Sumber gambar, Tim Robberts/Lajst/ FG Trade/Ian.CuiYi via Getty Images
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 7 menit
Mulai dari meredakan kecemasan hingga menurunkan tekanan darah, menghabiskan waktu di alam terbuka telah terbukti membawa berbagai manfaat bagi tubuh dan pikiran. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa respons setiap orang ternyata tidak selalu sama.
Seberapa sering Anda melangkah ke luar rumah dan menyatu dengan alam?
Berbagai studi membuktikan bahwa terhubung dengan lingkungan alam mampu memberikan sejumlah manfaat positif, mulai dari mengurangi gejala depresi dan kecemasan hingga menurunkan tekanan darah.
Dan, banyak dari kita pun mengakui merasa jauh lebih segar dan tenang setelah berjalan-jalan di alam terbuka.
Namun, dari mana sebenarnya keterikatan kita terhadap alam ini berasal? Serta, mampukah semua orang merasakan manfaat yang sama?
Alam sebagai obat
Manfaat alam bagi kesehatan sebenarnya bukan hal baru di dunia medis.
Pada dekade 1980-an, sebuah studi menemukan bahwa pasien pasca-operasi kantung empedu rata-rata dapat pulih dan pulang sehari lebih cepat jika jendela kamar rawat mereka menghadap ke pepohonan.
Sebaliknya, pasien yang hanya melihat dinding bata membutuhkan obat pereda nyeri berdosis lebih tinggi, serta lebih sering mendapatkan catatan negatif dari perawat—seperti “gelisah, menangis”, atau “butuh banyak dorongan moral”.
Kini, sejumlah rumah sakit dan pusat medis mulai menerapkan konsep itu lebih luas.
Salah satunya adalah lembaga amal kanker Maggie’s yang mengoperasikan pusat kesehatan di UK, Hong Kong, hingga Jepang.
Dr. Robin Muir, psikolog klinis sekaligus kepala pusat Maggie’s di Manchester, UK, menjelaskan dalam siniar BBC Why Do We Do That bahwa gedung mereka dikelilingi taman 360 derajat dengan jendela kaca setinggi dari lantai hingga langit atap.
Tujuannya untuk membawa suasana alam ke dalam ruangan. Hal ini membantu pengunjung merasa tenang dan tetap terhubung dengan dunia luar.
“Kota-kota modern terkadang minim lingkungan alami, satwa liar, dan area hijau,” ujar Muir.
Bagi seseorang yang sedang menjalani pengobatan kanker, “kehadiran taman dan alam memberikan efek yang sangat terapeutik.”

Manfaat itu juga tidak terbatas pada fasilitas kesehatan.
Sebuah penelitian oleh Lembaga Pemasyarakatan Snake River di Oregon AS, menemukan bahwa narapidana yang menonton video alam tiga hingga empat kali seminggu mencatatkan penurunan tingkat pelanggaran kekerasan sebesar 26%.
Angka itu setara dengan berkurangnya 13 insiden kekerasan dalam setahun.
Bagaimana alam mengubah kita
Sebuah gagasan bernama hipotesis biofilia (biophilia hypothesis) mengemukakan bahwa manusia memiliki dorongan dan naluri untuk dekat dengan alam karena nenek moyang kita berevolusi di alam liar.
Ahli biologi Edward O. Wilson pada tahun 1980-an mengemukakan bahwa dorongan itu sudah tertanam dalam gen kita.
Meski studi terhadap anak kembar mengindikasikan adanya komponen genetik, hingga saat ini ilmuwan belum menemukan gen atau kelompok gen spesifik yang secara langsung memicu rasa cinta pada alam.
Namun, para ilmuwan memiliki beberapa penjelasan tentang bagaimana alam memengaruhi tubuh dan pikiran kita secara fisiologis maupun kognitif.
Gregory Bratman, associate professor sekaligus direktur Environment and Wellbeing Lab di University of Washington, AS, memaparkan dua teori utama:
- Hipotesis Pengurangan Stres (Stress Reduction Hypothesis)
Teori ini menyebutkan bahwa lingkungan alami memicu perubahan fisiologis dalam tubuh manuisia yang menurunkan tingkat stres.
Hal itu terlihat dari aktifnya sistem saraf parasimpatis—yaitu mode “istirahat (rest) dan pencernaan (digest)” tubuh yang ditandai dengan penurunan detak jantung.
Menurut Bratman, kontak dengan alam dapat membantu kita untuk mempersiapkan diri sebelum menghadapi kejadian bertekanan tinggi, meredakan reaksi stres saat kejadian berlangsung, sekaligus mempercepat pemulihan setelahnya.
Sumber gambar, Francesco Riccardo Iacomino via Getty Images
- Teori Pemulihan Perhatian (Attention Restoration Theory)
Teori ini berargumen bahwa alam membantu membangun kembali kapasitas otak dalam menghalau gangguan dan berfokus pada sesuatu—yang disebut sebagai perhatian terarah (directed attention).
