf naskah yang dibuat Ryan sempat berusaha memuat sejumlah konflik besar yang mengalami revisi beberapa kali atas masukan Reda.

“Jadi, kami punya lima draf kalau enggak salah. Dan draf kelima baru setuju, lalu disempurnakan ke draft keenam,” ungkap Reda.

Sepanjang revisi, ada berbagai hal yang perlu disesuaikan. Salah satunya, Reda mengaku memangkas konflik-konflik besar berkaitan dengan orang dewasa yang sempat dimunculkan agar ada gejolak dalam cerita berdurasi 118 menit tersebut. Yang jadi soal, konflik besar tadi justru keluar jalur dari pikiran dan perspektif Na Willa.

Ia menjelaskan pensil jatuh dan ujungnya patah saja sudah bisa memicu anak-anak bersedih. Mainan terinjak meski bisa diperbaiki pun menjadi problem hidup.

“Kita menganggap itu tidak ada seru-serunya. Karena kita sudah terlalu lama dewasa. Kita sudah terlalu tua dan kelamaan hidup di dunia ini sehingga kita membutuhkan hal besar dan dahsyat untuk bisa kaget dan takjub. Tapi buat anak-anak sedikit demi sedikit,” ujar Reda.

Mengenai konteks realitas sosial yang muncul, hal ini wajar dihadirkan karena anak-anak juga makhluk sosial yang hidup bermasyarakat. Anak-anak, termasuk Na Willa, pasti bersinggungan dengan hal itu.

Reda pun menulis Na Willa karena berangkat dari pengalaman anaknya ketika kecil berhadapan dengan realitas sosial yang berkaitan mengenai agama dan suku.

Meski terpapar realitas sosial, anak-anak punya lensa usia yang membuatnya tidak akan tercebur dan terbawa arus di dalamnya. Seperti Na Willa, Farida, Bud, dan Dul tidak pernah mempersoalkan agama, suku, hingga tingkat ekonomi atau pendidikan. Mereka bermain tanpa sekat.

Namun semua itu tak lepas dari peran orang dewasa dan lingkungan sekitar.

Dalam buku Biased: Uncovering the Hidden Prejudice That Shapes What We See, Think, and Do yang ditulis Jennifer L. Eberhardt, anak-anak bertindak rasis dan mengkategorikan diri sesuai preferensi tertentu karena melihat bagaimana orang dewasa bereaksi secara verbal dan non-verbal terhadap orang-orang dari kelompok yang berbeda.

Karena itu, respons Mak saat Na Willa yang tiap Minggu ke gereja kemudian diperbolehkan melihat Farida mengaji menjadi bukti betapa krusial sikap orang dewasa mempengaruhi anak agar tumbuh tanpa bias.

Selebihnya, problem orang dewasa yang terikat dengan realitas sosial tetap diperkenalkan di sini tapi bukan untuk diulik yang malah berujung mencekoki dengan pesan-pesan moral sehingga menihilkan pengalaman dan sudut pandang anak-anak.

Bukan berarti pula mengecilkan kualitas berpikir anak. Na Willa tahu ungkapan ‘asu cino‘ yang diterimanya itu tidak menyenangkan dan tidak patut dilontarkan pada teman. Na Willa tidak suka. Cukup di situ. Tidak perlu embel-embel yang perlu dikaji atau dimaknai olehnya.

Ia juga tahu ada yang salah ketika Martini, kakaknya Farida, menangis ketika menjadi pengantin. Baginya, menikah sepatutnya menyenangkan karena bisa berdandan seperti putri raja dengan gaun cantik.

Alih-alih berpanjang-panjang menyingkap mengenai pernikahan dini, Mak membungkusnya sesuai pengalaman Na Willa bahwa menikah itu bukan sekadar gaun indah tapi banyak yang harus diurus sehingga tak lagi bisa bermain. Na Willa langsung menangkap persoalan yang memantik sedih, yaitu ‘tidak bisa lagi bermain’.

“Dia tidak memikirkan apa yang ada di kepala Mak. Saat berhadapan dengan Bu Tini, ia juga tidak memikirkan kenapa Bu Tini galak. Dia cuma tahu, Bu Tini galak dan dia tidak suka. Sampai di situ saja. Jadi, kita enggak usah menjadi yang maha tahu,” ujar Reda.

