Interesting News

Anggota parlemen Australia ditabrak, apa saja fakta yang sudah diketahui?


Australia
Keterangan gambar, Anggota parlemen Australia, Helen Haines.

Telah diterbitkan

Waktu membaca: 3 menit

Anggota parlemen Australia, Helen Haines, ditabrak mobil di luar kantornya, Senin (19/10). Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyebut kejadian tersebut sebagai serangan, tapi kepolisian masih mengumpulkan berbagai fakta terkait kasus ini.

Saat peristiwa itu terjadi, Helen dilaporkan sedang berada di tempat parkir, di dekat kantor regionalnya di Wangaratta, Victoria. Kendaraan berpenggerak empat roda 4×4 lalu terlihat menghantam dirinya.

“Ini bukan kecelakaan. Tampaknya ini merupakan tindakan yang disengaja,” ujar Anthony Albanese membuat tuduhan, dalam program televisi ABC.

“Kami tentu berharap ada kabar baik mengenai kondisi Helen dalam 24 jam ke depan,” tuturnya.

Kepolisian antiterorisme, kata Albanese, akan menelusuri terduga pelaku untuk mengungkap motif peristiwa tersebut.

Dalam keterangan Kepolisian Victoria, terduga pelaku merupakan seorang laki-laki berumur 43 tahun. Polisi mengklaim menemukan senjata di dalam mobil yang digunakan untuk menabrak Helen.

“Diketahui bahwa sebuah mobil Toyota Landcruiser berwarna putih menabrak perempuan berusia 65 tahun di luar sebuah kantor di Murphy Street sekitar pukul 15.35 waktu setempat.

“Saat keluar dari mobil Toyota tersebut, pengemudi—seorang laki-laki berusia 43 tahun asal Tarrawingee—ditangkap di tempat kejadian oleh seorang pejalan kaki. Dia akan dimintai keterangan terkait insiden tersebut,” demikian pernyataan Kepolisian Victoria.

“Sebuah pisau ditemukan oleh polisi dan disita dari dalam mobil Toyota tersebut.

“Pada tahap ini, polisi sedang menyelidiki apakah ini merupakan tindakan yang disengaja. Belum diketahui apakah kedua pihak saling mengenal,” begitu pernyataan Kepolisian Victoria.

Siapa anggota Parlemen yang ditabrak?

Helen Haines adalah anggota parlemen independen berusia 65 tahun. Dia mewakili daerah pemilihan Indi di Victoria, Australia Tenggara.

Helen pertama kali terpilih sebagai anggota parlemen Australia pada 2019. Dia lantas terpilih kembali pada 2022 dan 2025.

Sebelum terjun ke dunia politik, Helen bekerja sebagai perawat, bidan, dan peneliti kesehatan masyarakat. Dia telah menerbitkan beberapa makalah penelitian tentang kesehatan ibu.

PM Australia hampir menangis di TV

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, tampak terharu saat berbicara tentang Helen Haines dalam wawancara langsung di acara televisi ABC.

Albanese tampak hampir menangis ketika ditanya apakah dia dan rekan-rekannya saling membicarakan ancaman dan risiko yang mereka hadapi.

“Kekhawatiran saya saat ini adalah, pertama-tama, terhadap salah satu rekan saya,” kata Albanese.

Albanese menyebut Helen Haines sebagai sosok yang memiliki integritas.

“Dia adalah seseorang yang sangat bersemangat dalam memperjuangkan komunitasnya. Dia adalah seseorang yang tidak segan-segan bersuara mengenai apa yang menurutnya dibutuhkan oleh komunitas tersebut,” ujarnya.

Keterangan gambar, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese.

Albanese berkata, “Saya tidak ingin melihat sistem politik di mana kita tidak bisa berbincang dengan orang-orang di swalayan, di jalanan, dalam pertemuan warga, atau di forum publik.

“Itulah bagian penting dari demokrasi kita (Australia).

Menurut Albanese, perpolitikan Australia belakangan semakin tegang—walau dia tidak secara spesifik mengaitkan peristiwa yang dialami Helen dengan ketegangan tersebut.

“Saya rasa ketegangan telah meningkat. Dan terlalu banyak protes, tapi tidak ada cukup diskusi. Tidak cukup percakapan yang sopan dan perbedaan pendapat,” ujarnya.

“Dalam demokrasi, kita seharusnya bisa melakukan diskusi, debat politik, menyampaikan pandangan yang berbeda, tetapi melakukannya dengan cara yang saling menghormati,” kata Albanese.

Apa kata oposisi pemerintah?

Pemimpin oposisi pemerintah Australia, Angus Taylor, mengatakan bahwa dia sangat sedih dan terkejut atas peristiwa yang dialami Helen.

“Saya mendoakan Helen dan memikirkan keluarganya serta orang-orang yang dicintainya. Ini adalah hari yang mengejutkan bagi bangsa kita. Tak seorang pun seharusnya menjadi sasaran serangan seperti ini,” ujarnya.

“Warga Australia pasti akan marah dan merasa ngeri atas serangan terhadap Helen di luar kantor daerah pemilihannya di Wangaratta.

“Negara kita tidak boleh menjadi tempat di mana serangan kekerasan dianggap sebagai hal yang biasa,” kata Taylor.

Taylor mengatakan, dia telah berbicara dengan PM Australia, Anthony Albanese.

“Kami bersatu dalam pandangan bahwa kekerasan politik tidak boleh diterima sebagai bagian dari kehidupan publik,” ujarnya.

“Saya berharap Helen, keluarganya, dan masyarakat di seluruh wilayah timur laut Victoria mengetahui bahwa warga Australia di seluruh negeri memikirkan mereka dan mendoakan mereka selama masa yang sangat sulit ini.”

Artikel ini akan terus diperbarui



Source link

Exit mobile version