Interesting News

Bencana: Lima tewas dan 86 orang hilang, akibat kebakaran feri di Filipina – ‘Jika pertolongan datang terlambat, saya pasti sudah meninggal’


Foto feri Filipina.

Sumber gambar, Philippine Coast Guard/EPA/Shutterstock

Keterangan gambar, Foto yang dibagikan Penjaga Pantai Filipina memperlihatkan asap mengepul dari feri penumpang M/V June Aster yang terbakar di perairan lepas Coron, Provinsi Palawan, Filipina, pada 10 September 2026.

Sedikitnya lima orang tewas dan 86 lainnya masih hilang akibat kebakaran yang terjadi di kapal feri di Filipina, menurut keterangan Penjaga Pantai Filipina.

MV June Aster, yang berlayar dari Manila dengan mengangkut 117 penumpang dan 17 awak kapal, sedang mendekati tujuan akhirnya di Coron, salah satu destinasi wisata populer di negara itu, ketika kebakaran terjadi.

Api yang mulai berkobar pada Rabu (09/09) pukul 18.45 waktu setempat masih belum berhasil dipadamkan hingga Kamis (10/09) siang. Penjaga pantai menyebut arus laut yang kuat dan kepulan asap tebal menjadi tantangan utama dalam upaya pemadaman.

Juru bicara Penjaga Pantai Filipina, Komodor Naomi Cayabyab, mengatakan asap masih terlihat mengepul dari kapal.

Dia juga memperlihatkan rekaman udara yang menunjukkan posisi terkini kapal, yang masih berada sekitar 14 kilometer dari Desa Turda di wilayah pesisir.

Pada insiden ini, Cayabyab menyebut bahwa terdapat 43 orang yang selamat sejauh ini.

Salah seorang penyintas mengatakan ia terombang-ambing di laut selama dua jam sebelum berhasil diselamatkan.

“Airnya sangat dingin. Jika pertolongan datang terlambat, saya pasti sudah meninggal,” kata Roland Lerma kepada BBC.

Rekaman video yang dibagikan penjaga pantai pada Rabu malam menunjukkan kapal tersebut dilalap api, sementara sejumlah penumpang dievakuasi dari laut ke perahu-perahu penyelamat.

Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, kata penjaga pantai.

Berdasarkan wawancara awal dengan para penyintas, api diduga berasal dari ruang kargo, yakni kompartemen tempat kontainer dan barang-barang disimpan. Penjaga pantai juga mencatat bahwa sebagian penumpang tidak mengenakan jaket pelampung saat insiden terjadi.

Belum diketahui berapa banyak di antara mereka yang mengalami luka-luka.

Tujuh penyintas dilarikan ke rumah sakit di Culion, pulau terdekat, yang memiliki kapasitas tempat tidur lebih banyak serta layanan kesehatan yang lebih lengkap.

Seorang petugas pertama yang menangani kejadian itu mengatakan kepada BBC bahwa ia belum pernah menyaksikan bencana sebesar ini di Coron, dan menggambarkannya sebagai peristiwa yang “sangat menyayat hati”.

“Saya salah satu orang yang mengangkat dan membawa para korban ke rumah sakit tadi malam,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa feri tersebut hanya berjarak sekitar satu jam dari tujuan akhirnya saat kebakaran terjadi.

Para penyintas kemudian dibawa ke pusat evakuasi di Barangay Turda, yang berada di sebelah utara Marcilla. Namun, kondisi luka-luka yang mereka alami masih belum diketahui secara pasti.

Sumber gambar, Philippine Coast Guard

Keterangan gambar, Kebakaran terjadi saat kapal itu mendekati tujuan akhirnya di Coron, Palawan, salah satu destinasi wisata populer di Filipina.

Di antara warga yang menanti kabar anggota keluarganya adalah Anelyn Magbanua.

Suaminya, Marlon, baru saja menghabiskan beberapa hari di Manila untuk mengunjungi dua anak mereka yang sedang bersekolah di ibu kota.