Ryan pun melihat dan memahami itu. Ia pun menerjemahkannya melalui beberapa pengembangan gambaran dan representasi visual lewat gerak kamera.

Keajaiban dalam gambar

Usai menyaksikan pertama kalinya, Reda mengaku terharu. Ia berkata, Ryan “berhasil mengeksekusinya secara tepat sasaran” dan “sangat jenius”.

Seperti yang dikatakan Joseph V. Mascelli dalam The Five C’s of Cinematography, angle dan tinggi kamera saat pengambilan gambar berpengaruh terhadap perspektif yang ingin diambil.

Dalam Na Willa, Ryan memilih mengambil gambar sejajar dengan tinggi mata Na Willa. Tak jarang, tokoh dewasa di sebelahnya pun hanya terlihat dari kaki sampai pinggang, karena titik fokusnya ada pada Na Willa.

Selanjutnya, ini dikombinasikan dengan low angle atau kadang high angle. Misal, adegan emosional Na Willa menjelaskan kejadian di sekolah pada Mak memainkan hal ini.

Na Willa disorot sejajar, tapi saat Mak hadir dan Na Willa harus berdiri di hadapannya maka teknik high angle ini digunakan sehingga terlihat Na Willa menengadah pada Mak dan sosok Mak pun menjadi terlihat besar. Apalagi saat Mak marah, sudut pengambilan gambar ini digunakan.

Sumber gambar, Dokumen Visinema Pictures

Keterangan gambar, Adegan film Na Willa

Adegan lain ketika berjumpa Bu Tini, teknik low angle dipilih. Kamera bergerak dari bawah ke atas mengikuti gerak mata Na Willa memindai sosok Bu Tini yang disebut Bu Kepala Sekolah. Kamera pun berhenti pada garis pandang mata Na Willa sehingga gestur Bu Tini yang terlihat tinggi besar melirik ke bawah, pada subyek yang sedang menelusurinya dari ujung kaki hingga ujung rambut tersebut.

Kombinasi teknik kamera tadi efektif menafsirkan metode narasi “show, don’t tell” yang menekankan betapa penting sudut pandang Na Willa sebagai subyek utama.

Hal ini yang kemudian membuat anak-anak lekas terikat karena merasa terwakili oleh Na Willa. Selain itu, kata ganti orang pertama yang digunakan Na Willa dalam menarasikan cerita kesehariannya juga makin menarik penonton jauh merasa ikut dalam perjalanan kisah.

Gerak kamera yang cukup khas juga sepanjang film Na Willa adalah sejumlah static shot. Salah satunya ketika Na Willa pulang dari pasar bersama Mak. Alih-alih bergerak ke sana kemari mengikuti tiap pemain, kamera hanya statis di tengah menangkap keseluruhan isi ruang tengah.

Komposisi saat itu Na Willa berbaring di lantai dan Mak duduk sembari membuka surat dari Pak. Mbok yang bertugas memberi surat masuk sekejap dalam tangkapan kamera lalu hilang dari layar karena kembali ke dapur.

Adegan ini meski tak mengambil gambar sejajar mata Na Willa, tapi tetap terasa mewakili perspektifnya. Kamera yang diam memberi ruang tenang, baik bagi Na Willa yang kelelahan dari pasar maupun para penonton cilik agar tidak kebablasan terstimulasi. Bahkan ketika kemudian Na Willa menyudahi istirahatnya dan beranjak ke pangkuan Mak untuk ikut membaca surat Pak, kamera tetap diam.

Adegan ini makin indah saat Ryan menggambarkan isi surat yang dibaca Na Willa dalam konteks teatrikal. Pak mendadak hadir di tengah ruangan dengan latar laut dan pelabuhan buatan yang warna-warni. Indah sekali.

Menyaksikan Na Willa dengan sebagian komposisi pengambilan gambar statis dan warna-warni di tiap detilnya mengingatkan pada karya-karya Wes Anderson.

Meski dalam Na Willa, warna-warni ini merupakan tangkapan mata Na Willa. Semua hal yang nyaman baginya terlihat berwarna, bahkan debu kasur yang terbang saat dibersihkan dan rintik hujan bisa berubah berkerlap-kerlip seperti bintang.

