Sumber gambar, Robertus Pudyanto/FIFA via Getty Images
-
- Penulis, Simon Stone
- Peranan, Reporter utama sepak bola
- Penulis, Jack Skelton
- Peranan, Jurnalis senior BBC Sport
-
Telah diterbitkan
-
Waktu membaca: 8 menit
Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI Erick Thohir mendukung rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjual sebagian kepemilikan hak komersial turnamen-turnamen FIFA kepada investor swasta.
Padahal, proposal yang menurut FIFA dapat menghasilkan miliaran dolar untuk pengembangan sepak bola dunia itu tengah memicu penolakan keras dari asosiasi sepak bola Eropa dan berbagai asosiasi sepak bola dari seluruh dunia.
Sebanyak 55 asosiasi anggota UEFA telah sepakat memboikot Piala Dunia dan seluruh kompetisi FIFA apabila rencana tersebut disetujui.
Concacaf, konfederasi yang membawahi sepak bola di Amerika Utara dan Amerika Tengah serta menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun ini, juga mengatakan 41 asosiasi anggotanya telah “menolak” proposal Infantino setelah menggelar pertemuan pada Kamis (30/07).
Penolakan ini muncul setelah FIFA mengumumkan rencana pembentukan perusahaan baru yang akan mengelola aset-aset komersial miliknya, termasuk Piala Dunia.
Sementara banyak federasi di Eropa menilai langkah FIFA sebagai ancaman bagi masa depan sepak bola, Erick Thohir menyebut rencana ini sebagai peluang bagi negara-negara berkembang untuk memperoleh pendanaan tambahan.
Lalu, mengapa rencana ini begitu kontroversial?
Apa detail dari rencana Infantino?
FIFA ingin membentuk anak perusahaan komersial untuk mengelola ajang-ajang utamanya, termasuk Piala Dunia, dengan investor eksternal dapat membeli sebagian kepemilikan di dalamnya.
Badan sepak bola dunia itu mengatakan akan “mengundang pihak ketiga untuk melakukan investasi minoritas yang tidak memberikan kendali” dalam anak perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Proposal tersebut harus disetujui melalui pemungutan suara oleh 211 anggota FIFA.
Sumber gambar, Chris Brunskill/Fantasista/Getty Images
Infantino membutuhkan setidaknya 106 suara agar proposal itu lolos. Anggota UEFA dan Concacaf secara gabungan berjumlah 96 asosiasi dan tampaknya siap memberikan suara penolakan.
Infantino telah menulis kepada anggota FIFA dan mengatakan mereka akan menerima US$40 juta (Rp722,92 miliar) jika mendukung proposal kontroversial tersebut.
Ia menetapkan tenggat waktu 19 September bagi federasi untuk menerima rencananya jika ingin memperoleh pencairan awal sebesar US$20 juta (Rp361,46 miliar).
Dalam video yang dirilis FIFA pada Rabu (29/07), Infantino membela rencana tersebut dan menyebutnya sebagai “sebuah tawaran, bukan kewajiban”.
Jika persetujuan diberikan, FIFA mengatakan Thrive Eternal diperkirakan akan memimpin kelompok investor yang diusulkan untuk FFE.
Thrive merupakan perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat yang didirikan Joshua Kushner, saudara dari Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump.
Sumber FIFA mengatakan kepada BBC Sport bahwa tidak pernah ada pembahasan mengenai kemungkinan Infantino, atau siapa pun, menjadi kepala eksekutif FFE.
Gedung Putih mengatakan mereka “tidak memiliki apa pun” untuk disampaikan mengenai proposal Infantino “saat ini”.
Mengapa Erick Thohir mendukung rencana Infantino?
Di tengah gelombang penolakan terhadap rencana tersebut, Ketua Umum PSSI Erick Thohir justru menyatakan dukungannya.
Dalam wawancara dengan Sky News, Erick mengatakan dana yang dihasilkan dari proyek itu dapat membantu negara-negara berkembang meningkatkan kualitas sepak bola mereka.
“Sepak bola Indonesia telah bertransformasi dalam tiga tahun terakhir. Kami telah melakukan pembenahan,” kata Erick, seperti dikutip dari Sky News pada Jumat (31/07).
“Peringkat tim nasional naik dari 174 ke 118. Untuk melanjutkan transformasi ini, kami membutuhkan pendanaan.”
Sumber gambar, Aurelien Meunier/FIFA via Getty Images
Erick juga mengingatkan bahwa tahun 2025 lalu, PSSI dan FIFA menandatangani kesepakatan pembentukan FIFA Hub di Jakarta, yang disebut sebagai langkah penting bagi perkembangan sepak bola Asia Tenggara dan Asia Timur.
Erick, yang juga pemilik klub Liga Inggris, Oxford United, juga menilai model yang melibatkan investasi dan kepentingan komersial bukanlah hal baru dalam dunia sepak bola.