Magbanua mengatakan kepada BBC bahwa komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi saat feri melintasi sebuah desa yang berjarak sekitar dua jam dari Pelabuhan Coron.

“Saya memperkirakan feri itu akan tiba di dermaga antara pukul 18.00 hingga 19.00 kemarin,” katanya. Ia menambahkan bahwa dirinya sempat tidur lebih awal, tetapi kemudian dibangunkan oleh sepupunya yang memberi tahu bahwa feri yang ditumpangi Marlon terbakar.

“Saya tidak bisa menggambarkan apa yang saya rasakan saat ini. Sejak tadi malam saya terus menangis dan berdoa,” kata Magbanua.

Ia telah mendatangi sebuah rumah sakit di Coron dengan harapan menemukan Marlon di antara para penyintas. Namun hingga kini keberadaan suaminya masih belum diketahui.

“Saya dan anak saya yang berusia dua tahun sedang berada di luar rumah sakit saat ini. Kami hanya memiliki satu sama lain,” ujarnya.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Video yang dirilis penjaga pantai memperlihatkan kapal itu terbakar hebat dan dikelilingi kobaran api.

Rai Garcia mengatakan tiga sahabat keluarganya termasuk di antara para penumpang yang masih hilang.

Salah satunya adalah Mae Lorraine Galera-Navoa, adik dari ipar Garcia, yang sebelumnya pergi ke Pulau Luzon untuk menghadiri pemakaman ayahnya. Ia bepergian bersama suaminya, Elyzer Navoa, dan putri mereka yang berusia tiga tahun, Hiraya Joy.

Keluarga kecil itu sedang dalam perjalanan pulang ke El Nido, Palawan, dengan menumpang feri tersebut ketika kebakaran terjadi.

“Kami belum menerima kabar apa pun hingga sekarang. Karena itu kami harus meninggalkan komentar di unggahan berita lokal hanya untuk mendapatkan informasi terbaru,” kata Garcia.

“Kami masih berharap dan berdoa agar mereka selamat.”

Garcia dan keluarganya bahkan membuat poster berisi permohonan informasi mengenai keberadaan keluarga tersebut. Poster itu menggunakan foto yang diambil Mae di atas feri dan sempat dibagikannya kepada kerabat dekat sebelum insiden terjadi.

Di media sosial, keluarga lain yang kehilangan kontak dengan anggota keluarganya juga membanjiri halaman Facebook Penjaga Pantai Filipina dengan permintaan bantuan.

“Tolong temukan saudara saya,” tulis salah satu komentar.

Kecelakaan laut merupakan hal yang tidak jarang terjadi di Filipina, negara kepulauan yang terdiri atas sekitar 7.100 pulau.

Feri antarpulau menjadi sarana transportasi yang relatif murah untuk mengangkut penumpang maupun barang di antara pulau-pulau, terutama ke wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur udara.

Namun, moda transportasi ini selalu menghadapi risiko cuaca buruk, hujan monsun, dan topan yang dapat memicu kondisi laut berbahaya. Filipina rata-rata dilanda sekitar 20 topan setiap tahun.

Sejumlah kecelakaan maritim pada masa lalu juga dikaitkan dengan buruknya perawatan kapal dan lemahnya penegakan aturan keselamatan.

Pada 2023, sedikitnya 31 orang tewas setelah kebakaran melanda sebuah feri penumpang di bagian barat daya Filipina. Saat itu, MV Lady Mary Joy 3 sedang berlayar dari Kota Zamboanga menuju Pulau Basilan, ketika api tiba-tiba berkobar di atas kapal.

Dengan 86 orang yang hingga kini masih belum ditemukan, tragedi feri MV June Aster berpotensi menjadi salah satu bencana maritim terburuk yang terjadi di Filipina dalam beberapa tahun terakhir.

Joel Guinto turut berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.



Source link

Exit mobile version