Sedangkan, sekolah pertamanya terlihat suram dengan dominasi warna abu-abu. Baju Bu Tini pun berwarna hijau gelap dengan bagian bahu meruncing mirip kostum Miss Truncbull, kepala sekolah kejam dalam film yang dialihwahanakan dari buku karya Roald Dahl bertajuk Matilda.

Sementara itu, sekolah kedua yang kemudian dipilihnya kembali berwarna-warni. Bu Juwita mengenakan pakaian berwarna kuning hangat yang padu dengan hiasan kelas yang meriah.

Bahkan rumah sakit tempat Dul dirawat yang semula abu-abu juga berubah berwarna mengikuti nada riang dari Na Willa dan Dul yang melantunkan ‘Sikilku Iso Muni’.

Simbol penerimaan terhadap suatu tragedi besar yang lagi-lagi dari sudut pandang anak-anak. Dul kehilangan sebelah kaki, tapi baginya rasa sakitnya sudah sirna terlupa karena sahabatnya tetap menerima apa adanya dan yang penting kaki barunya bisa berbunyi.

Hangatnya pengasuhan Mak dan Pak

Dalam film, sejumlah penyesuaian dilakukan. Sosok dewasa tetap punya peran karena sehari-hari bersinggungan dengan Na Willa. Yang paling dominan, tentu saja Mak.

Porsi kemunculannya cukup intens tapi punya takaran yang pas tanpa menjajah sudut pandang si anak.

Mak hadir selayaknya ibu sehari-hari yang bisa juga kehilangan kontrol di tengah kelembutannya. Sebab, Mak juga berhak atas emosi yang hadir dalam dirinya, tidak selamanya menjadi ibu peri baik hati yang sempurna seperti kebanyakan film menempatkan sosok ibu.

Lagipula, marah dan omelan dari Mak ini muncul saat ada hal-hal yang menurutnya berbahaya atau keterlaluan, seperti insiden seprai kotor atau radio yang dipreteli.

Mak memang datang dengan hukuman yang dilabeli sebagai bentuk tanggung jawab, tapi Mak juga memberi penjelasan yang mudah dipahami dan tak membiarkan Na Willa sendiri.

Sumber gambar, Dokumen Visinema Pictures

Keterangan gambar, Na Willa bersama Mak dan Pak di kamar Na Willa.

Salah satu yang membekas adalah Mak muncul dengan analogi ‘berbohong itu seperti ada kerikil dalam sepatu’ untuk mengingatkan agar Na Willa harus berkata jujur. Momen itu pun dikemas dalam suatu adegan yang hangat dengan tetap terkoneksi pada anak, yakni Mak tengah mengoleskan lidah buaya ke rambut Na Willa yang sedang asyik membolak-balik buku baru kiriman Pak.

Ada kalanya Mak juga melanggar sendiri ajarannya. Antara lain, ketika Mak terpaksa berbohong pada Dul agar Na Willa tidak ikut mengejar kereta.

Na Willa tentu marah karena tahu Mak berbohong dan mengembalikan analogi kerikil yang membuat kaki sakit untuk berjalan tadi kepada Mak. Di malam hari, Na Willa berkata lagi dengan lembut, “Kaki Dul sakit, tapi kaki Mak jangan.”

Tanpa disadari, itu menyentak rasa bersalah Mak. Itu juga merupakan simbol maaf dari Na Willa pada Mak. Ya, anak-anak sejatinya mudah memaafkan. Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa orang tua juga punya celah berbuat keliru sehingga tak perlu ragu meminta maaf pada anak.

Hal lain adalah metamorfosa ulat-kepompong-kupu-kupu. Sisipan pesan yang halus bahwa tiap anak bertumbuh. Na Willa pun demikian. Mak pun tanpa disadari ikut bertumbuh.

Mak yang sempat digelayuti ragu sehingga memilih mengajarkan baca tulis di rumah, perlahan memahami situasi anaknya yang terus bertumbuh dan butuh berkenalan dengan dunia yang luas seperti kupu-kupu. Mak pun mengabulkan keinginan Na Willa bersekolah.

Sumber gambar, Dokumen Visinema Pictures

Keterangan gambar, Na Willa dan Mak bersepeda dengan gembira menuju sekolah

Selain Mak, kehadiran Pak juga penting. Di sini, konsep kehadiran orang tua bukan melulu seputar “ada di rumah”, melainkan mampu membangun ikatan dengan anak.

