Interesting News

China membuat Mbappé minta maaf – Tetapi mengapa banyak orang tidak benar-benar tahu apa yang ia katakan?


Pedestrians pass by an electrolyte drink advertisement for French football player Kylian Mbappé in the subway in Shanghai, China on June 30, 2026
Keterangan gambar, Para pejalan kaki melintas di depan iklan minuman elektrolit yang menampilkan pesepak bola Prancis, Kylian Mbappé, di stasiun kereta bawah tanah di Shanghai, China, pada 30 Juni 2026

Komentar sang pesepak bola tentang seorang “pemimpin China” memicu kemarahan publik, tetapi sensor yang ketat membuat banyak orang justru bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

Pada Senin malam, saat Kylian Mbappé menghadiri acara Ballon d’Or di London, ia juga tengah menjadi pusat kontroversi besar di media sosial China.

Para penggemar sepak bola menemukan sebuah cuplikan video yang memperlihatkan Mbappé bercanda mengenai meme yang disebutnya sebagai yang “paling membuatnya tertawa”.

Dalam meme tersebut, wajahnya ditempelkan pada sosok “diktator China” yang menyerupai Mao Zedong, tokoh yang memimpin salah satu periode paling berdarah dalam sejarah negara itu.

Kontroversi tersebut menyebar dengan cepat.

Sejumlah merek China memutuskan menghentikan kerja sama dengannya satu per satu, sementara China Media Group, induk penyiar televisi pemerintah CCTV, menangguhkan siaran pertandingan La Liga.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan: “Perkataan dan tindakan yang melukai perasaan rakyat China secara alami akan menghadapi penolakan bersama dari berbagai kalangan masyarakat China.”

Namun di internet China, hanya sedikit orang yang secara terang-terangan menyebutkan perkataan atau tindakan yang dipermasalahkan itu, atau bahkan menggunakan nama Mao. Tokoh tersebut masih dipandang hampir sakral di negara tersebut.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Keterangan video, LIHAT VIDEO: Penjelasan kontroversi Mbappé dan Ketua Mao.

Sistem sensor canggih di China, yang memutus akses 1,4 miliar penduduknya dari internet global, membuat banyak orang tidak mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya terjadi.

Tuduhan telah “melukai perasaan rakyat China” saja tampaknya sudah cukup untuk memicu gelombang kemarahan besar, yang diperkuat oleh algoritma media sosial dan internet yang dikontrol ketat, di mana banyak orang enggan mengambil pandangan yang berbeda dari opini mayoritas.

Tak lama kemudian, Mbappé, salah satu bintang sepak bola terbesar di dunia, menyampaikan bahwa ia “dengan tulus meminta maaf” atas komentarnya yang disebutnya sebagai “kesalahan penilaian”.

Klubnya, Real Madrid, serta operator liga sepak bola Spanyol, La Liga, juga menyampaikan permintaan maaf. China merupakan pasar yang sangat besar bagi olahraga paling populer di dunia tersebut.

Belakangan, Beijing mengonfirmasi bahwa pihaknya menanggapi permintaan maaf sang pesepak bola dengan “serius”.

Tetapi hingga kini, China Media Group belum menyatakan apakah siaran pertandingan La Liga akan kembali ditayangkan.

Meski demikian, kemarahan di dunia maya belum juga mereda.

“Permintaan maaf adalah hal paling minimal yang seharusnya dia lakukan, tetapi saya tidak memaafkannya. Saya mendukung pelarangan dirinya,” demikian bunyi salah satu komentar terpopuler di platform Weibo.

Mbappé tidak menyebut nama Mao secara langsung dalam wawancara tersebut. Namun, banyak pihak menilai bahwa lelucon apa pun yang melibatkan pendiri China komunis itu telah melewati batas.

“Apakah Anda tahu siapa yang telah Anda sakiti? Dia adalah pilar spiritual rakyat China,” demikian bunyi salah satu komentar di Weibo yang disukai lebih dari 700 pengguna.

“Dia adalah tokoh paling penting dalam sejarah kami. Apakah Anda pikir permintaan maaf sederhana bisa membuat semuanya baik-baik saja?” tulis pengguna lainnya.

Keterangan gambar, Pengguna Weibo membagikan cuplikan video tersebut dengan meme yang dikaburkan serta menghapus atau menyensor bagian-bagian yang merujuk pada Mao.

Ironisnya, di tengah gelombang kecaman yang begitu besar, banyak pengguna media sosial di China masih mempertanyakan apa sebenarnya yang dikatakan penyerang asal Prancis tersebut.

Sebagian mencoba mencari jawabannya melalui chatbot AI. Namun, karena layanan tersebut juga tunduk pada sistem sensor yang sama seperti internet China, mereka tidak memperoleh penjelasan yang jelas.