“Jika anggota FIFA menyetujuinya, itu menunjukkan memang ada kebutuhan agar kesepakatan ini terlaksana,” ujarnya.
Mengapa UEFA mengancam boikot?
Keputusan untuk memboikot diambil dalam pertemuan darurat yang digelar untuk membahas proposal FIFA tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis setelah pertemuan virtual yang dipimpin Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, pada Kamis (30/07), UEFA mengatakan bahwa mereka dan 55 asosiasi anggotanya “berdiri sebagai satu kesatuan”.
“Kami secara bulat dan tanpa keraguan menolak proposal FIFA untuk mengalihkan kepemilikan atas Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta,” kata UEFA.
Sumber gambar, Getty Images
Pada Rabu (29/07), UEFA menuduh FIFA menggunakan sepak bola untuk “memperkaya diri mereka sendiri dan teman-teman mereka”.
Pernyataan UEFA pada Kamis bahkan lebih keras. UEFA menyebut “tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dipertahankan” bahwa proposal yang begitu penting bagi sepak bola itu disusun secara rahasia dan “tanpa konsultasi yang berarti” dengan pihak-pihak yang mengelola olahraga tersebut.
“Ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan yang mendalam, tetapi juga pengabaian tanggung jawab FIFA sebagai penjaga sepak bola dunia.
“Asosiasi nasional di seluruh dunia kini dihadapkan pada sebuah ultimatum: menerima pengambilalihan permanen atas kompetisi terbesar dalam sepak bola atau menanggung konsekuensinya,” kata UEFA dalam sebuah pernyataan.
“Ini bukan sebuah ‘keputusan demokratis’, melainkan tata kelola melalui intimidasi, sebuah tindakan pemaksaan yang tidak layak dilakukan oleh institusi yang dipercaya mengelola permainan global ini.”
UEFA sebelumnya juga menyatakan, Piala Dunia “tidak dapat diperlakukan sebagai produk investasi”.
“Ini adalah salah satu warisan olahraga terbesar dalam sepak bola. Warisan itu dibangun lintas generasi oleh para pemain, tim nasional, dan pendukung di setiap benua. Tidak ada bagian darinya yang boleh diserahkan kepada investor swasta. Piala Dunia tidak untuk dijual,” bunyi pernyataan UEFA.
Seberapa besar dampak ancaman boikot Ini?
Boikot UEFA akan mencakup seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia pria, Piala Dunia wanita, dan Piala Dunia antarklub.
Boikot itu akan diberlakukan apabila proposal Gianni Infantino disetujui oleh asosiasi-asosiasi anggota FIFA.
Ujian pertama atas sikap tersebut pada level turnamen senior diperkirakan terjadi pada Oktober 2026, ketika play-off Piala Dunia Wanita dijadwalkan berlangsung.
Walaupun UEFA hanya mencakup sekitar seperempat dari anggota FIFA, organisasi itu menaungi sebagian besar tim sepak bola paling sukses di dunia.
Enam dari delapan perempat finalis Piala Dunia musim panas ini berasal dari Eropa, termasuk juara Spanyol. Pada edisi 2022 dan 2018, jumlah tersebut masing-masing lima dan enam negara.
Sumber gambar, Getty Images
Dari 23 Piala Dunia yang telah digelar hingga saat ini, 13 dimenangi negara-negara Eropa. Sepuluh lainnya dimenangi negara-negara Amerika Selatan.
Wakil Presiden UEFA Laura McAllister mengatakan proposal FIFA menimbulkan “ancaman eksistensial yang nyata terhadap permainan ini”.
Mantan pemain tim nasional Wales itu mengatakan kepada BBC Radio Wales bahwa ia berharap boikot tidak akan terjadi.
“Saya optimistis itu tidak akan terjadi, karena kenyataannya pusat kekuatan sepak bola dunia adalah Eropa,” kata McAllister.
Berbicara dalam program PM di Radio 4, McAllister juga mengatakan terdapat “persatuan yang nyata” di antara anggota UEFA dan “konsensus yang mudah” mengenai perlunya mengambil tindakan sekuat mungkin mengingat ancaman yang ditimbulkan proposal FIFA.
“Kenyataannya kami tidak memiliki pilihan selain mengeluarkan ancaman yang sepadan dengan proposal mengerikan dan katastrofik ini, yang dipaksakan tanpa uji kelayakan, tanpa tata kelola yang layak, dan tanpa konsultasi,” katanya.
Bagaimana respons pihak-pihak lain selain UEFA?
Juru bicara Football Association (FA) Inggris mengatakan negaranya berdiri “bahu membahu” dengan rekan-rekan Eropanya dan “sepenuhnya mendukung pandangan kolektif tersebut”.
“Kami menentang rencana FIFA. Piala Dunia FIFA adalah milik sepak bola, dan akan selalu demikian,” katanya.
Asosiasi Sepak Bola Skotlandia juga menyatakan dukungannya terhadap UEFA.