“Lingkungan perkotaan cenderung penuh dengan gangguan—menghindari kendaraan, lalu lintas, suara bising,” kata Bratman.
“Dan hal ini menguras perhatian terarah kita.”
Sebaliknya, lingkungan alam mengaktifkan perhatian tidak langsung (indirect attention).
“Ada perasaan terlepas dari rutinitas dan merasa cocok dengan lingkungan itu. Ketika aspek perhatian ini aktif, perhatian terarah kita mendapatkan kesempatan untuk memulihkan energinya,” lanjutnya.
Dalam penelitiannya sendiri, Bratman menemukan adanya peningkatan kapasitas memori kerja pada orang yang berjalan kaki di area alam selama 50 menit dibandingkan mereka yang berjalan di area perkotaan.
Selain mengalami penurunan kecemasan, pejalan kaki di alam itu juga berkinerja lebih baik dalam ujian mengingat deretan huruf acak sambil menyelesaikan persamaan matematika.
Mereka “mampu mengingat rata-rata sembilan hingga 10 huruf lebih banyak, sementara kelompok yang berjalan di area kota cenderung tidak mengalami perubahan.”
Sumber gambar, Patchareeporn Sakoolchai via Getty Images
Bratman menilai alam memengaruhi kita melalui pengurangan stres sekaligus pemulihan perhatian dan kedua mekanisme itu bisa bekerja secara bersamaan.
“Saya rasa keduanya tidak saling meniadakan,” tuturnya.
Hamparan hijau atau gurun?
Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa setiap orang tidak merasakan dampak alam dengan cara yang sama.
Dalam sebuah penelitian di Jepang, para peneliti membandingkan pria muda yang menghabiskan waktu di hutan dengan mereka yang berada di lingkungan perkotaan.
Sekitar 80% dari mereka yang di hutan menunjukkan peningkatan salah satu aktivitas saraf parasimpatis, namun 20% sisanya justru mengalami penurunan.
Bratman menyebutkan bahwa fokus riset kini mulai beralih pada bagaimana jenis alam yang berbeda memberikan dampak yang berbeda pula pada tiap individu.
Dia merujuk pada penelitian bersama koleganya di El Paso, Texas.
Para peserta dihadapkan pada tantangan yang memicu stres, lalu diberikan pada salah satu dari tiga lingkungan melalui virtual reality (VR): pemandangan hijau, pemandangan gurun, dan ruang kantor sebagai kontrol.
“Awalnya kami berhipotesis bahwa lingkungan hijau akan memberikan manfaat paling besar berdasarkan teori psiko-evolusi.”
“Bahwa area hijau mengaktifkan sistem pemulihan (mode istirahat dan pencernaan) di tubuh karena menyediakan indikator keberadaan air, makanan, dan tempat berlindung dari pemangsa,” jelas Bratman.
Di luar dugaan mereka, pemandangan gurun ternyata memicu tingkat pemulihan stres yang setara.
Sumber gambar, George Pachantouris/Marco Bottigelli via Getty Images
Para peneliti tidak tahu pasti dan mereka menduga hal itu berkaitan dengan latar belakang peserta di El Paso yang merupakan kota beriklim gurun, sehingga mereka merasa “lebih aman dan familiar dengan lanskap gurun itu.”
Bratman menduga bahwa pengalaman hidup dan preferensi pribadi seseorang kemungkinan besar membentuk respons manusia terhadap alam.
“Apakah saya merasa diterima di sini? Apa kenangan saya tentang tempat atau jenis alam ini? Hal-hal tersebut memegang peranan yang sangat krusial,” tegas Bratman.
‘Paparan berulang’
Terlepas dari respons berbeda di masing-masing individu, bukti riset yang terus berkembang menguatkan bahwa interaksi dengan alam membawa dampak positif bagi kesehatan pada sebagian besar orang.
Data PBB menunjukkan lebih dari 80% populasi dunia kini tinggal di kawasan perkotaan. Oleh karena itu, Bratman menekankan pentingnya membuka akses terhadap ruang hijau bagi semua orang, terutama anak-anak di lingkungan sekolah maupun pemukiman.
Mungkin kita tidak selalu merasa ingin keluar rumah untuk sekadar berjalan kaki. Namun, Bratman mengingatkan: “Meskipun pergeseran suasana hati atau pola pikir tergolong kecil, efeknya akan terakumulasi dari waktu ke waktu.”
“Paparan berulang yang dilakukan selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun, pada akhirnya berpotensi memberikan perubahan yang sangat signifikan bagi kesehatan mental kita.”
Berdasarkan salah satu episode Why Do We Do That di BBC Sounds. Liputan tambahan oleh Catherine Heathwood.