Na Willa memang sempat lupa dengan wajah Pak karena terlalu lama ditinggal berlayar, tapi seiring waktu Na Willa selalu rindu Pak. Sebab, saat bersama Pak, Na Willa bisa bermain. Pak membuatkan ayunan dan Pak memperkenalkan hal-hal baru. Saat tidak di rumah, Pak tetap hadir dengan kiriman buku-bukunya. Karena itu, tangki cinta Na Willa selalu penuh.

Isu pengasuhan yang masuk ke dalam film tanpa mencederai tujuan awal film ini diakui Ryan dibahas cukup intens dengan Reda dan dua produser, Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari.

Reda dan Anggia yang telah menjadi orang tua bisa memberikan pandangan dan alasan dari tindak tanduk ibu yang kerap khawatir dan terkadang penuh larangan. Ryan dan Novia membeberkan dari sudut pandang sebagai anak yang sering sebal karena banyak aturan dan kecemasan.

Dalam konteks Na Willa dan Mak, Ryan menjabarkan bahwa Mak baru pertama kali menjadi orang tua dan Na Willa juga baru ada di dunia.

“Dua-duanya sama-sama merasakan pengalaman pertama. Akhirnya, kita bertemu dengan satu kerangka berpikir bahwa film ini bagaimana Mak berbicara supaya Willa mau mendengar dan bagaimana Mak mau mendengar supaya Willa mau berbicara.”

Reda pun menambahkan, garis besar dalam Na Willa yang diceritakan dalam film adalah perubahan. “Problem utamanya adalah perubahan. Perubahannya Na Willa dan perubahan pada Mak.”

Seperti metamorfosis kupu-kupu yang tumbuh bertahap.

‘Kita perlu membuat suatu yang baik dan serius untuk anak’

Pada akhirnya, Na Willa menjadi tontonan yang merengkuh semua umur bahkan semua kalangan. Para Teman Tuli yang difasilitasi Silang.id pun turut merasakan kehangatan Na Willa. Dengan keberadaan closedcaption dalam film Na Willa ini, para Teman Tuli dari berbagai umur dapat menikmati.

Anisa Putri dari Silang.id berkata ada 130 orang yang ikut nonton bersama dari kapasitas 140 bangku di bioskop Blok M Plaza pada Jumat (03/04). Ia berharap semakin banyak film Indonesia yang dilengkapi closed-caption sehingga para Teman Tuli dapat mengaksesnya.

Ryan juga menyadari film untuk segala umur dan kalangan masih minim di Indonesia. Hal ini disadarinya ketika membuat Jumbo. Untuk itu, selama film anak atau film segala umur ini masih minim, Ryan akan terus bergerak di situ.

Reda juga merasa banyak karya anak perlu terus diciptakan jika anak-anak memang dianggap penting. “Kita perlu membuat sesuatu yang baik untuk anak-anak dan serius membuatnya. Jadi, tidak hanya kita bicara film genre ini sangat laku sehingga mari kita buat ini berkali-kali,” ujar Reda.

“Dan jika menganggap anak-anak penting, harusnya buat lebih banyak karya anak. Film dan juga buku anak, tidak hanya buku bergambar.”

Selepas Na Willa, Ryan mengingatkan agar anak-anak tetap berani mengeksplorasi dan tak takut jadi diri sendiri.

“Jangan takut untuk mencoba hal baru. Na Willa saja dari pisang bisa jadi suka pepaya. Para orang dewasa juga ayo jadi anak-anak lagi, bukan jadi kekanak-kanakan ya. Berani berimajinasi lagi karena banyak banget kualitas anak-anak yang sebenarnya akan membantu kehidupan dewasa kita.”

Sementara itu, Reda mengingatkan pada para orang tua untuk menghargai anak dan berhenti menjadikan anak sebagai tropi dengan dibebani berbagai pencapaian.

“Hargai mereka. Mereka punya keinginan, harapan, cita-cita, dan aspirasi. Kita harus belajar menghargai itu dan juga proses mereka. Karena anak-anak itu manusia yang lengkap.”

Sebab, besok, besok, dan besoknya lagi belum tentu begini terus. Biarkan anak menikmati hari ini, esok, dan seterusnya tanpa banyak intervensi yang menumpulkan keberanian dan imajinasi.

Lagi pula, bukan kah kita yang dewasa penuh intervensi ini juga penah jadi anak-anak?



Source link

Exit mobile version