Mereka mengatakan bahwa dewan organisasinya “sepenuhnya sepakat” dengan kekhawatiran yang disampaikan seluruh anggota mengenai cara proposal tersebut diajukan serta tenggat waktu yang ditetapkan tanpa proses konsultasi penuh ataupun pertimbangan tata kelola yang baik.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Skotlandia Mike Mulraney juga menjabat sebagai ketua komite keuangan FIFA.
Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy juga turut menyampaikan responsnya.
“Ini adalah keputusan yang berdasarkan prinsip dan kami mendukungnya sepenuhnya. Sepak bola milik para penggemar, bukan investor miliarder. Sudah cukup. Saatnya mengambil sikap untuk melindungi permainan kita,” katanya.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham juga mengkritik proposal tersebut pada Selasa dan mengatakan bahwa jika rencana itu diteruskan, FIFA telah “menjual dirinya”.
Direktur Eksekutif Football Supporters’ Europe, Ronan Evain, mengatakan kepada BBC bahwa sikap UEFA “sangat mengesankan” dan merupakan “demonstrasi kekuatan yang sesungguhnya”.
“Inilah respons yang dibutuhkan sepak bola. Inilah respons yang pantas diterima Gianni Infantino.”
Bagaimana reaksi dari asosiasi sepak bola Amerika Utara, Asia, dan Afrika?
Penolakan terhadap proposal FIFA tidak hanya datang dari Eropa.
Concacaf, konfederasi sepak bola yang membawahi negara-negara Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia, mengatakan 41 asosiasi anggotanya telah “menolak” proposal yang diajukan Infantino setelah menggelar pertemuan pada Kamis.
Berbagai sumber menyebut negara-negara anggota Concacaf juga mulai kehilangan kepercayaan terhadap Infantino.
Concacaf menyatakan para anggotanya menyampaikan “kekhawatiran mendalam mengenai tidak adanya prosedur yang semestinya” dalam penyusunan proposal tersebut dan adanya “tenggat waktu yang secara artifisial dibuat sangat singkat”.
Mereka juga mempertanyakan perlunya investasi swasta setelah terselenggaranya Piala Dunia yang disebut FIFA sebagai yang paling menguntungkan dalam sejarah.
Concacaf menambahkan bahwa mereka telah meminta anggota Dewan FIFA dari kawasan tersebut untuk berunding dengan badan sepak bola dunia itu mengenai cara menggunakan cadangan dana yang sudah ada untuk mendukung pengembangan sepak bola di kawasan mereka, serta menginstruksikan Infantino agar memastikan proses tata kelola yang semestinya dijalankan.
Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengatakan mereka “kecewa” karena tidak dikonsultasikan sebelum rencana tersebut diumumkan ke publik.
Di sisi lain, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengatakan presidennya, Dr Patrice Motsepe, akan menggelar pertemuan komite eksekutif pekan depan untuk “menilai dan mengevaluasi” proposal tersebut.
World Leagues Association (WLA) meminta FIFA menarik kembali proyek tersebut, dan Liga Primer Inggris, yang merupakan anggota WLA, mengatakan mereka “sepenuh hati mendukung” pandangan tersebut.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Pada tahap ini, masih banyak hal yang belum diketahui.
FIFA telah dimintai tanggapan atas pernyataan UEFA. Namun, FIFA dan Infantino belum memberikan respons.
Belum diketahui pula apa implikasinya terhadap Piala Dunia Wanita U-20 yang akan digelar di Polandia mulai 5 September, sebelum tenggat waktu 19 September yang ditetapkan FIFA bagi asosiasi yang ingin mengklaim pembayaran awal sebesar 20 juta dolar AS mulai 1 Januari.
Dampak perkembangan terbaru ini terhadap target FIFA untuk menerima gelombang pertama dana investasi swasta sebelum akhir Oktober juga belum diketahui.
“Saya pikir kali ini Infantino harus mundur,” kata mantan Ketua FA Inggris David Bernstein kepada BBC Sport.
“Kesepakatan ini tidak dapat diterima. Jika mereka ingin menghimpun modal, ada cara lain yang lebih baik untuk melakukannya.
“Dalam organisasi yang normal, jika seseorang harus mundur dari sesuatu yang sebesar ini, kemungkinan besar ia akan disingkirkan.
“Tetapi FIFA bukan organisasi yang normal. Jika ia mendapat dukungan dari cukup banyak asosiasi nasional, ia akan tetap bertahan.”
Tanpa adanya penyelesaian, UEFA bisa berada di luar struktur tata kelola sepak bola global.
Namun Bernstein tidak yakin situasi akan berkembang sejauh itu.
“Saya tidak percaya dalam jangka panjang akan terjadi perpecahan karena itu akan menjadi situasi kalah-kalah bagi semua pihak. FIFA tidak mampu menggelar kompetisi tanpa negara-negara Eropa, dan terus terang, Eropa juga tidak benar-benar mampu berada di luar sistem tersebut,” katanya.