Pengguna lain berupaya memberikan konteks, tetapi menghindari penyebutan Mao secara langsung.

Sebagai gantinya, muncul berbagai penyebutan tidak langsung, seperti “orang yang wajahnya ada di uang kertas 100 yuan” atau “guru”, sebuah gelar yang pernah digunakan Mao untuk menyebut dirinya sendiri.

Tangkapan layar meme dan wawancara tersebut juga beredar luas, tetapi kata “diktator” maupun wajah Mbappé sengaja dikaburkan.

Baik pernyataan Kementerian Luar Negeri China maupun permintaan maaf yang disampaikan oleh Mbappé, Real Madrid, dan La Liga tidak secara langsung menyebut nama Mao.

Mao, yang memimpin Partai Komunis China meraih kemenangan dalam perang saudara dan kemudian mendirikan Republik Rakyat China, meninggal dunia pada 1976.

Terlepas dari gejolak selama masa pemerintahannya, termasuk Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward) dan Revolusi Kebudayaan (Cultural Revolution), yang menyebabkan kelaparan yang menewaskan puluhan juta orang serta memicu pembersihan politik yang penuh kekerasan di berbagai lapisan masyarakat, Mao tetap menjadi sosok yang sangat dihormati di China.

Statusnya yang istimewa dalam narasi resmi negara membuat kritik, sindiran, atau candaan yang dianggap menyinggung dirinya sering kali diperlakukan sebagai isu yang sangat sensitif, bahkan puluhan tahun setelah kematiannya.

Keterangan gambar, Menghina atau memfitnah para martir Partai Komunis dan pahlawan perang merupakan tindakan ilegal di China.

Sebuah potret Mao menghadap Lapangan Tiananmen di Beijing, simbol betapa sentralnya sosok tersebut dalam imajinasi China modern.

Tidak seperti para pemimpin China terdahulu lainnya, jasad Mao yang diawetkan dipajang untuk umum di lokasi tersebut dan menarik puluhan ribu pengunjung setiap hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap dirinya juga kembali meningkat di kalangan anak muda, yang membaca karya-karyanya dan menonton cuplikan video dirinya di media sosial.

Buku-buku sejarah di China umumnya mengecilkan dampak kehancuran yang terjadi selama masa pemerintahan Mao.

Posisi resmi Partai Komunis China menyatakan bahwa pencapaian Mao lebih besar daripada kesalahannya.

Dalam pandangan partai, ia adalah “seorang revolusioner besar dan seorang Marxis besar”.

Keterangan gambar, Akun media sosial Weibo milik Mbappé diblokir untuk menerima pengikut baru pada Selasa.

Namun di luar China, sejarah memandang Mao bukan hanya sebagai seorang revolusioner, tetapi juga sebagai seorang diktator.

Karena itu, reaksi dari diaspora China, termasuk para pembangkang politik dan mereka yang keluarganya meninggalkan China beberapa dekade lalu setelah masa pemerintahan Mao, sangat berbeda.

“Anda tidak perlu meminta maaf, karena Anda tidak melakukan kesalahan,” demikian bunyi salah satu komentar berbahasa China yang mendapat banyak dukungan di bawah pernyataan Mbappé di platform X.

“Yang seharusnya meminta maaf adalah PKT (Partai Komunis China); merekalah yang menyandera rakyat China dan mencuci otak mereka,” tulis pengguna lain berbahasa China.

Di platform X dan Threads, yang tidak dapat diakses secara bebas di China, kontroversi tersebut justru melahirkan lebih banyak meme.

Sebagian menampilkan wajah Mbappé pada gambar-gambar lain yang menampilkan Mao, sementara yang lain melangkah lebih jauh dengan menempatkan wajahnya pada tubuh pemimpin China saat ini, Xi Jinping.

Keterangan gambar, Perusahaan produk susu Mengniu, yang merupakan sponsor resmi Piala Dunia FIFA, memutuskan hubungan kerja sama dengan sang pesepak bola setelah gelombang kecaman tersebut mencuat.

Dan ada pula pengguna internet di luar kedua kubu tersebut yang hanya merasa kebingungan.

“Sejujurnya sulit memahami ini… Tampaknya orang-orang tidak diizinkan mengkritik para pemimpin mereka. Dan mereka berharap seluruh dunia berpikir dengan cara yang sama? Ini konyol,” demikian bunyi salah satu komentar terpopuler di bawah permintaan maaf Real Madrid di Instagram.

“Dengan beraninya Anda menyebut seorang diktator sebagai diktator? Mengerikan sekali,” tulis pengguna lain di platform X dengan nada sarkastis.





Source link

Exit mobile version